
Bu Rahma meminta Nilam kembali lagi ke rumahnya untuk makan siang, baru setelah itu diijinkan pulang ke rumah orang tuanya.
Nilam tentu tidak bisa menolak permintaan calon mertuanya itu, ia hanya bisa mengangguk patuh.
Dan akhirnya di sinilah mereka kini. Duduk lesehan dengan makanan seadanya di ruang tamu, sebab ibu tiga anak itu tidak memasak menu istimewa untuk menyambut kedatangan Nilam.
"Maaf ya Lam, ibu cuman masak ini aja tadi pagi. Kamu sih, nggak bilang mau datang, jadi ibu nggak siapin apa-apa untuk kamu," ucap wanita itu ramah.
"Nggak apa-apa, Bik. Ini aja udah cukup kok," sahut Nilam dengan senyum tulusnya.
Bas yang melihat interaksi ibu dan calon istrinya, tersenyum senang. Ia berharap mereka berdua selamanya akur dan saling menyayangi.
Selain mereka berempat yang duduk melingkar beralas tikar, di ruang tamu itu juga ada Satria, adik laki-laki Bas yang baru datang. Ia juga ikut bergabung untuk menikmati makan siang yang terlambat itu.
Nilam menikmati makanannya dalam diam. Meski sudah sering bertemu, namun ia tetap saja merasa canggung berada di tengah keluarga calon suaminya.
Sementara Bas dan Satria asik berbincang soal pekerjaan dan berlanjut ke masalah hunian yang baru Bas bangun.
"Lam, tambah nasinya lagi, nak," ucap Bu Rahma saat menyadari porsi makan Nilam sangat sedikit. Piring gadis itu sudah bersih, sementara yang lain masih menikmati makannya.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Nilam. Gadis itu hanya tersenyum malu.
"Udah kenyang, Bik, tadi udah sempat makan soalnya," sahut Nilam, sedikit melirik Bas berharap laki-laki itu mau membantunya.
"Makanan ibu nggak enak ya? Mangkanya kamu nggak suka?" tanya Bu Rahma lagi.
"Enak kok, Bik, akunya aja yang udah kenyang. Kapan-kapan aku makan di sini lagi. Nanti aku habiskan masakan bibik," ucap Nilam dengan sedikit terkekeh.
"Iya Bu, kami sudah makan tadi pas di jalan," sahut Bas akhirnya. Merasa kasihan Nilam didesak oleh ibunya.
"Kalau nggak mau ya jangan dipaksa, Bu. Aneh. Dia udah besar kali!" Utari ikut berucap namun dengan kalimat ketusnya.
Suasana di ruang tamu itu mendadak berubah. Nilam merasa tidak enak hati mendengar ucapan Utari. Sementara Bas dan Satria mengeraskan rahangnya menatap tajam ke arah adik bungsu mereka.
Selera makan Bas jadi hilang. Ia meletakkan piringnya.
"Bas kok nggak dihabiskan nasinya?" tanya Bu Rahma.
"Udah kenyang, Bu," sahut Bas.
__ADS_1
Ia pamit keluar pada Nilam, untuk merokok di teras depan. Nilam hanya mengangguk.
"Mba, jangan diambil hati ia ucapan Utari," ucap Satria, setelah Bas keluar.
"Nggak pa-pa kok, Sat," sahut Nilam.
"Lho memang aku kenapa? Apa aku salah? Lagian aku ngomong fakta kok, dia kan udah besar. Masa makan aja harus diurusi?" Utari tidak terima ucapan Satria.
"Mestinya dia itu bisa menghargai ibu, mas. Udah dikasi makan, sok-sokan ngambil sedikit. Biar apa coba? Apa ibu nggak tersinggung? Kesannya kaya makanan yang ibu buat itu nggak enak."
"Utari!" Satria merasa jengah. Bukannya minta maaf, adiknya itu malah semakin menjadi. Bicara melantur sesuka hati.
"Sudah! Apa sih yang kalian ributkan? Kebiasaan berantem di depan makanan! Kalau sudah selesai, biar ibu angkat semuanya." Bu Rahma menghentikan perdebatan anak-anaknya. Wanita itu segera bangkit dan membawa tempat penghangat nasi yang ia keluarkan, kembali ke dalam dapur. Nilam pun tak tinggal diam, ia ikut membantu membawa sisa lauk yang mereka makan. Di belakangnya, Utari membawa piring kotor dan teko air yang sudah kosong.
"Enak ya jadi mba Nilam. Belum nikah aja semua udah disiapin sama mas Bas. Dibikinin rumah, dimanjain, kayanya semua maunya diturutin," ucap Utari saat mereka sudah berada di dalam dapur.
"Nggak ngerasain berjuang dari nol sama suami. Tau enak-enaknya aja nanti," lanjutnya lagi. Ia menatap Nilam dengan sinis.
Nilam hendak menjawab, namun dari arah pintu terdengar sahutan yang membungkam mulut Utari.
__ADS_1
"Memang begitu seharusnya seorang laki-laki, kalau menginginkan anak gadis orang. Harus memantaskan diri, sebab mba Nilam bukan cewek gampangan. Mas Bas pasti sudah memikirkan, hingga dia berjuang sekeras ini, pasti karena calon istrinya layak untuk mendapatkan yang terbaik. Kamu sendiri? Kenapa bisa suamimu masih begitu santai membiarkan anak dan istrinya tinggal bersama mertuanya? Dimana tanggung jawabnya sebagai laki-laki?" Satria berkata begitu pedas, menghujam hati setiap yang mendengarnya.
Nilam sampai memerah kupingnya mendengar kalimat itu. Apa kabar Utari yang menjadi sasaran sang kakak?