CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
CK 22 - MEMANCING AMARAH


__ADS_3

Cristhopan dan Randhika bergegas membawa Zenya kerumah sakit. Sepanjang perjalanan, Cristhopan tak pernah melepaskan pelukan dan pandangannya menjauh dari Zenya


Terdapat sebesit penyesalan dalam relung hatinya, Ia merasa mungkin perbuatannya pada Zenya tadi sedikit kelewatan.


"Gadis ini dengan bodohnya malah melukai diri sendiri di hadapanku, Aku paling benci melihat hal semacam ini!" Ia mengetatkan rahangnya, Matanya memerah, Ada sebuah luka lama yang sudah ia balut rapat-rapat, Ia tak ingin luka itu sampai terbuka lagi.


Setibanya di rumah sakit, Randhika bergegas memanggil perawat dan menyuruh mereka agar membawa blankar


"Kemari, disini orang yang terluka" Para perawat tersebut tercengang kala mereka menyadari siapa yang meminta pertolongan mereka. Dengan sigap dan cekatan mereka melaksanakan perintah Randhika.


"Crist, Sebaiknya kau mengganti bajumu dulu," Randhika menepuk bahu Cristhopan, Cristhopan pun langsung melihat ke arah bagian dada, Bajunya dipenuhi noda darah.


"Tidak, Aku harus menemaninya terlebih dulu" Cristhopan ingin beranjak pergi, Namun Rhandika menahannya.


"Kelemahanmu akan terlihat jika kau berprilaku seperti ini, Ingat! Kau tidak boleh mempunyai kelemahan, Ini di depan umum" Ujar Rhandika mencoba untuk menyadarkan.


"Tidak! Aku tak menganggapnya penting, Hanya saja ia terluka begitu karena aku. Seorang gadis polos terluka karna aku, Bagaimana nanti aku menjelaskan pada media jika ia sampai berani membuka suara" Bantah Cristhopan


Randhika hanya menghela nafasnya panjang, Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah Cristhopan pergi berlalu dari hadapannya.


"Sejak kapan kau perduli pada media? Cristhopan, Aku sangat mengenal dirimu"


*


*


Zenya harus di larikan ke ruang operasi, Lukanya cukup parah, Hal itu membuat Cristhopan semakin resah dan khawatir. Walaupun ia mencoba untuk menutupi kekhawatiran itu dengan bersikap biasa saja, Namun Randhika tetap bisa melihat dengan jelas gurat kegelisahan pada diri Cristhopan.


Beberapa jam berlalu, Akhirnya operasinya selesai, Zenya sudah di pindahkan keruang VVIP. Randhika dan Cristhopan tentu saja menemani.


"Tak disangka sikap gadis ini sangat keras, Aku hanya bercanda, dan dia malah menganggap nya serius! Untung saja hanya gegar otak ringan.. Jika tidak, dengan temperamennya Cristhopan mungkin akan membunuhku." Gumam Randhika, Ia mendekat ke arah ranjang Zenya, Menatap gadis itu lekat-lekat.


"Beribu-ribu gadis yang mendekat dan bersedia melakukan apapun untuknya, Tak di sangka ia malah memilih gadis kecil dan polos ini, Bahkan gadis ini senantiasa selalu menolaknya. Apa yang kau pikiran Cristhopan Alexander? Apa yang kau harapkan dari gadis kecil ini?!"


"Jika kau hanya menyukai tubuhnya, Aku bawakan kau beberapa gadis yang cantik dan masih bersih. Tapi, bisakah kau lepaskan dia?" Randhika yang mulai khawatir pada Cristhopan dan merasa iba pada Zenya akhirnya buka suara. Ia merasa jika rasa yang perlihatkan Cristhopan pada Zenya sungguh sangat terlihat jelas.


"Ck, Jangan-jangan kau menyukai kelinci putih kecil ini?" Tuduh Cristhopan dengan nada menyindir.


"Bagaimana mungkin! Aku hanya.. Sedikit tidak tega.. Ia begitu menolak di perlakukan seperti itu Oleh orang seperti mu. Jika gadis lain berlomba-lomba untuk mendapatkan cintamu, gadis ini malah sebaliknya. Apakah kau pernah berfikir apakah gadis-gadis yang mengelilingimu itu tulus padamu atau tidak?" Randhika membantah tuduhan Cristhopan, Adu argumen pun sudah tak bisa di lewatkan.


