CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 51


__ADS_3

Perayaan ulang tahun perkawinan tuan dan nyonya Wijaya tidaklah terlalu mewah. Hanya dihadiri karyawan dan beberapa kenalan yang memang memiliki hubungan cukup dekat dengan keluarga tersebut.


Karyawan gudang dan karyawan toko milik keluarga itu, serentak hadir menggunakan kostum yang memang tiap tahun disiapkan oleh pihak keluarga. Begitu halnya dengan Nilam.


Meskipun hubungannya dengan Pandu sudah diketahui oleh keluarga, namun gadis itu tetap menggunakan pakaian yang sama dengan karyawan lain.


Ia tidak ingin terlihat berbeda, tidak mau menciptakan lebih banyak berita yang pasti akan membuat telinga terasa panas.


"Calon nyonya muda yang low profile ini sih ..." Goda Amanda memerhatikan penampilan sang sahabat.


Celana berbahan soft jins, atasan kaos polo seragam karyawan, rambut kuncir kuda, dengan sendal sepatu yang biasa ia pakai untuk bekerja.


Mereka berdua tiba secara bersamaan, di kediaman sang majikan.


"Apaan sih ... Jangan sembarangan ngomong, nanti di dengar yang lain, aku nggak enak." Sungut gadis itu.


Nilam sama sekali tidak berubah. Ia tidak pernah dengan sengaja menunjukkan kedekatannya dengan Pandu, di hadapan karyawan lain, atau memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingan pribadinya.


"Yeee nggak usah aku ngomong juga, semua orang udah tau siapa kamu ...." Lawan Amanda dengan mulut dimajukan, sambil menunjuk beberapa orang dengan pakaian yang sama, berlalu lalang di sekitar mereka.


"Lagian, punya pacar orang kaya bukannya bangga malah malu-malu. Digondol pelakor baru tau rasa." Amanda menakuti Nilam, yang ia tahu sudah mulai bucin pada anak majikannya itu.


Plak


"Sembarangan kalau ngomong! Seneng kamu liat aku galau?" Omel Nilam dengan mata mendelik ke arah sang sahabat.


"Sssshhh sakit Nilam ...! Kebiasaan kamu tuh ya ... Mukul nggak kira-kira ...." Amanda merasakan pedih di lengan kanannya akibat pukulan tak berperasaan dari sang sahabat.


"Mangkanya jangan ngomong sembarangan ...." Ucap Nilam melenggang meninggalkan Amanda.


Gadis itu berjalan santai menuju taman belakang rumah besar keluarga Wijaya, tempat dimana acara akan berlangsung.


Tuan dan nyonya Wijaya yang memang terkenal dermawan di kalangan para karyawan, sudah pasti mengadakan berbagai kegiatan yang memanjakan orang-orang yang bekerja pada mereka.

__ADS_1


Makanan enak, hiburan gratis, dan yang pasti door prize beberapa hadiah juga menyemarakkan acara yang dimulai sejak sore hari itu.


Nilam terpaksa berpisah dengan Amanda, sebab gadis itu dipanggil untuk membantu menyiapkan hidangan bagi para tamu.


"Acara segede gini, masa masih ngandelin karyawan sih buat beresin masalah konsumsi," tanya Amanda pada Nilam.


"Entahlah ... Aku juga nggak tau. Kemarin pas datang kemari, aku cuman nyiapin beberapa menu aja, dan itu pun nggak banyak. Soalnya kan ibu bilang aku diminta untuk siapin bahan sama resepnya aja. Dan itu untuk tamu-tamu terdekatnya aja, bukan untuk kita-kita juga." Jelas Nilam.


Amanda menganggukkan kepalanya.


"Ya udah samperin dulu itu, nanti kabari aku kalau kamu perlu bantuan."


"Iya ... Aku ke dapur dulu ya ...." Pamit Nilam meninggalkan Amanda.


"Kamu gimana sih Nilam? Kenapa baru datang sekarang? Niat bantu nggak sih?" Baru saja gadis itu masuk melalui pintu belakang, menuju dapur, ia sudah disambut dengan omelan Laksmi yang ternyata sudah menunggunya di pintu dapur.


"Maaf mbak, bukannya semua yang diminta ibu sudah saya siapkan kemarin ya?" Sahut Nilam.


