CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 118


__ADS_3

Nilam mendesah kecewa, karena telah melewatkan panggilan dari Baskara. Ia mencoba menghubungi nomor sang kekasih, namun sayang tidak tersambung.


Ia membuka pesan yang dikirim Baskara, yang menanyakan apakah dirinya sudah makan atau belum? Serta pesan pamitan Bas, yang akan melakukan pertemuan dengan pemilik proyek yang saat ini dikerjakannya.


"Pasti dia sudah berangkat," sesal Nilam berbicara pada dirinya sendiri.


Riwayat panggilan serta pesan itu dikirim dua puluh menit yang lalu. Saat dirinya masih berkutat dengan pakaian kotor di kamar mandi.


Setelah menyelesaikan pekerjaan menjahitnya, Nilam tidak sempat melihat ponsel. Gadis itu langsung membuat makan siang, dan bekal yang akan ia bawa ke tempat kerjanya. Setelahnya ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mencuci pakaian kotornya yang tidak terlalu banyak. Baru setelah semua pekerjaannya selesai, Nilam berniat menikmati makan siang sembari bertukar kabar dengan Bas. Namun sayang, mereka berselisih waktu makan. Sehingga niat untuk melepas rindu, harus gadis itu tahan lagi.


Ah, begini derita pejuang LDR rupanya.


Nilam akhirnya membalas pesan Bas. Meminta maaf karena dirinya tidak sempat menerima panggilan, dan beberapa pesan lain yang ia kirim dalam waktu bersamaan.


Menunggu beberapa saat, berharap Bas akan membuka pesannya, namun hingga jam kerjanya tiba, Bas belum juga online.


Nilam berangkat dengan gontai, tanpa semangat. Wajahnya bergelayut mendung, tak ada senyum yang menghias.


"Kenapa lagi, kamu?" Amanda yang ada di dalam gudang tempat biasa para SPG meletakkan barang pribadi, menatap heran sang sahabat yang baru tiba.


Nilam hanya menggeleng, menggantung tas selempang miliknya di gantungan baju yang ada, dan meletakkan kotak makannya di atas meja, bersebelahan dengan milik SPG lain.


"Tamunya rame ya, Nda?" tanya Nilam basa-basi. Melihat Amanda baru selesai mengisi perut, ia menduga sejak pagi pasti pembeli datang silih berganti.


"Lumayan."

__ADS_1


"Semoga nanti sore juga rame," ucap Nilam lagi, lalu bersiap keluar untuk memulai pekerjaan.


Karena tugas SPG pagi masih beberapa jam lagi, SPG shift siang yang baru datang tidak ikut melayani pembeli. Mereka bertugas bebersih dan merapikan pakaian yang berantakan.


Doa Nilam terkabul. Tamu terus berdatangan dari sore hingga malam. Bahkan Nilam sampai melewatkan jam makan malamnya sangking banyaknya tamu yang keluar masuk.


Butik yang berada di area pariwisata, berdekatan dengan hotel dan pantai, membuat butik itu menjadi salah satu pilihan wisatawan untuk menghabiskan uang mereka.


Pakaian yang dijual tidak pasaran, memiliki ciri khas sendiri, dengan kualitas barang yang mampu bersaing dengan pakaian import. Bahkan kelebihan butik itu adalah harga yang masih ramah untuk kantong wisatawan lokal.


Nilam melirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam 22.15. Ternyata sudah larut, pantas saja lututnya seperti bergetar. Rupanya dia melewatkan makan malamnya.


"Lam, aku duluan makan ya, perih banget perutku." Salah seorang teman kerjanya berbisik di telinga Nilam. Tamu memang sudah tidak seramai sebelumnya, hanya ada satu dua orang yang seperti tidak mengenal lelah, berkeliling dari satu toko ke toko lain, dan kini menjatuhkan pilihan masuk ke dalam butik tempat Nilam bekerja.


Perut Nilam terasa melilit, akhir-akhir ini ia terlalu sering abai dengan jam makannya, membuat maag dan asam lambungnya naik.


Ia memutuskan mampir sebentar ke salah satu mini market, sebelum kembali ke kost. Mengambil beberapa roti, dan susu uht, tidak lupa ia juga membeli obat maag, dan beberapa kebutuhan lainnya. Ia berencana mengisi perutnya dengan roti saja malam ini. Bekalnya pasti sudah tidak layak dimakan, sementara untuk membeli makanan di pinggir jalan, ia merasa sudah tidak sanggup menunggu. Lelah, ngantuk ,dan lapar bercampur menjadi satu.


Selesai membayar, Nilam memilih duduk di kursi di depan mini market. Menikmati susu dan roti yang baru saja ia beli. Matanya menatap jalanan yang masih ramai, meski sudah hampir tengah malam. Kehidupan di kota besar. Seolah tidak ada waktu untuk tidur, semua berlomba dari pagi hingga pagi lagi, entah mencari rejeki atau kesenangan semata.


Nilam begitu asik menikmati lamunannya, hingga suara teriakan dari belakang punggungnya mengejutkan gadis itu.


"AAAADUUUUH ....!" Nilam tersentak dan reflek menoleh. Seorang wanita dengan perut besar jatuh dengan posisi tengkurap tepat di depan mini market tersebut. Barang belanjaan wanita itu berhamburan di sekitarnya. Pengunjung minimarket yang kebetulan ada di dekat wanita itu segera membantu, dan begitu panik saat menyadari ada darah mengalir dari area pribadi wanita itu. Nilam yang bertubuh mungil, agak kesulitan mendekat. Ia tergeser oleh orang-orang yang semakin banyak berkerumun mengitari wanita itu.


"Cepat! Tolong telepon ambulans!"

__ADS_1


"Bantu dia untuk duduk!"


"Ada yang bawa mobil?"


"Dia pendarahan!"


Teriakan orang-orang yang berkerumun membuat jantung Nilam berdebar ketakutan.


"Ibu, ibu masih sadar? Ada yang bisa dihubungi nggak? Suaminya mungkin?" Seorang laki-laki paruh baya mencoba mengajak ibu hamil itu bicara.


Nilam yang penasaran mencoba membelah kerumunan, ia mengerutkan kening saat semakin dekat ia seperti mengenali sosok yang tengah terkulai lemah itu.


"Delvia!" ucapnya tanpa sadar.


"Anda mengenalnya?" Orang yang ada disamping Nilam menatap gadis itu.


"Ah eeee ...." Nilam bingung harus menjawab apa.


"Mbak ini mengenal wanita itu!" seru orang yang ada di samping Nilam, menarik perhatian yang lain termasuk Delvia sendiri.


"Mba tolong ke sini, bantu kami menyelamatkannya. Sudah ada mobil kah? Kenapa ambulansnya lama sekali datangnya?"


Dan tanpa Nilam rencanakan, ia mengantar Delvia ke rumah sakit, menggunakan mobil pribadi entah milik siapa. Ia memangku kepala Delvia yang sudah setengah sadar.


"To-long te-lepon Pan-du," ucap wanita itu lemah, namun Nilam masih dapat mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2