
"Nak Bas udah pulang, Pak?" tanya Bu Sukma saat melihat suaminya masuk ke kamar pribadi mereka.
"Belum, masih ngobrol di belakang sama yang lain."
"Mereka minum?"
Pak Indra mengangguk, lalu menghempaskan tubuhnya di samping sang istri yang baru saja selesai berganti pakaian.
Bu Sukma menarik nafas pelan.
"Banyak mereka minumnya, Pak?"
"Nggak, Bu. Cuman dua botol bir, kok. Lagian di sana ada Damar, nggak mungkin merek minum banyak, kalau nggak mau ngajarin yang nggak bener pada adiknya." sahut Pak Indra dengan kekehan kecil.
Bu Sukma pun ikut tersenyum. Ia menatap lekat suaminya. Binar mata Pak Indra, jelas menampakkan kebahagiaan laki-laki paruh baya itu.
"Ngobrolin apa tadi sama Nak Bas?" tanya Bu Sukma lagi.
Pak Indra menarik tangan istrinya agar lebih mendekat. Ia meremmass jari wanita yang sudah menemaninya lebih dari tiga puluh tahun itu.
__ADS_1
"Bas berniat hendak melamar anak kita, Bu, tapiii, saat ini dia tengah bimbang." Raut bahagia yang semula nampak, kini berganti sendu dan terlihat kecewa.
"Bimbang kenapa?"
"Katanya, dia belum punya tempat yang layak untuk anak kita. Dia ingin membuat hunian untuk keluarga kecilnya dulu, Bu."
"Lho, bagus donk, Pak. Itu berarti, Nak Bas memikirkan kenyamanan anak kita. Dia benar-benar ingin memberikan yang terbaik untuk Nilam." sambut Bu Sukma dengan antusias. Namun Bu Sukma bisa merasakan, jika sang suami tidak setuju dengan ucapannya.
"Trus kenapa Bapak malah terlihat nggak senang begitu?"
"Ibu tau, kan? Dari dulu bapak ingin mereka segera bersama. Bapak belum tenang, Bu. Sebelum melihat mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Bapak ingin, sebelum Tuhan memanggil bapak, Nilam kita sudah menikah, Bu."
"Tapi bapak takut, Bu. Bagaimana kalau saat Tuhan memanggil bapak, Nilam masih sendiri? Bagaimana dia menghadapi dunia ini? Bagaimana dia memilih pasangan hidup, yang bisa menjaga dan menyayanginya dengan tulus? Bapak merasa punya hutang sama anak itu."
"Pak, bapak percaya takdir, kan? Semua orang sudah membawa garis nasibnya sendiri, sejak masih di dalam kandungan. Kenapa bapak merisaukan itu? Lagi pula, Nilam anak yang kuat, anak yang tangguh. Dia akan baik-baik saja, Pak."
Hening beberapa saat. Pasangan yang sudah beruban itu, larut dalam pikiran masing-masing.
"Tadi, setelah Nak Bas mengutarakan niatnya, apa yang bapak katakan padanya?"
__ADS_1
"Bapak bilang, kalau soal hunian mereka bisa memikirkannya setelah menikah. Bisa menabung bersama, memulai semua dari nol. Nggak apa-apa kan, tinggal beberapa saat di rumah orang tuanya Bas, dulu. Toh mereka nggak terus-terusan di rumah itu, kan? Nilam dan Bas bekerja, pasti mereka menghabiskan lebih banyak waktu di kota tempat mereka bekerja, nanti."
Bu Sukma tersenyum, menepuk tangan sang suami, yang semula meremassnya.
"Pak, bapak sadar nggak, ucapan bapak itu membebani Nak Baskara? Satu sisi dia ingin mewujudkan keinginan bapak dengan cepat, di sisi lain dia ingin menggapai mimpinya juga segera. Kasihan, Pak. Jangan dituntut begitu,"
Sebenarnya bukan tanpa alasan pak Indra terkesan semangat sekali menyatukan Nilam dan Baskara.
Ayah empat anak itu merasa masih punya hutang, terhadap putri ke tiganya. Di antara ke empat anaknya, hanya Nilam yang tidak pernah merasakan bangku kuliah. Sebab saat Nilam lulus, bersamaan dengan kondisi kesehatannya yang menurun, hingga terpaksa ia pensiun dini.
Nilam tidak pernah protes atau menunjukkan kekecewaan terhadapnya. Anak gadisnya itu, begitu berbesar hati menerima kenyataan, ia tidak akan melanjutkan kuliah. Bahkan hingga saat ini, Nilam tidak pernah mengungkit masalah itu. Yang justru membuat pak Indra semakin merasa bersalah. Ia merasa gagal menjadi orang tua yang adil. Tidak mampu memberi bekal yang layak untuk anaknya.
Itu sebabnya ia bertekad memberikan Nilam sesuatu yang lain, sebagai bentuk kasih sayangnya. Mencarikan Nilam jodoh, yang ia rasa pantas untuk putrinya.
Bukan soal materi, tapi soal sifat.
Ia mengenal putrinya dengan sangat baik. Gadis berhati lembut dan sabar. Yang selalu mau mengalah, terutama untuk keluarga.
Ia membutuhkan sosok pendamping yang tulus menyayanginya, yang akan selalu menjaganya, yang siap menjadi tameng pelindung, saat sesuatu yang buruk mencoba mendekatinya. Dan pak Indra menemukan semua itu pada diri Baskara.
__ADS_1