CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 84


__ADS_3

"Aku minta maaf soal kemarin mas. Aku nggak bermaksud membuat mas tersinggung. Aku ...." Nilam tidak menemukan kata yang tepat lagi untuk menyampaikan isi hatinya.


Ada banyak yang ingin Nilam terangkan, tetang perasaannya saat ini, namun ia merasa ragu. Apa Bas akan mengerti? Atau malah seperti halnya yang lain, laki-laki itu justru menasihatinya? Menekan dia untuk bisa menerima semua yang terjadi secara tiba-tiba itu.


Melihat Nilam tidak melanjutkan kalimatnya, Bas pun berkata,


"Mas ngerti perasaan kamu. Mas juga minta maaf, kalau seandainya apa yang disampaikan paman mengenai perjodohan kita, membuat kamu merasa tidak nyaman. Bukan mau membela diri, tapi sebenarnya mas sudah beberapa kali mencoba mengingatkan paman akan perjodohan ini. Tapi paman selalu menjawab dengan yakin, kalau keputusannya itu sudah bulat. Dan itu membuat mas tidak bisa mengelak lagi. Maaf kalau akhirnya mas nggak bisa menolak." Dengan menundukkan kepala Baskara mengakhiri kalimatnya.


Nilam menarik nafas dalam. Apa yang diucapkan Baskara, sudah menjadi jawaban kalau ia tidak bisa bisa lagi menghindari perjodohan ini.


Tapi dia tidak ingin memberi harapan pada laki-laki itu. Sebab Nilam belum yakin apakah ia bisa menyukai Bas atau tidak nantinya.


"Tapi mas, aku nggak mau mas terlalu berharap sama aku, mas tau sendiri gimana masa laluku. Aku nggak mau mas kecewa nantinya."


Baskara tersenyum mendengar apa yang diucapkan Nilam terhadapnya.


"Kamu nggak usah pikirkan perasaan mas, mas tau apa yang harus mas lakukan. Yang terpenting adalah kamu. Apa yang kamu inginkan, katakan saja. Sebisa mungkin mas akan selalu mendukung kamu. Jangan terbebani oleh hubungan ini."


"Mas,"


"Sekarang gini. Hubungan seperti apa yang kamu inginkan terjalin diantara kita? Teman, pasangan yang terpaksa bersama, atau apa? Mas akan ikuti mau kamu."

__ADS_1


Nilam terdiam. Tidak bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Lam, apa kamu nyaman saat mas ada di dekat kamu?"


Nilam mengangguk.


"Apa kamu pernah merasa takut sama mas? Atau merasa tidak suka, mas ada di sekitar kamu?"


Nilam menggeleng.


"Kalau begitu, biarkan seperti ini saja dulu. Jangan pikirkan apapun, yang membuat rasa nyaman kamu menghilang. Dan jangan ciptakan tembok di hati kamu, untuk membatasi perasaan apapun yang kamu rasakan. Mas akan selalu menemani kamu, menjadi apapun yang bisa membuat kamu merasa aman."


"Mas," Nilam menatap Baskara dengan tatapan sendu.


"Kamu udah tau kan perasaan mas ke kamu? Itu alasannya mas ngelakuin ini semua. Mas nggak bisa kasih kamu kebahagiaan yang kamu harapkan, tapi sebisa mungkin, mas akan menemani kamu hingga kamu bertemu dengan kebahagiaan itu."


"Bagaimana kalau ternyata pengorbanan kamu sia-sia? Bagaimana kalau aku kembali jatuh cinta, tapi pada orang lain?"


"Mas akan tetap menemani kamu hingga waktu itu tiba. Tapi sebelum itu terjadi, mas yakin kalau kamu akan jatuh cinta sedalam-dalamnya sama mas," ucap Baskara sembari tertawa.


Nilam yang semula merasa terharu akan ketulusan hati Baskara, dibuat kesal oleh kalimat terakhir yang diucapkan laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku serius ...." Keluhnya sembari mengaduk kopi yang sudah mulai dingin itu.


"Mas juga serius." Sahut Baskara menatap intens gadis di depannya.


Nilam tidak lagi menanggapi ucapan Baskara. Ia tahu, laki-laki itu hanya ingin menggodanya.


"Jangan pikirkan hal yang belum terjadi, Lam ... Jalani saja semua seperti air mengalir. Jangan takut akan sesuatu yang belum pasti. Mas nggak akan memaksa kamu untuk menyukai mas dalam waktu singkat."


"Itu yang aku takutkan mas ... Sebab masih ada luka masa lalu yang belum sembuh di hati aku. Aku takut, justru akan menjadikan kamu sebagai pelarian. Menjadikan kamu sebagai tumbal kekecewaan yang aku rasa, atas apa yang terjadi dulu."


Baskara mengangguk. Ia cukup mengerti akan apa yang Nilam rasakan. Gadis itu terlalu tulus untuk bisa memanfaatkan orang lain.


Padahal jika ingin, Nilam bisa saja menjadikan dirinya sebagai pelarian.


Ia semakin yakin ingin menaklukan hati gadis itu. Semakin yakin menjadikan Nilam sebagai calon pendamping hidupnya kelak. Sebab gadis seperti Nilam, saat mencintai akan menyerahkan sepenuh hatinya untuk pasangannya kelak.


Lebih dari satu jam mereka berada di tempat itu, sebelum akhirnya mereka kembali melakukan perjalanan menuju kota tempat Nilam bekerja.


Gadis itu kini lebih lega, sebab bisa mengungkapkan isi hatinya dengan lebih gamblang. Baskara memberinya ruang untuk berbagi cerita. Laki-laki itu berjanji, akan selalu ada untuk Nilam. Sebagai teman yang bisa menjadi tempat berkeluh kesah, sebagai saudara yang akan selalu melindunginya dari segala ketakutan, sebagai apapun yang gadis itu mau.


"Jangan tutup hati kamu, biarkan semua berjalan seperti apa adanya. Biarkan takdir yang mengantar kita ke tujuan terakhir. Mas akan selalu ada, kapanpun kamu butuh mas." Ucapan terkahir Baskara ketika mereka sudah tiba di kostan gadis itu.

__ADS_1


Nilam hanya mengangguk, tanpa bisa berkata apapun lagi. Menatap punggung laki-laki, yang sudah melajukan motornya melewati gerbang kostan.


__ADS_2