CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 67


__ADS_3

Wajah sedih dengan mata bengkak, tidak bisa Nilam tutupi, meski Amanda sudah membantunya mengunakan beberapa make up untuk menyamarkannya.


"Kamu yakin hendak berangkat kerja Lam? Bisa?"


"Aku nggak lagi sakit Nda ..." Dengus Nilam. Sudah berapa kali sahabatnya itu menanyakan hal yang sama sejak dirinya bersiap?


"Kan kamu sendiri yang bilang, kalau aku nggak bisa terus fokus dengan luka aku. Sekarang kamu suruh aku dieeem di kostan sendiri. Itu sama aja kamu minta aku untuk bergumul dengan masalah yang menimpaku ...."


Amanda tersenyum kecut mendengar ucapan Nilam.


"Ok, kita berangkat sekarang." Ucap Amanda akhirnya.


Mereka berdua pun melanjutkan aktifitas seperti biasa.


Namun ada hal berbeda yang dirasa nilam ketika memasuki ruangan sang majikan.


"Permisi ...."


Ucapnya, saat menyadari bukan sang majikan yang ada di ruangan tersebut, melainkan orang lain.


"Iya,"


"Mmm saya mau ambil uang dan nota pak,"


"Oohh, kamu kasir di depan ya?"


Nilam tersenyum menanggapi pertanyaan laki-laki yang usianya lebih muda dari sang majikan.


"Kakak saya bilang, untuk pengepul kasih nota saja dulu, bilang nanti bapak di sini yang akan langsung menransfer ke nomor rekening mereka. Untuk yang barangnya sedikit, baru nanti kita bayar tunai." Pria berkaca mata itu pun mengeluarkan uang dari brangkas dan menyerahkannya pada Nilam.


Nilam tidak lagi bertanya apa alasan majikannya, sebab memang beberapa kali tuan Wijaya melakukan hal itu.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi."


Gadis itu kembali ke tempat duduknya.


Meski suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, namun Nilam berusaha profesional dalam bekerja.


Ia ingin mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri, namun pekerjaannya hari ini tidak terlalu banyak.


Mau tidak mau, ingatannya kembali pada masalah yang belum ia temukan titik terangnya.


Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi Pandu, namun hasilnya nihil. Laki-laki itu tidak bisa dihubungi, hanya suara operator yang ramah menyapa telinga Nilam, tiap kali yang menekan nomor sang kekasih.


Bagaimana ia bisa berpikir positif? Akal sehatnya mengatakan kalau semua pesan yang ia terima benar adanya. Meski hatinya menolak untuk percaya.


Ingin ia menghubungi nomor telepon yang sudah memberinya rasa terpuruk, namun ketakutannya akan kebenaran membuat Nilam enggan membuka chat itu lagi.


Hingga suara pintu terbuka dari ruang sang majikan, menyadarkan lamunannya.


Ia dan Amanda kompak berdiri, saat pria murah senyum itu menghampiri meja mereka.


"Kita kerja setengah hari saja hari ini ya ... Selepas makan siang, gudang ditutup."


"Lho, kenapa pak?" Amanda tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Ini, ada acara keluarga. Kakak saya kan mau mantu," ucap laki-laki itu dengan senyum terkembang.


Alis keduanya mengerut, Nilam dan Amanda saling menoleh.


Yang ia tahu, laki-laki berkaca mata di depannya ini adalah adik satu-satunya dari tuan Wijaya. Selain sang majikan, tidak ada lagi kakak yang ia miliki.


"Maksudnya pak?" Kembali Amanda bertanya. Sementara Nilam, berusaha sekuat mungkin menggenggam ujung meja agar ia tidak terjatuh meski kakinya terasa lemas.


"Ini, ponakan saya kan mau lamaran ... Mendadak sih ini ... Ya sudah ya ... Saya mau siap-siap dulu. Nanti sebelum jam makan siang, saya kemari lagi."

__ADS_1


Selepas kepergian pria itu, Nilam menjatuhkan bokongnya ke atas kursi dengan sedikit keras. Pandangan mata gadis itu terlihat kosong.


"Lam ...." Amanda mendekati sang sahabat, mengelus lengannya dengan lembut, berharap bisa memberi rasa nyaman untuk Nilam.


Namun siapa yang perduli dengan rasa nyaman atau tidak, disaat hatinya hancur seperti ini?


Bahkan bila ia harus menginjak beling sekalipun, pasti ia tidak juga merasakan sakit.


"Jadi semuanya benar Nda? Dia khianati aku?" Tanpa bisa dicegah, air mata gadis itu terjun bebas melewati pipi putihnya.


"Lam ... Tahan diri kamu, malu nanti ada orang liat,"


"Aku ke toilet ya Nda ...."


Tanpa menunggu jawaban dari Amanda, Nilam bergegas meninggalkan sang sahabat, menuju toilet karyawan.


Ia melupakan segala rasa yang ada di hatinya. Sedih, kecewa, marah, semua ia keluarkan dengan menangis sejadi-jadinya.


Sengaja ia menyalakan keran air, agar rintihan lukanya tidak didengar orang lain.


Kenapa takdir membawanya pada luka seperti ini?


Pria yang sejak awal coba ia tolak kehadirannya, yang pada akhirnya ia terima karena sikap tulus dan kesabarannya, kini benar-benar telah mengecewakan hatinya.


Nilam merutuki dirinya, mengapa memberi seratus persen hatinya untuk Pandu?


Ketukan di daun pintu toilet itu, membuat Nilam sejenak menoleh.


