
Plak
Refleks tangan Nilam mendarat di bahu Pandu dengan suara yang cukup keras.
Setelah itu baru Nilam sadar kalau ia telah menyakiti sang kekasih.
"Ah mm maaf mas ..." Ucapnya panik.
"Kamu kasar banget sih yank ...." Keluh Pandu mengusap lengannya yang terasa kebas.
"Maaf mas ... Mas juga sih ... Ngomongnya gitu bangeet." Sahut Nilam dengan wajah merona.
Pandu yang awalnya sedikit kesal, akhirnya tertawa terbahak, menyadari Nilam tengah menahan malu.
"Oohh jadi ceritanya malu nih? Kirain nggak mau jadi ibu untuk anak-anakku," ucapnya dengan mata mengerling nakal.
Nilam tidak bisa menjawab ucapan Pandu, gadis itu melangkah mendahului sang kekasih.
"Yank ... Ke sini," Pandu menarik Nilam, menuju sebuah toko perhiasan.
Nilam tentu tidak dapat menolak, namun untuk membeli hadiah di tempat itu juga, rasanya ia belum sanggup.
Satu cincin kecil saja, bisa menghabiskan gajinya selama sebulan. Bagaimana dia akan membeli sesuatu yang lebih besar, dan harus sepasang,?
"Mmm mas ... Kalau belinya nggak usah di sini, nggak apa kan ya?"
Tanyanya ragu. Ia memutuskan untuk jujur, dari pada nanti ia menyesal dan tidak ikhlas memberikannya.
__ADS_1
Pandu tersenyum, menoleh ke arah gadis yang tangannya masih setia ia genggam.
"Beli kado untuk mama sama papa nanti aja yank ... Aku mau liat-liat di sini dulu, nggak apa kan?"
"Ooh, iya mas, nggak apa-apa." Ucap Nilam tersenyum.
Mendengar penjelasan Pandu, barulah gadis itu bisa bernafas lega.
Lebih dari satu jam, Pandu sibuk memilih sesuatu, entah apa.
Nilam tidak ingin terlalu kepo dengan apa yang pria itu beli. Bukan tidak perduli, namun ia merasa belum saatnya ia tahu segala pengeluaran Pandu, dan ia merasa belum memiliki hak untuk itu.
"Yank ... Sini ...." Pandu melambaikan tangan, meminta Nilam agar mendekat.
"Iya mas ...." Sahutnya menuruti perintah sang kekasih. Ia meninggalkan rasa terpesonanya, pada sebuah kalung sederhana yang mencuri perhatian gadis itu.
Tanpa banyak berkata, Pandu meraih tangan Nilam, memasangkan cincin mungil di jari manis gadis itu.
Nilam mematung sejenak. Cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Gunadh.
Melihat gadisnya termenung, Pandu menepuk sedikit bahu gadis itu.
"Yank ...." Panggilnya.
"Kenapa diam aja? Kamu nggak suka kah?" Lanjutnya.
"Ah ... Nggak ... Aku suka kok ... Mmm tapi apa ini nggak berlebihan mas?" Tanya Nilam ragu.
__ADS_1
Pandu menggeleng.
"Nggak ada yang berlebihan untuk kamu sayang ... Tapi maaf baru kali ini mas ada waktu untuk belikan kamu tanda pengikat. Maaf juga, karena nggak bisa lamar kamu dengan pesta. Kesibukan mas akhir-akhir ini begitu menyita waktu juga pikiran mas. Tapi rasa sayang dan rasa takut kehilangan kamu, masih menggebu seperti dulu." Pandu berucap dengan tenang, tanpa keraguan sedikit pun, yang bisa Nilam lihat di manik mata pria sipit itu.
"Kamu mau kan menerima mas sebagai tunangan kamu mulai saat ini?" Gadis itu hanya mampu mengangguk, tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dengan ini, kamu bukan hanya sekadar pacar mas lagi. Kamu adalah calon istri, ibu dari anak-anak mas kelak. Jaga diri baik-baik, jaga kepercayaan mas, jaga cinta kita agar semakin kuat." Pintanya, kembali hanya mendapat anggukan dari Nilam.
Setelah momen mengesankan di toko perhiasan usai, Nilam dan Pandu menuju cabang sebuah toko busana adat Bali, yang cukup terkenal di kota N.
Keputusan itu akhirnya mereka ambil, sebab sejak tadi mereka tidak menemukan ide yang tepat, hendak memberi hadia apa untuk tuan dan nyonya Wijaya.
5.
KEPINGAN HATI DI LANGIT QATAR
(Chika Ssi)
Hayu Hasmita, seorang yatim piatu yang rela menguras isi rekening demi bertemu dengan seorang pria asal Qatar, yang dia kenal melalui aplikasi kencan online. Dia harus menerima kenyataan bahwa lelaki bernama Ferhat Al Malik itu hanya main-main terhadapnya.
Demi bisa kembali ke Indonesia, Hayu harus mengumpulkan uang dengan bekerja sebagai pelayan di rumah Ferhat. Sebuah rahasia pun terungkap, dan membuat Hayu semakin sakit hati dengan keluarga besar Al Malik.
"Bodoh, adalah salah satu kata yang tepat untukku. Aku terlalu berharap bisa menggapai langit, padahal kaki serta tanganku tak cukup panjang untuk menjangkaunya." - Hayu Hasmita.
Rahasia apa yang disembunyikan oleh Ferhat dan keluarganya? Mampukah Hayu merebut hati Ferhat sehingga usahanya pergi ke Qatar tidak sia-sia? Atau Hayu memilih menyerah dan kembali ke Indonesia setelah uangnya cukup untuk pulang?
__ADS_1