
"Mar ... Mmm aku ...." Nilam tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Otaknya bingung bagaimana merangkai kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya kemarin malam.
Ia tahu ia salah, pergi begitu saja di tengah perbincangan serius. Ia sudah tidak sopan, terutama kepada ayahnya. Namun, tidakkah mereka mengerti kenapa ia sampai bersikap seperti itu?
Memang dalam keluarganya, pak Indra adalah sosok yang sangat dihormati. Tidak ada satu pun diantara mereka yang berani bersikap tidak sopan, pada laki-laki yang menjadi kepala keluarga tersebut.
Tapi kemarin, perasaan Nilam benar-benar tidak karuan.
"Kamu nggak ngerti Mar, kemarin pikiran mbak kacau. Apa yang bapak katakan, benar-benar membuat mbak terkejut. Kamu tau kan kalau mbak baru saja patah hati? Dan, tiba-tiba bapak berniat menjodohkan mbak. Bisa kamu bayangkan gimana perasaan mbak?"
"Yaaaa mestinya mbak bisa tahan diri lah ... Mbak kan tau bapak kondisinya kayak gimana. Bapak sudah sakit-sakitan, Mbak nggak mikir perasaan beliau?"
"Mar! Justru karena mbak mikirin perasaan beliau, mangkanya mbak pergi. Mbak nggak mau salah ngomong, yang nanti justru semakin membuat bapak sedih, dan menjadikan itu beban pikiran bapak! Kamu nggak usah ajarin mbak, gimana caranya bersikap!" Sahut Nilam marah. Ia tidak terima disalahkan, soal kejadian kemarin malam.
"Ehm," deheman dari arah pintu belakang, membuat dua kakak beradik yang sedang berdebat itu sama-sama menoleh.
Pak Indra melangkah, mendekati kedua anaknya yang tengah bersitegang.
"Mar, bapak mau ngomong berdua sama mbakmu," Ucap pak Indra menatap sang anak bungsu, setelah ia mencapai meja tempat kakak beradik itu duduk.
Damar mengangguk, lalu meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan apapun.
"Nak ...." Pak Indra memanggil Nilam dengan lembut. Nilam hanya menunduk, tidak berani menatap sang ayah.
"Bapak minta maaf kalau sudah membuat kamu marah. Bapak juga minta maaf dengan keputusan yang sudah bapak ambil. Bapak hanya ingin yang terbaik untuk kamu." Jelas pria paruh baya itu, dengan tenang.
"Tapi pak ... Aku belum memikirkan untuk menikah. Apalagi dengan mas Bas." Nilam menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak nyaman dengan obrolan ini. Ia tidak terbiasa mengutarakan perasaannya pada sang ayah. Selama ini ia lebih banyak memendam semua sendirian.
Tapi kali ini, ia harus menyuarakan isi hatinya.
"Ada yang salah dengan Bas? Dia laki-laki yang baik dan pekerja keras." Ucap pak Indra lagi.
Nilam menggeleng, tidak dapat menjawab pertanyaan sang ayah.
Jauh di lubuk hatinya, ia ingin menjawab, jika ia tidak memiliki rasa pada laki-laki pilihan ayahnya itu.
Apa jadinya rumah tangga mereka, jika tidak ada cinta diantara keduanya?
__ADS_1
Namun semua kalimat itu hanya ada dalam hatinya, tanpa bisa ia keluarkan.
"Bapak hanya ingin memastikan kamu berada di samping orang yang tepat. Bisa menjaga dan melindungi kamu, yang tulus menyayangimu."
'dari mana bapak tau kalau mas Bas bisa melakukan itu?' ingin Nilam menjawab, namun mulutnya seakan terkunci rapat.
"Nak ... Kamu dengar bapak kan?" Tanya pak Indra, sebab Nilam hanya diam sembari menundukkan kepala.
"Iya pak, dengar." Sahutnya lirih.
"Kemarin kamu pergi begitu saja, saat obrolan belum selesai. Kamu meninggalkan nak Bas, tanpa mengatakan apapun padanya, membuat dia tersinggung."
"Maaf pak."
"Jangan lagi melakukan itu ya, bapak tidak pernah mengajarkan anak-anak bapak untuk bersikap tidak sopan. Nanti temui dia, mint maaf sama dia." Pak Indra bangkit mendekati putrinya, sejenak mengusap kepala Nilam dengan lembut, sebelum meninggalkan gadis itu sendirian di taman belakang rumah.
Nilam menelungkup kan wajahnya di atas meja beton itu. Merasa sendiri, merasa tidak ada yang mengerti perasaannya.
