
Tidak ada obrolan yang terjadi diantara pasangan suami istri itu, dalam perjalanan menuju klinik tempat dokter spesialis kandungan praktek.
Bahkan saat menunggu antrian pun, Pandu memilih sibuk dengan ponselnya daripada berbincang dengan Delvia.
Wanita itu hanya bisa pasrah menahan rasa sakit di hatinya.
Ia bisa apa? Hanya mampu memanjangkan sabar, agar tidak sampai lepas kendali. Meski rasanya lelah berpegang pada harapan kelak pandu akan berubah, namun hanya itu kekuatannya saat ini, agar bisa percaya diri menghadapi hari yang terasa sulit ia lewati.
Setelah menunggu sekitar satu jam, barulah Delvia mendapat giliran.
Ia berjalan di depan suaminya. Melebarkan senyum pada perawat yang memanggil namanya beberapa saat lalu, sebelum masuk ke ruang periksa dimana dokter kandungan sudah menunggunya.
"Bagaimana kabarnya Bu Via?" Tanya dokter itu ramah.
Delvia tersenyum.
"Baik, dokter." Sahutnya pelan. Ia duduk dengan tertatih, sementara Pandu sudah terlebih dahulu meraih kursi di sampingnya untuk ia duduki.
Semua itu tidak luput dari perhatian dokter yang terlihat sudah berumur tersebut.
Delvia menyerahkan buku pasien yang berisi riwayat kehamilannya sejak awal.
"Bu Delvia, silahkan berbaring. Kita lihat adik bayi dulu," ucap dokter tersebut setelah melihat sekilas buku pasien milik Delvia.
Seperti biasa, selalu ada rindu yang wanita itu rasakan, setiap kali alat USG menempel di perutnya, dan memperlihatkan sosok mungil yang hidup dalam rahimnya.
Pandu yang sejak tadi hanya diam, ikut melihat layar monitor yang menunjukkan sebuah bayangan melengkung, dengan gelombang-gelombang di sekitarnya, yang tidak ia mengerti.
Beberapa kali dokter kandungan memutari perut Delvia dengan transducer USG, dengan alis mengkerut, membuat Delvia merasa khawatir.
"Ada apa dok?" Tanyanya tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
"Mmm apakah ibu merasakan keluhan beberapa hari terakhir ini?"
Delvia menggeleng. Ia mengira tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kandungannya selama ini.
Namun begitu, ia menjelaskan tentang perubahan fisik yang dialaminya. Kaki yang bengkak, dan sering merasa kesemutan serta kram, juga tentang keluhannya yang mudah lelah meski tidak terlalu sering beraktifitas.
"Detak jantung bayi Anda tidak stabil. Geraknya pun tidak terlalu aktif, apa Anda tidak merasakan perubahan itu?"
__ADS_1
"Anak saya memang kalem, dok. Dia jarang bergerak." Sahut Delvia pelan.
Dokter tidak lagi melanjutkan pertanyaannya.
Pria paruh baya itu meminta perawat untuk membersihkan sisa gel yang menempel pada perut Delvia.
Setelahnya Delvia dipersilahkan duduk di depan meja kerja sang dokter.
"Begini Bu, detak jantung janin Anda lemah, dan gerakannya juga termasuk lambat,"
"Apa itu berbahaya dok?" Potong Pandu khawatir.
"Jika hal ini berlangsung terus menerus, bisa berbahaya, Pak." Sahutnya pada Pandu.
"Apa anda mengalami stres belakangan ini, Bu?" Tanya dokter itu. Kini pandangannya ke arah Delvia, membuat wajah wanita itu menegang.
Ia dan Pandu sama-sama terkejut mendengar pertanyaan Dokter. Mereka tidak bisa memberikan jawaban pasti, sebab sulit rasanya menjelaskan apa yang keduanya alami.
Pria dengan jas putih itu pun menjelaskan apa saja bahaya yang bisa terjadi, baik pada ibu dan janin di dalam kandungan, bila sang ibu mengalami stress di masa kehamilan.
"Perasaan wanita hamil itu sangat sensitif, dan suasana hatinya gampang berubah. Sangat penting menjaga agar calon ibu tetap bahagia di masa kehamilannya, sebab kondisi kesehatan fisik maupun mentalnya sangat berpengaruh pada janin yang dikandungnya." Ucap sang dokter
"Apa yang harus saya lakukan dok, agar anak saya baik-baik saja?" Tanya Delvia, sementara Pandu hanya diam, tanpa kata.
"Jauhi hal-hal yang membuat Anda merasa tidak nyaman. Ceritakan apa saja keluhan yang anda rasakan, pada orang terdekat. Boleh suami, ataupun keluarga yang dipercaya. Hal ini bisa mengurangi beban pikiran, yang sangat berpengaruh dengan suasana hati Anda. Hal penting lainnya, jaga pola makan agar tetap seimbang, supaya nutrisi yang masuk ke dalam tubuh si kecil juga terpenuhi. Di sini saya liat berat badan anda mengalami penurunan." Ucap dokter sembari memeriksa buku yang berisikan riwayat Delvia selama menjadi pasien dokter tersebut.
"Ini jarang terjadi, Bu. Wanita hamil biasanya akan mengalami kenaikan berat badan seiring usia kehamilan yang semakin tua. Meskipun penurunannya tidak terlalu besar, namun ini harus diperhatikan. Perbanyak makan buah dan sayur, usahakan tidak memakan makanan cepat saji atau makanan setengah matang." Jelas dokter lagi.