"Lam ... Udah belum? Kita balik yuk ... Nanti di rumah kamu puasin nangis lagi."


Beberapa saat tidak ada respon dari dalam, membuat Amanda menjadi panik.


Gadis tomboy itu pun menggedor lebih keras lagi pintu berbahan triplek tersebut.


"Apaan sih Nda, kamu nggak sabaran banget," Nilam membuka pintu dengan wajah basah. Gadis itu mencuci mukanya, berharap bisa menyamarkan bekas tangisannya.


Nilam tidak menanggapi omelan sang sahabat.


"Aku takut kamu diajak ke dunia mereka, godaan setan kan luar biasa, orang baik bisa jadi jahat, yang kalem bisa bunuh diri kalau patah hati," Amanda melirik Nilam dengan ekor matanya.


"Nggak ya ... Aku nggak selemah itu."


"Syukur lah ...."


Mereka keluar dari gudang tempat mereka bekerja.


Amanda memang sahabat yang baik. Tahu kalau Nilam sedang bersedih, ia mengambil alih semua pekerjaan yang sedianya harus dikerjakan berdua. Membiarkan gadis itu menumpahkan kesedihannya, memberi ruang untuk Nilam sendiri.


Lebih dari dua jam Nilam di dalam toilet, menikmati luka hatinya.


"Kita makan dulu ya Lam ... Ke pelabuhan, mau?"


"Aku nggak laper Nda ...."


"Tapi cacing di perut kamu perlu disogok biar diem ... Tuh denger? Mereka mau demo katanya, karena sejak pagi cuman dikasi roti aja" Amanda mendekatkan telinganya ke arah perut Nilam.


"Apaan sih ...." Gadis itu memukul bahu sang sahabat dengan senyum tipis di bibirnya.


"Kan aku udah bilang ... Meski patah hati kamu juga perlu nutrisi, biar kamu bisa memikirkan solusi yang tepat untuk masalah yang sedang kamu hadapi."


Tanpa menunggu persetujuan Nilam, Amanda melajukan motornya ke tempat yang ia maksud.


***


Tenda-tenda warung sederhana menyapa kedatangan mereka. Dengan aroma lezat berbagai hidangan sea food menggoda indra penciuman.

__ADS_1


"Kamu mau pesan apa?"


"Apa aja ..."


Jawaban Nilam membuat Amanda merasa jengah. Namun begitu, ia masih tetap antusias memilih makanan apa saja yang menarik untuk mereka berdua nikmati.


"Ok, kamu tunggu di sini. Kita makan besar hari ini."


Amanda menuntun Nilam untuk duduk di salah satu warung lesehan, kemudian ia memesan makanan seorang diri.


Setelahnya, ia keluar meninggalkan warung tersebut, entah kemana.


Tidak berselang lama, pelayan warung membawa menu pesanan Amanda. Dengan tersenyum ramah, mereka menghidangkan beraneka macam makanan dan minuman.


Sup ikan, sate lilit, pepes, plecing kangkung, kacang tanah goreng, dan es jeruk tersaji di atas meja.


"Makasih ...."


Nilam memberikan senyum manis pada dua pelayan tersebut.


Gadis itu masih menunggu sang sahabat, untuk menikmati makan siang bersama.


Ia hanya meminum es jeruk yang sejak tadi menggoda tenggorokannya yang memang terasa kering sejak tadi.


Tidak berselang lama, Amanda datang dengan beberapa bungkus makanan di tangannya.


"Yaa ampuun Nda ... Banyak banget beli makanan? Emang bisa habis?"


Nilam takjub memperhatikan sahabatnya yang sibuk mengeluarkan kotak styrofoam dari dalam plastik.


"Habiiis ... Tenang aja ... Kita harus makan banyak hari ini, habis itu kita jalan-jalan."


"Tapi Nda ... Aku lagi nggak pengen ...."


"Sssttt udah ... Jangan bahas yang lain dulu. Kita makan, biar perut kenyang."


Sahut Amanda memotong ucapan Nilam.


Gadis itu pun tidak lagi berucap apapun. Menuruti apa yang diinginkan sang sahabat.


"Ini Lam ... Udang bakar, menu baru di warung pojok sana." Amanda meletakkan beberapa udang yang ukurannya cukup besar di atas piring Nilam.


"Kebanyakan Nda ... Buat kamu mana?"


"Aku udah makan tadi ..."


Gadis itu mengambil sate lilit dan menikmatinya.


Nilam mengembalikan sebagian udang tersebut ke atas piring Amanda. "Kita makan harus seimbang Nda, aku nggak mau gemuk sendiri." Ucapnya terkekeh.


Melihat senyum Nilam, Amanda merasa sedikit lega. Ia bersyukur usahanya menghibur sang sahabat tidak sia-sia.


"Ini juga Lam ... Oseng kerang asam manis."


Mengulurkan kotak Styrofoam ke arah Nilam.


"Ya ampun Nda ...."


Nilam tidak dapat berkata apapun lagi. Namun ia menghargai niatan Amanda yang ingin membuatnya bahagia.


"Habiskan semua Lam ... Habis ini, ada yang mau aku obrolin sama kamu." Ucap Amanda dengan tangan yang masih sibuk mengumpulkan sisa nasi di atas piringnya.


Amanda memerhatikan sang sahabat yang berhasil memasukkan suapan terakhir nasi itu ke dalam mulutnya.


Mendengar ucapan sang sahabat barusan, membuat na fsu makan gadis itu seketika menghilang.

__ADS_1


"Ada masalah apa lagi Nda?"


__ADS_2