Ia kehilangan cintanya, harus melepas pekerjaannya karen hal itu. Berusaha bangkit, memulai kembali menata hidupnya. Dan kini tanpa aba-aba, sang ayah memutuskan untuk menjodohkan dirinya, disaat dia belum siap memulai hubungan dengan lawan jenis.
Apa yang harus dia lakukan?
***
"Lam, kamu belum makan lho sejak tadi,"
"Nanti aja Bu, belum lapar." Sahut gadis itu ketika Bu Sukma menghampirinya di dalam kamar.
Nilam tengah bersiap untuk kembali ke kota tempatnya bekerja.
Ingin rasanya ia pergi menggunakan angkutan umum saat ini, agar tidak usah bertemu dengan Baskara terlebih dahulu. Namun, itu pasti akan membuat masalah bertambah rumit. Terlebih, ayahnya pasti akan semakin menekannya.
"Mbak, mas Bas udah datang tuh." Damar mendekati kamar sang kakak, tanpa masuk seperti biasa.
"Iya," jawab Nilam singkat.
Bu Sukma memerhatikan Nilam yang tengah melipat dan memasukkan baju ke dalam tasnya. Wajah gadis itu murung, sedikitpun tidak nampak binar bahagia dari matanya.
"Lam ... Kamu masih marah soal yang kemarin ya?" Tanya wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Nggak, bu" sahut Nilam, sembari memainkan resleting tas yang baru saja ditutupnya.
Bu Sukma mendekati Nilam, duduk di samping gadis itu.
"Kamu tahu nak, diantara kalian berempat, bapak paling sering memikirkan kamu. Sering khawatir sama kamu." Ucap Bu Sukma lirih, sembari mengusap lembut puncak kepala putrinya.
Nilam yang mendengar itu, terdiam. Tidak memberi reaksi apapun. Ia masih menyimak lanjutan kalimat yang akan ibunya ucapkan.
"Bapak merasa sangat bersalah sama kamu, karena dibanding kakak-kakak kamu, kamu sendiri yang tidak bisa kami sekolahkan hingga perguruan tinggi. Terpaksa harus bekerja hanya dengan ijasah SMA," Bu Sukma berucap penuh penyesalan.
"Apa hubungannya dengan perjodohan yang bapak putuskan Bu?"
"Karena bapak ingin memastikan kamu mendapat pasangan yang terbaik."
"Karen aku hanya tamatan SMA, jadi aku nggak bisa menentukan mana yang terbaik untukku, begitu Bu?"
"Nggak gitu nak ... Bapak tau kamu anak yang baik dan terlalu penurut. Kamu selalu mengalah pada orang lain. Akan sangat mudah untuk orang lain memanfaatkan kebaikan kamu. Bapak ingin kamu mendapatkan pasangan, orang yang bisa membela kamu,"
"Tapi kenapa harus mas Bas, Bu. Dan kenapa kalian nggak bicarakan dulu sama aku? Kenapa tiba-tiba aja putuskan semuanya."
Nilam kembali menitikkan air matanya. Rasanya tidak adil semua perlakuan sang ayah pada dirinya.
"Bas anak yang baik, Lam. Terlepas dari kebiasaannya yang suka mabuk dan berjudi, dia anak yang bertanggung jawab. Dia juga tulus menyayangi kamu. Bahkan setahu ibu, beberapa bulan terakhir ini, dia bahkan sudah jarang kumpul dengan teman-temannya untuk mabuk dan berjudi."
Nilam menggeleng. Tidak ingin mendengar penjelasan sang ibu.
"Soal keputusan yang mendadak, bapak sebenarnya sudah menjodohkan kamu sama nak Bas, jauuh sebelum kamu mengenalkan nak Pandu pada kami. Jadi rencana itu tidak mendadak. Hanya saja, salahnya kami tidak bicarakan sama kamu terlebih dahulu. Ibu dan bapak kira, kamu sudah tahu dan pasti akan menerima nak Bas."
"Harusnya kalian bilang sama aku, Bu ...."
Nilam mengusap air matanya.
"Ibu minta maaf soal itu. Tapi percayalah, dari hati terdalam kami, ibu dan bapak menginginkan yang terbaik untuk kamu."
"Tapi untuk saat ini, aku belum ingin menikah Bu, aku masih ingin bekerja."
"Nanti lagi kita bicarakan soal itu ya ... Sekarang keluar dulu. Kamu ajak nak Bas untuk makan, sebelum kalian berangkat ke kota."
Bu Sukma menepuk sedikit puncak kepala Nilam, lalu bangkit dan meninggalkan sang putri di kamarnya.
__ADS_1
Mau tidak mau, Nilam pun mengikuti apa yang ibunya katakan.