CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 163


__ADS_3

Semilir angin pagi yang sejuk menyapa kulit Nilam, dari celah fentilasi kamar. Ia menggeliat, dan tidak berselang lama matanya terbuka. Seolah sudah memiliki alarm dalam dirinya, gadis itu selalu akan terjaga setiap jam lima pagi, tidak peduli ia memiliki jadwal kerja pagi ataupun siang.


Menyingkap selimut lalu bangkit. Ritual seperti biasa ia lakukan. Ke kamar mandi membuang hajat, dan membersihkan wajah, lalu merapikan kamar yang tidak terlalu berantakan. Baru setelahnya menuju dapur melihat apakah ada yang bisa ia jadikan sarapan atau tidak, pagi ini.


Biasanya Amanda akan sedikit mengomel jika Nilam beraktifitas di pagi-pagi buta seperti saat ini. Namun berhubung sang sahabat sedang tidak ada di kostan, Nilam bisa bebas melakukan apapun tanpa mendengar komplinan gadis tomboy itu.


Nilam sama sekali belum melihat ponsel sejak baru membuka mata. Sengaja, karena ia tahu benda canggih itu akan menghambat aktifitas paginya jika hal pertama yang ia lakukan adalah bermain ponsel.


Sambal petai baby cumi yang ia beli di online shop beberapa saat lalu masih ada, ia hanya tinggal menghangatkannya saja. Dan memasak sedikit nasi, hanya untuk dirinya sendiri sebab Amanda baru akan kembali sore nanti.


Setelah semua pekerjaan rumahnya selesai ia lakukan, barulah Nilam meraih ponsel di atas meja riasnya, berniat menelpon sang kekasih.


Suasana hati yang semula biasa saja, tenang, rileks, tiba-tiba bergemuruh setelah membaca pesan dari nomor yang sama seperti kemarin.


"Dasar ja*ang, su*del, pe*ek!"


"Manusia nggak tau diri! Perebut!"

__ADS_1


"Aku sumpahin kamu nggak nemu kebahagiaan dalam hidupmu. Semoga kelak kau punya anak yang cacat, karena perbuatanmu yang menjijikkan! Dasar cewek matre. Dosamu nggak terampuni. Kau pisahkan ibu dari anaknya, adik dari kakaknya. Kau akan menyesal nanti! Liat aja, hukum karma terus berjalan."


Seketika kepala Nilam terasa berputar. Ia sampai berpegangan pada ujung meja yang tidak terlalu besar itu, demi menjaga agar tubuhnya yang gemetar tidak ambruk.


Seumur hidupnya, tidak ada satu orang pun yang pernah mengumpat dan mencacinya dengan sadis seperti ini. Ia bukanlah orang yang suka mencari masalah, yang suka bersikap selayaknya penggoda apalagi seperti wanita ja*ang. Lalu siapa orang ini?


Siapa yang dengan tega menyumpahi, bukan hanya dirinya, bahkan anak yang belum ada pun tega orang itu kutuk.


Ia duduk dengan pelan di atas kursi kecilnya, dadanya masih berdebar seperti baru berlari maraton. Menenangkan diri dengan menarik nafas panjang, berpikir siapa kira-kira orang yang memberinya teror seperti ini. Dan otaknya tertuju pada satu orang, yaitu Utari. Namun seketika ia menggelengkan kepala. Ia menyangkal apa yang hatinya katakan.


"Nggak mungkin Utari seberani ini nyumpahin orang. Masa dia nggak takut sumpahnya berbalik ke dirinya sendiri?" ucap Nilam menjawab bisikan hatinya.


Suara Nilam bergetar ketika menyapa si penelepon yang ternyata adalah Baskara.


"Sayang, kamu kenapa? Kok, suaranya aneh gitu?" tanya Baskara langsung.


Nilam yang fokus pikirannya masih terbagi, hanya menggumam tak jelas.

__ADS_1


"Nilam," panggil Bas lagi.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah?"


Perlu waktu beberapa detik bagi Nilam menjawab pertanyaan calon suaminya itu.


"Mmm mas, tunggu sebentar ya, aku kirim sesuatu di chat," ucap Nilam akhirnya.


Gadis itu mengirim screen shot pesan serta nomor telepon yang memberinya teror, dan Baskara langsung membukanya.


"Dari kemarin nomor itu chat aku, dengan ucapan aneh-aneh. Aku telepon nggak mau dingkat. Kira-kira siapa ya yang punya nomor itu?" adu Nilam akhirnya.


"Tunggu sebentar, sayang. Nanti mas telepon lagi."


Bas mengakhiri panggilan teleponnya, karena merasa tidak asing dengan nomor yang baru saja Nilam kirimkan.


"Jangan bilang ini ulah Utari," gumamnya sembari mencocokkan nomor itu dengan yang menghubunginya.

__ADS_1


Dan akhirnya, Baskara hanya bisa memejamkan mata sebab apa yang ia takutkan benar terjadi.


__ADS_2