"Dia adalah wanita yang kubeli dengan uang, Kau lebih baik jangan sok tahu, dan jangan pernah berani menyentuhnya. Kau tahu, Menghadapi orang yang mengkhianatiku, Aku tak akan pernah bersikap lunak. Dan lagi, Kau tak perlu mengurusi masalah percintaanku." Cristhopan berdecak, Ia sudah sangat serius sekarang.


"Kak, Aku tidak mungkin menyentuh wanitamu! Tapi, dia hanyalah seorang gadis kecil yang tidak mengerti apapun, Bisakah kamu tak perlu terlalu bersikap kejam padanya? Ia bisa sakit jiwa." Randhika menyadarkan Cristhopan bahwa yang ia lakukan bisa saja membuat Zenya menjadi gila.

__ADS_1


Cristhopan tak menimpalinya lagi, ia hanya berdecak sambil mengerlingkan kedua matanya.


'Sudahlah, Aku tak akan mengganggu kalian lagi, Aku hanya memberimu saran, Aku pergi dulu." Randhika mengalah, Ia melangkah dengan nafas yang memburu, kebaikannya pada sang kakak hanya mendapat tuduhan


"Terserah kau saja! Setelah kakek merebut kembali apa yang menjadi kesayanganmu, baru kau akan menyesal" Batin Randhika dengan perasaan marah.


Cristhopan menghela nafasnya panjang, Ia mengakui bahwa yang di ucapkan Randhika memang ada benarnya, Ia sudah bersikap terlalu kasar dan tak berperasaan pada Zenya.


"Berani sekali menyakiti diri sendiri untuk melawanku, Aku harus memberinya pelajaran dengan hati-hati. Zenya, Kau tahu, Jantungku serasa akan berhenti berdetak saat kau melakukan itu tadi, Kau melukai dirimu karna aku, Sama persis seperti dirinya waktu itu" Cristhopan mengelus puncak kepala Zenya dengan sangat lembut.


"Jangan, aku tidak ingin mati, Aku tidak ingin mati!


Uhuk! Uhuk!


Tolong!! Tolong selamatkan aku!!


Selamatkan aku.."


Dalam tidurnya Zenya bermimpi, Akibat demam sehabis operasi tubuhnya menjadi basah kuyup oleh keringat.


Ia bermimpi dirinya tenggelam ke dasar samudera, pandangan menggelap, Ia sudah tak bisa bernafas, Ia mencoba berenang namun arus air laut sudah menariknya ke dasar. Saat dirinya sudah diambang keputus-asaan tiba-tiba ia melihat tangan seseorang seperti ingin meraih tubuhnya.


"Siapa dewa penyelamatku?" Gumam Zenya dengan pandangan yang sudah hampir menutup


Pria itu meraih lengannya, Membawa Zenya kembali kepermukaan air,


"Huftt.. huftt.." Nafasnya memburu


Ternyata Di dunia nyata Zenya meraih lengan Cristhopan, Ia memegangnya erat


"Hmm, Sekarang sudah tahu takut." Cristhopan balik menggenggam lengan Zenya, Mengusapnya sesaat.


"Jangan.. Aku mohon.. Jangan biarkan orang lain melihatnya.." Ia mengigau


Cristhopan mendekatkan dahinya pada dahi Zenya, Guna mengecek suhu tubuhnya "Demamnya sudah menurun."


Saat Cristhopan akan beranjak dan duduk di kursi ruang VVIP yang empuk, Ia mendelik kala tangannya tertahan oleh genggaman Zenya


Wajahnya menjadi bingung, Ia melirik pada sofa besar nan empuk itu, Namun apa daya Zenya sudah menariknya dengan keras


"Hhhh" ia menghela nafas panjang, membiarkan Zenya memegang tangannya selama yang ia inginkan.


*

__ADS_1


*


Satu jam berlalu, Zenya masih memegang tangan Cristhopan.


