CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 90


__ADS_3

"Jadi gelisah kamu sejak kemarin itu, gegara mas Bas mu nggak ada kabar?" Tanya Amanda, yang dijawab Nilam dengan mengangguk lemah.


"Kenapa nggak kamu telepon aja?"


"Nggak ah. Males. Chat aku aja nggak dibales sama dia," sahut Nilam dengan bibir mengerucut.


Amanda merasa jengah mendengar jawaban sahabatnya itu. Sepertinya Nilam harus mendengar ceramah singkat darinya pagi ini.


"Lam, gengsi nggak akan bikin kamu bahagia, yang ada justru bikin kamu menyesal nanti." Ucapnya menekan setiap kalimatnya.


"Trus gimana donk, Nda?"


"Ya kamu maunya gimana?"


"Entah lah ...." Sahut Nilam lemah.


"Sekarang aku tanya sama kamu, sebenarnya kamu ada rasa nggak sama Baskara?" Pancing Amanda.


Nilam menatap manik sahabatnya dengan sendu. Ia pun tidak tahu apa yang ia rasa pada laki-laki itu. Tepatnya membatasi diri agar tetap bisa menyangkal perasaannya.


"Aku nggak tau apa yang aku rasa sama dia, Nda. Aku merasa nyaman dan aman ada di dekatnya, aku juga bisa menjadi diriku sendiri yang apa adanya, tanpa harus menunjukkan versi terbaikku. Dia selalu bisa mengerti aku, selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Tapi, aku takut memberikan rasa yang lebih dari ini untuknya. Aku takut kecewa lagi, Nda." Jawab Nilam panjang lebar.


Amanda menyimak curahan hati Nilam. Gadis tomboi itu sudah tahu apa yang terjadi diantara Nilam dan Bas. Sebagai sahabat, ia juga mengerti apa yang Nilam rasakan selama ini.


Namun sejauh ini, ia tidak ingin terlalu dalam ikut campur dalam urusan pribadi mereka berdua.


"Kamu terlalu kuat menggenggam hatimu, Lam. Tapi kamu nggak sadar, genggaman yang kuat itu, sudah membuatnya terlepas secara perlahan. Kamu tidak ingin jatuh cinta sama dia, tapi rasa itu sudah tumbuh dengan subur di hati kamu untuknya, tanpa kamu sadari Lam." Nilam terkejut, Amanda tahu apa yang ia rasa, dan coba dia ingkari selama ini.


"Nggak lah, aku belum sampai pada tahap jatuh cinta sama mas Pandu." Ucap gadis itu menyangkal.


"Apa namanya kalau bukan cinta? Kamu gelisah kayak cacing kepanasan seperti kemarin, karena memikirkannya, kan? Nggak usah menutupinya diriku Lam ... Aku sudah tau semuanya. Hanya saja, pesan aku, perasaanmu itu baiknya kamu tunjukkan atau ungkapkan ke Bas, agar dia bahagia. Agar dia tahu, jika perjuangannya selama ini nggak sia-sia."


"Tapi aku masih takut, Nda ... Aku takut, saat aku sudah memercayakan hatiku sama dia, hal yang sama kembali terulang."


"Nggak semua laki-laki brengsek kayak Pandu, Lam. Jangan tutup kesempatan orang lain, hanya karena rasa takutmu yang berlebihan. Kamu tuh terlalu fokus sama luka masa lalumu, sehingga hatimu seolah melawan saat ada kebahagiaan yang mencoba mendekat. Ingat ya, saat satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka. Tapi acap kali kita terlalu lama memandang pada pintu yang tertutup, sehingga kita lupa masih ada pintu yang lain, yang Tuhan buka untuk kita." Ucap Amanda.


Alis Nilam mengerut. Mencoba mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir sahabatnya.

__ADS_1


"Kalimat terakhir kamu, kayak aku pernah dengar." Ucap Nilam, merusak mode serius sahabatnya.


"Ck, aku copas di FB kata-kata itu ... Kamu nih, aku lagi belajar bijak juga." Ketus Amanda, membuat Nilam terkekeh.


