CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 94


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Siang dan malam datang silih berganti, membawa cerita berbeda bagi setiap anak manusia.


Suka dan duka, tangis dan tawa, selalu bersisian menemani setiap langkah Nilam.


Kemarin ia merasa tak berharga. Dikhianati oleh orang yang dia sayang, dan direndahkan oleh mereka yang tidak menyukainya.


Hari ini rasanya dialah orang yang paling beruntung di dunia ini. Meski bukan harta dan kemewahan yang bisa Baskara berikan, namun usaha laki-laki itu untuk membahagiakannya, sungguh membuat Nilam merasa terharu.


Dua Minggu sudah Baskara berada di luar kota, mereka terpaksa menjalani hubungan jarak jauh. Namun, tidak pernah sekalipun laki-laki itu absen menghubunginya.


Bukan hanya itu, Nilam acap kali dikejutkan dengan kiriman paket entah makanan ataupun barang lainnya, yang dikirim Baskara melalui ojek online.


"Mas nggak bisa temani kamu di sana, nggak bisa jagain kamu saat kamu sakit, nggak bisa selalu ada saat kamu butuhkan. Mas hanya bisa mengusahakan agar kamu tetap sehat, ini demi ketenangan hati mas di sini juga. Hanya itu yang bisa mas lakukan untuk saat ini." Ucap Baskara, saat Nilam mengutarakan isi hatinya yang merasa jengah dengan kedatangan kurir yang hampir setiap hari.


Harusnya Bas tidak perlu memboroskan uangnya hanya demi membelikan dia makanan setiap hari, ia masih bisa menjaga dirinya sendiri.


Namun Baskara adalah laki-laki keras kepala, yang bila sudah memiliki keinginan sangat sulit untuk dihentikan.


Akhirnya Nilam hanya bisa pasrah, membiarkan laki-laki itu melakukan apapun yang diinginkannya.


"Lam, udah beres belum? Bantuin cek barang yang baru dateng yuk." Salah satu teman kerjanya, memanggil.


"Oh, iya tunggu sebentar."


Nilam yang tengah menikmati istirahat makan siangnya pun bergegas menghabiskan makanan yang tinggal beberapa suap lagi.


"Kok kita yang bongkar ini sih? Harusnya kan yang shift dua," tanya Nilam saat mereka sudah berada di lantai tiga.


"Ini perintah dari bos. Udah kerjain aja. Lagian cuman dikit kok." Rekan kerjanya menunjuk beberapa box besar di depannya.


Keduanya larut dalam pekerjaan, mencocokkan jumlah barang yang ada dengan nota, berharap tidak ada yang keliru agar tidak menambah pekerjaan mereka untuk membuat laporan.


Hingga tanpa terasa jam kerja mereka berakhir. Nilam bersiap pulang dengan terburu-buru. Ia dan Amanda berencana akan pergi bersama menghabiskan malam Minggu.


"Aku duluan ya ...." Ucap gadis itu berpamitan pada teman-temannya. Namun niatnya ingin cepat tiba di kostan, sepertinya tidak akan terwujud, sebab di depan pintu masuk butik tempatnya bekerja, berdiri sosok yang tidak pernah ia sangka akan ditemuinya kembali.


Langkah kaki Nilam terhenti. Ingin berbalik, tapi tidak mungkin. Ia tidak mau teman kerjanya curiga.


"Nilam," dada Nilam berdebar semakin kencang saat laki-laki itu memanggil namanya. Bukan debaran cinta, hanya perasaan gugup sebab mereka sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


Dulu, ia begitu menyukai suara lembut itu. Suara yang berhasil mencuri dan meyakinkan hatinya untuk memilih sosok itu sebagai kekasih. Namun itu dulu, sebelum sebuah kenyataan menamparnya dengan sadis.


Nilam mengabaikan Pandu, ia berlalu begitu saja dari hadapan laki-laki itu.


"Nilam tunggu. Mas mau bicara." Pandu menahan lengan Nilam, namun ditepis oleh gadis itu.


"Maaf mas, aku sibuk." Sahutnya singkat. Ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah, berusaha tidak menatap sosok yang terlihat berantakan itu.


"Sebentaaar saja Lam ... Mas mohon," pinta Pandu memelas.


Nilam menarik nafas, ia memerhatikan wajah dan penampilan Pandu dengan lebih seksama.


Laki-laki itu masih tetap tampan, namun wajahnya tidak secerah dulu. Penampilannya pun masih tetap sama, namun Nilam tidak merasakan aura seorang pengusaha muda yang sukses di sana.


Ada kehampaan, dan juga keputusasaan yang bisa Nilam rasakan dari sorot mata sendu laki-laki itu.


***


"Mas, aku nggak punya banyak waktu., Manda udah nungguin aku di kostan," ucap Nilam gusar, saat mereka sudah duduk berdua di sebuah kafe, tidak jauh dari tempat Nilam bekerja.


"Jadi Amanda juga di sini sekarang?" Bukannya menanggapi ucapan Nilam, Pandu justru menanyakan hal yang lain.


"Mas, sebenarnya mas mau ngomong apa?" Potong Nilam, tidak ingin obrolan mereka melebar kemana-mana.


Pandu diam beberapa saat. Menatap sosok gadis di depannya. Gadis yang pernah ia sakiti dan hancurkan hatinya itu, terlihat lebih cantik di matanya saat ini.