Setelah beberapa saat ia mengerutkan dahinya, dengan perlahan matanya mulai terbuka.


"Sudah sadar?" Tanya Cristhopan dengan wajah dingin.


Zenya terhenyak, Ia segera melepaskan tangan Cristhopan, Cristhopan memegangi tangannya yang sudah mati rasa.


"Maaf, lain kali aku tidak berani lagi! Tuan, aku akan mendengar ucapanmu, Sungguh, Aku benar-benar akan mendengarkan ucapanmu." Zenya meminta maaf pada Cristhopan sesaat setelah ia sadar.


"Aku tidak seharusnya seperti ini, Aku sudah melukai diriku sendiri, Aku sudah melanggar larangannya, jika dia marah dan melakukan sesuatu pada keluargaku bagaimana? Tapi, Asalkan dia tidak melakukan hal seperti kemarin, membuatku hidup tanpa harga diri sama sekali, Aku pasti masih bisa menahannya."


"Kalau sudah sadar, Bangunlah untuk segera makan." Cristhopan tak menghiraukan ucapan Zenya barusan.


"Bukannya mengkhawatirkan nyawa sendiri, ia malah mengkhawatirnya nyawa orang lain"


"Celaka! Sekolah! Aku belum mengabari mereka lagi." Zenya mengerjapkan mata, Ia sudah yakin pasti akan ada kejadian heboh.


"Tuan, Aku.. ingin menelepon teman sekolahku dulu.." Pintanya pada Cristhopan


"Ya" Jawabnya singkat, Zenya mengambil ponsel di nakas dan segera menekan nomor sahabatnya-Velia


"Halo.. Velia.." Ucapnya setelah nada sambungan di terima terdengar


"Zenya! Kau kenapa semalam tidak kembali?! Hari ini juga tidak masuk kampus! Ponsel juga tidak aktif! Aku sudah membantumu mengambil izin, Kau kenapa? Kau tidak kenapa-napa, 'kan?" Zenya menjauhkan ponsel dari telinganya kala sahabat baiknya itu mulai heboh dan mencecarnya dengan seribu pertanyaan,


"Aku tidak apa-apa, Semalam aku terjatuh sewaktu pulang dari C.L.A, Kepalaku terbentur." Jawabnya Pelan


"Kau luka? Lukanya serius tidak? Aduh, kau dimana? Sudah pergu berobat? Aku segera menjengukmu ya!" Velia sudah pasti khawatir setelah mendengar jawaban Zenya.


"Aku sedang di rumah teman, Aku takut keluargaku khawatir, jadi aku tidak pulang, Mereka tidak kuberitahu, Kau harus bantu aku untuk menjaga rahasia ya," Pinta Zenya


"Teman? Teman yang mana?" Velia sedikit bingung, karna Zenya tak punya teman dekat lain selain dirinya.


"Itu.. Teman yang membantuku semalam, Dia senior di C.L.A, Aku di tolong olehnya, Namanya Rhandika." Jawab Zenya lirih, Matanya melirik Cristhopan kala menyebut nama Randhika.


Tentu saja Cristhopan pun demikian, Ia menatap tajam ke arah Zenya.


"Ahh!! Aku pernah melihatnya di internet, Ia keluarga Alexander, pemilik Grup C.L.A, Dia sangat tampan! Kau harus mengambil kesempatan!" Zenya terkejut, ucapan sahabatnya tadi bisa membuat perperangan antara dirinya dan Cristhopan,


"Jangan sembarangan bicara! Aku dan dia tidak ada hubungan apapun! Aku akan kembali ke kampus besok, Kita lanjutkan obrolannya nanti, Sampai jumpa!" Zenya menegang, ia langsung menepis ucapan Velia yang mungkin sudah terdengar oleh Cristhopan Ia segera menutup telepon itu.

__ADS_1


"Aku terlalu meremehkanmu, Baru bertemu sekali langsung bisa menggoda tuan muda kedua dari keluarga Alexander?" Apa yang Zenya khawatirkan sudah terjadi, Cristhopan sudah mengungkung tubuhnya, Matanya menyiratkan amarah yang besar.


"Aku.. Aku tidak.."


__ADS_2