"Pokoknya, kalau kamu nggak mau menyesal, hubungi Baskara sekarang. Belajar menunjukkan perasaan kamu sama dia, sebelum dia lelah menunggu dan benar-benar pergi dari hidup kamu,"


"Eeh jangan donk ...." Nilam menjawab spontan ucapan Amanda, membuat sahabat tomboinya itu tergelak.


"Begitu katanya nggak jatuh cinta," gumam Amanda.


***


Meski ragu, akhirnya Nilam menuruti saran dari Amanda.


Sebelum berangkat ke tempat kerjanya, Nilam menyempatkan diri menghubungi Bas, yang sejak kemarin tidak ada kabarnya.


"Halo, Nilam. Ada apa?" Bas menjawab telepon dari gadis itu, di dering kedua.


"Mas, lagi dimana? Mmm kee napa nggak ada kabar sejak kemarin?" Tanya Nilam ragu.


Bas meng ulum senyum, mendengar keluhan dari gadis pujaannya.


"Ah, iya. Mmm maaf Lam, dua hari lalu mas mendadak pulang kampung. Anaknya Utari tiba-tiba kejang dan dilarikan ke rumah sakit. Ibu nelepon minta mas mengurus administrasinya." Sahut Bas dengan suara lirih.


Ada nada tidak biasa yang Nilam tangkap dari suara Bas saat itu.


"Lalu sekarang gimana keadaannya mas?" Tanya Nilam.


"Sudah membaik, tapi masih di NICU."


"Ya ampun ... Maaf ya mas, aku belum sempat nengokin ke sana. Nggak tau kalau ada musibah gini," sesal Nilam.


"Iya, nggak apa. Toh juga nggak bisa dijenguk banyak orang untuk saat ini." Sahut Bas.


"Mmm berarti mas masih lama ya di rumah?" Tanya Nilam lagi.


Merasa sedih, karena harus menunggu lagi untuk bisa bertemu dengan laki-laki itu.

__ADS_1


"Nanti sore rencananya mas balik, kenapa? Kangen sama mas?" Goda Baskara.


Tanpa laki-laki itu tahu, wajah Nilam memerah menahan malu.


Gadis itu tidak menjawab godaan Baskara.


"Mmm mas jadi mau berangkat ke luar kota?" Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.


Baskara menarik nafas,


"Jadi, Lam. Tapi mungkin diundur beberapa hari. Soalnya kan mas harus beresin kerjaan di sini dulu." Sahut Baskara jujur.


"Ooohh ...." Sahut Nilam, merasa sedikit lebih lega. Setidaknya masih ada tambahan beberapa hari lagi, sebelum ia benar-benar akan berpisah dengan Baskara.


"Mas, akuu berangkat dulu ya ... Salam untuk Utari sama ibu, maaf belum sempat nengokin dedek bayi." Nilam mengakhiri obrolan, saat merasa kehabisan topik pembicaraan. Dan lagi, waktu sudah beranjak siang, dia harus segera berangkat ke tempat kerjanya.


***


Wajah sendu yang ditampilkan Nilam saat di kostan, perlahan sirna berganti senyum ceria gadis itu.


Benar apa yang Amanda ucapkan, gengsi tidak mendatangkan bahagia. Setidaknya itu berlaku untuknya saat ini.


Bila Nilam tidak mendengar usul sahabatnya, mungkin hingga kini Nilam tidak tahu apa yang terjadi dengan Bas, sehingga laki-laki itu menghilang seharian kemarin. Dan pasti di masih tetap dengan suasana hati yang tidak karuan saat ini.


"Deeehhh begini nih kalau orang lagi kasmaran, kelakuannya kayak o ogeb." Sindir Amanda.


"Apaan sih? Iri? Bilang boosss ...!" Sahut Nilam cuek.


Nilam dan Amanda menghabiskan delapan jam waktunya, di butik yang hari ini cukup ramai pembeli.


Nilam sudah tidak sabar menunggu hari beranjak sore. Ia sudah sangat ingin bertemu dengan Bas. Entah kenapa, setelah mendengar kuliah kilat dari Manda tadi pagi, gadis itu merasakan kerinduan berkali lipat yang ditujukan untuk Baskara.


Apa kini hatinya sudah mengakui kalau dia telah jatuh cinta pada laki-laki itu?


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


jangan lupa mampir di karya temen mamak ya ...

__ADS_1



__ADS_2