"Kalau kamu sudah siapkan kemarin, nggak mungkin sampai jam segini mereka belum selesai dengan hidangannya! Kamu mau bikin keluarga saya malu ya?" Tuduh wanita itu lagi.


'biarlah aku yang mengalah, percuma berdebat dengan orang yang merasa dirinya paling benar' batin Nilam.


"Maaf maaf, udah buruan sana!" Wajah Laksmi yang tidak bersahabat membuat Nilam merasa kesal.


"Ya mbak minggir donk jangan di sana!" Sahut Nilam menatap tajam Laksmi yang masih berdiri di ambang pintu.


"Lagian kalau masih perlu bantuan saya, kan mbak bisa telepon saya. Bisa minta saya untuk datang kemari buat bantu selesaikan. Bukan marah nggak jelas begini sama orang yang baru datang." Sambungnya lagi dengan wajah kesal yang tidak ia tutupi.


Laksmi cukup terkejut dengan keberanian gadis di hadapannya itu. Ia yang merasa dipermalukan di depan para art, merasa tidak terima dengan sikap Nilam.


"Ooh jadi karena kamu merasa kami membutuhkan tenaga kamu, jadi kamu besar kepala, begitu? Ingat ya, kamu di gaji di sini. Kamu karyawan keluarga ini. Jadi jangan sok hebat di depan saya."


"Saya nggak merasa sok hebat mbak ... Saya hanya mengutarakan isi kepala saya. Memang saya digaji oleh bapak dan ibu, tapi sebagai kasir di gudang, bukan sebagai tukang masak.

__ADS_1


Dan lagi, waktu kerja saya pasti, dari pagi sampai sore. Kalau lewat dari jam itu, itu sudah termasuk lembur. Dan saya tidak pernah menerima uang lembur selama ini." Tegas Nilam.


"Bisa dihentikan dulu debat kalian? Waktu kita nggak banyak lagi. Nilam tolong bantu di dapur ya ...." Suami Laksmi menyela adu mulut tersebut.


Pria pengusaha perak itu, juga menatap tajam ke arah istrinya.


Mengerti dengan tatapan sang suami, Laksmi menyingkirkan tubuhnya, membiarkan Nilam masuk ke dalam dapur.


Gadis itu melihat sekitar, begitu berantakan, seolah semua tanpa persiapan.


Ia sampai menghela nafas berat, menyadari pekerjaan yang menanti di depan mata.


"Masaknya seberapa banyak sih bik? Kok bisa belum beres dari pagi? Bukannya kemarin semua udah siap ya?" Tanya Nilam pada bik Surti.


"Ini permintaan non Laksmi, nak Nilam. Semua yang udah kita siapkan kemarin, dia minta untuk dimasak dan dibagi ke tetangga terlebih dulu. Biasanya kalau perayaan ulang tahun perkawinan bapak sama ibu, mereka berdua sewa katering, ini tumben nggak. Jadi kit kelabakan ngurusnya." Ucap bik Surti.


"Terus apa ibu nggak protes?" Tanya Nilam


"Kan beliau sudah percayakan sama anaknya, bapak sama ibu juga lagi honey moon di hotel sejak kemarin malam." Jelas wanita paruh baya itu lagi.


Nilam mengangguk. Tanpa banyak kata lagi, ia dan beberapa asisten rumah tangga, bekerja sama menyiapkan hidangan untuk para tamu.


Wajah gadis itu penuh peluh. Hilang sudah penampilan segar yang tadi ia tampilkan ketika baru tiba dirumah itu.


"Permisi ... Tolong buatkan jus tomat satu donk ..." Seseorang berdiri di ambang pintu.


Seorang wanita dengan wajah dan penampilan nyaris sempurna, hingga membuat Nilam terpesona untuk sesaat.


"Iya non ... Bibik buatkan ya ..." Bik Surti menjawab, dengan senyum memenuhi wajahnya.


"Jangan lama-lama ya bik, makasih." Wanita semampai itu melenggang pergi.


Nilam memperhatikan wanita itu dengan seksama. Pikirannya melayang entah kemana.

__ADS_1


'aku kayak pernah liat cewek itu, tapi di mana ya?' gumamnya dalam hati.



__ADS_2