"Nilam, apa kamu bahagia?" Tanya laki-laki itu lirih.


Nilam mengerutkan dahinya, tidak bisa menebak kemana arah pertanyaan Pandu.


"Apa kamu bahagia saat ini, Lam? Apa kamu bahagia berpisah sama aku? Apa kamu sudah melupakan aku, Lam?" Cecar laki-laki itu, saat Nilam tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


Nilam tersenyum tipis. Dengan pasti ia menganggukkan kepalanya.


"Iya mas, aku bahagia. Bukan karena berpisah sama kamu, tapi mampu melepaskan kamu dengan ikhlas yang membuat aku bahagia. Aku nggak akan melupakan kamu mas, aku tidak ingin amnesia. Kamu akan selalu ada, tapi bukan dalam hati, melainkan dalam ingatan. Jangan bertanya tentang aku, mas. Aku baik-baik saja tanpa kamu." Tegas Nilam.


Pandu menunduk dalam. Hatinya tersayat mendengar penuturan Nilam tentang perasaannya. Ia salah menduga. Ia mengira Nilam masih mengingatnya .


"Aku kira, perasaanmu begitu kuat Lam. Tapi sepertinya aku salah berharap. Aku pikir kamu hanya perlu waktu untuk memaafkan aku, tapi rupanya semudah itu kamu melupakan aku."

__ADS_1


Nilam terkekeh kecil.


"Mas Pandu lucu sekali ya, di sini seolah aku yang bersalah, seolah aku yang berbuat curang dalam hubungan kita dulu. Mas Pandu lupa? Apa yang mas lakukan itu menyakitkan, mas."


"Tapi aku sudah menyesalinya, Nilam!"


"Disaat aku tau semuanya? Disaat sudah ada benih di rahim perempuan lain? Cepat sekali kamu menyesal, mas? Apa kamu akan menyesal jika dia tidak hamil, dan aku tidak tau apa-apa tentang semua itu? Apa kamu akan berhenti melakukan kecurangan itu, jika semua masih berjalan seperti yang kamu mau? Berapa lama kamu membodohi aku? Berapa lama kamu bermain api di belakang aku? Apa saat itu kamu menyesal?" Nilam kembali tersulut emosi.


"Aku nggak nyangka mas, kamu ...." Nilam menggelengkan kepalanya. Entah sebutan apa yang pantas ia sematkan untuk laki-laki di depannya ini.


"Jangan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, mas. Jangan lagi sakiti hati wanita yang saat ini ada di sampingmu. Apalagi dia sedang mengandung anakmu. Darah dagingmu sendiri. Jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kalinya, kelak." Tutur Nilam, seolah tahu maksud laki-laki itu menemuinya.


"Aku nggak bisa, Nilam. Bukan dia yang aku harapkan bisa menjadi pendampingku, tapi kamu."


"Tapi kamu tidur dengannya! Bagaimana mungkin kamu mengatakan kalau kamu tidak mengharapkan dia, sementara dia tengah mengandung anakmu? Mas, jangan egois! Berapa banyak hati yang ingin kmu korbankan hanya demi memenuhi hasrat kekanakan kamu? Kamu bukan anak kecil lagi, mas. Tidak setiap keinginan harus terpenuhi. Belajar mensyukuri apa yang kamu miliki, agar jangan lagi kamu menyesal disaat kamu kehilangan."


Pandu menunduk semakin dalam. Ia merasa terluka, sebab Nilam terang-terangan menolaknya.


"Mas,Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan ada konsekuensinya. Dulu kamu memilih menduakan aku, dan konsekuensinya adalah kamu harus siap kehilangan aku. Belajar ikhlas, mas. Belajar merelakan. Tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Yang mas rasakan sama aku saat ini, itu bukan cinta, mas. Tapi rasa penasaran. Aku yakin, perasaanmu ke aku nggak sehebat itu, itu sebabnya kamu bisa menduakan aku. Kamu hanya merasa diantara kita belum usai, dan merasa tidak puas dengan apa yang terjadi. Jangan suburkan egomu, dengan terus memberinya makan. Itu tidak akan membuat kamu menjadi lebih baik, mas. Ikhlaskan aku, syukuri apa yang kamu miliki saat ini." Ucap Nilam panjang lebar.


"Apa kamu sudah merelakan aku menjadi milik orang lain, Nilam?"


"Sudah, mas. Sudah sangat rela. Dan aku harap, mas juga bisa merelakan semuanya. Harus bisa."


"Apa sudah ada orang lain, di hati kamu?"


"Itu tidak perlu mas tau, dan jangan dipikirkan. Yang harus mas pikirkan, bagaimana mas menjaga apa yang mas miliki saat ini." Nilam bangkit dari duduknya.


"Aku pergi mas," ucap gadis itu, hendak meninggalkan Pandu.


"Nilam tunggu! Apa kita masih bisa berteman?" Pandu bangkit, menghentikan Nilam yang sudah berjalan beberapa langkah.


Pandu mengulurkan tangan dengan senyum sendunya.


"Maaf mas, sebaiknya tidak. Ada banyak hati yang harus kita jaga. Jangan mencari wanita lain untuk kamu jadikan teman, cukup berteman dengan istrimu saja." Nilam melenggang meninggalkan Padu yang masih mematung di tempatnya semula.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


__ADS_1


__ADS_2