"Ini hasil USG Anda. Air ketubannya masih cukup, dan tidak keruh. Masih bagus dan aman saya rasa. Ini resepnya, silahkan tebus di apotek. Periksa kesini dua Minggu lagi Bu ya, jangan lupa jaga kesehatan. Bapak, tolong lebih sabar dan memerhatikan istrinya ya ...." Saran dokter senior tersebut.
"Ada yang mau ditanyakan lagi?" Tanya dokter spesialis itu.
Delvia tidak tahu harus menanyakan apa, wanita itu hanya menggeleng canggung pada sang dokter.
Mereka akhirnya keluar dengan perasaan yang tidak menentu.
Setelah selesai menebus obat, mereka berjalan beriringan menuju mobil.
Di perjalanan kembali suasana hening menemani keduanya. Hingga Pandu membelokkan mobil menuju sebuah restaurant yang cukup terkenal di kota itu pun, Delvia hanya diam, tidak berniat protes ataupun bertanya pada suaminya.
__ADS_1
"Ayo turun." Ucap Pandu, saat mesin mobil sudah ia matikan.
"Aku nggak lapar, Pan. Aku tunggu di mobil aja ya." Sahut Delvia, menolah ke arah Pandu.
"Kita kesini bukan untuk aku, tapi untuk kamu. Kamu ingat kan kata dokter barusan? Berat badan kamu turun, dan itu tidak baik untuk bayi di perutmu. Lagian apa sih yang kamu makan selama ini? Bisa-bisanya berat badan sampai turun. Bukannya aku selalu transfer uang untuk kebutuhan kamu dan bayi itu? Apa masih kurang?" Cecar Pandu melontarkan isi hatinya.
"Kamu juga nggak lupa kan, yang dokter bilang sebelumnya? Stress pada ibu hamil itu sangat mempengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya. Iya, kamu kasih aku uang yang cukup. Bahkan lebih dari cukup jika untuk aku sekadar makan di restauran seperti ini setiap hari. Tapi aku nggak hanya butuh uang, Pan. Anak ini nggak cukup hanya dengan nutrisi dari makanan yang aku makan. Aku dan dia butuh sosok kamu, sebagai suami dan ayah untuknya. Itu jauuuh lebih penting daripada uang kamu!" Tegas Delvia, tidak lagi bisa menahan dirinya.
Banyak yang menganggap remeh masalah psikis ibu hamil. Acap kali pasangan atau orang disekitar menganggap wanita yang berbadan dua itu berlebihan dalam bersikap, saat wanita tersebut menangis atau mengalami mood swing.
Tanpa mereka sadari, perlakuan mereka sangat berpengaruh terhadap kondisi ibu hamil tersebut. Banyak kasus depresi saat kehamilan, yang tidak disadari oleh sekitarnya. Dan itu bisa berdampak buruk bagi ibu dan calon bayi yang dikandungnya.
Pandu mendengus kesal. Ia tidak suka dicecar seperti saat ini.
Meski dalam hatinya ia membenarkan ucapan Delvia, namun egonya tidak ingin tunduk pada kenyataan itu.
"Kamu menyudutkan aku? Kamu lupa jika semua ini ...."
"Salah aku?!" Potong Delvia dengan mata menatap tajam.
"Aku yang salah karena hamil anak kamu? Aku yang salah karena menjebak kamu? Kamu lupa, bahkan sering kali kamu yang mencariku setiap kali kamu menginginkan tubuhku! Bahkan kamu menikmati setiap penyatuan kita. Apa itu salah aku? Kamu terlalu munafik, Pan. Merasa diri kamu sebagai korban, padahal kamulah pelaku utamanya. Kamu yang tidak bisa menahan nafsu, kamu yang tidak setia, kmu yang ...."
"Cukup! Jangan lagi ingatkan aku dengan kebodohan masa laluku! Karena semua ini, aku harus kehilangan wanita yang aku cintai." Sahut Pandu berusaha menahan emosi. Ia memejamkan mata dengan nafas memburu.
Delvia yang sudah lama menahan rasa sakit hatinya, kini tidak bisa lagi menahan kemarahan.
Air mata wanita itu mengalir deras, tanpa bisa ia tahan. Matanya menatap nanar laki-laki yang dicintai sekaligus yang menyakitinya begitu dalam.
Kalau ditanya apakah ia menyesal, jelas saja Delvia menyesal telah melangkah sejauh ini. Memiliki orang yang dicintai, ternyata tidak membuatnya bahagia. Sebab hanya raga mereka saja yang berdekatan, sedangkan jiwa mereka saling berjauhan.
Tanpa banyak berkata, Delvia keluar dari mobil dan berlari dengan mengabaikan perut besarnya. Pandu terkejut melihat Delvia yang sudah menjauh, menyusuri trotoar yang cukup ramai malam itu.
"Via ...!" Teriak Pandu, namun diabaikan oleh Delvia. Laki-laki itu turun dari mobil, dan melebarkan langkahnya, mencoba meraih tubuh Delvia yang baru saja dapat ia jangkau, namun sesuatu yang tidak terduga terjadi. Kaki Delvia tersandung, hingga tubuhnya terjerembab.
"Aaaa ...." Pekik wanita itu, memegang perutnya yang terbentur di trotoar.
^_________^^_________^^_________^
__ADS_1