
Bas merenung, memikirkan apa yang ayahnya katakan.
Benar memang ucapan laki-laki itu, ia harus memikirkan kenyamanan dan keamanan Nilam, sebelum menjadikan gadis itu pendamping hidup.
Tapi, itu berarti ia harus memanjangkan sabar untuk mempersunting kekasihnya? Hah, Bas merasa tersiksa saat ini.
"Ngapain bapakmu datang ke mari, Bas?" Bu Rahma datang mendekati anaknya, yang tengah bersantai menikmati rokok di teras rumah. Wanita itu ikut duduk di kursi kayu sebelah Baskara.
Bas menoleh, sedikit terkejut dengan kehadiran sang ibu yang tiba-tiba. Ia melihat ada raut tidak suka yang tergambar jelas di wajah ibunya.
"Nggak ada apa-apa, Bu. Ngobrol biasa aja." sahut Bas akhirnya.
"Tapi, tadi samar-samar ibu denger obrolan kalian. Kamu berniat bikin rumah?" cecar wanita itu lagi.
Bas menarik nafas dalam. Ia enggan berkata jujur pada ibunya, sebab wanita itu pasti akan banyak protes. Namun ia juga tidak bisa menyembunyikan rencananya bersama sang ayah.
__ADS_1
"Kenapa harus bikin rumah sih, Bas? Apa ini nggak cukup besar? Cukup perbaiki ini saja dulu, nggak usah denger apa kata ayahmu. Memang dia mau bantuin biayanya?"
Inilah yang Bas tidak suka pada sang ibu, selalu mengandalkan otot leher setiap bicara. Suara tinggi dan wajah tidak sukanya, tidak pernah wanita itu sembunyikan bila merasa tidak suka pada sesuatu.
"Mana lagi dari rumah ini yang mau direnovasi, Bu? Semua masih baik-baik saja." tanya Bas heran, sebab baru beberapa bulan lalu ibunya meminta uang untuk memperbaiki dapur dan kamar mandi.
"Lagi pula, aku dan satria sudah sama-sama dewasa. Suatu saat kami pasti akan berumah tangga, nggak mungkin kan hidup bersama dalam satu rumah? Belum lagi, nanti kami sama-sama akan punya anak, mau tidur di mana anak-anak kami?"
"Tapi itu kan masih jauh, Bas! Satria juga baru belajar bekerja, nggak mungkin dia memikirkan akan menikah dalam waktu dekat. Pokoknya ibu nggak setuju kalau kamu bikin rumah! Ibu mau kita semua kumpul di sini." tegas wanita itu, lalu beranjak pergi meninggalkan anaknya.
Baskara hanya bisa mengurut keningnya yang tiba-tiba pening. Suasana rumah yang seperti ini, mau ia berikan pada Nilam? Bisa-bisa gadisnya itu makan hati setiap hari. Belum lagi harus berhadapan dengan Utari, anak kesayangan sang ibu.
"Mau ke mana, Bas?" tanya Bu Rahma, saat melihat anaknya sudah berganti pakaian.
"Ke rumah paman Indra, Bu."
__ADS_1
Mendengar jawaban anaknya, ibu tiga anak itu melengos.
"Jangan makan di sana, nanti. Ibu udah masak untuk kamu di rumah." ucapnya sambil berlalu.
"Iya, Bu. Aku pergi dulu."
Bas melanjutkan langkah, mengabaikan wajah tertekuk ibunya.
Kalau dipikir lagi, Bas merasa lucu dengan hidupnya.
Dulu dia selalu dipandang sebelah mata oleh ibu kandungnya. Tidak pernah dianggap benar, apapun yang dikerjakan. Hubungannya dengan sang ayah pun renggang, sebab ia termakan ucapan-ucapan sang ibu. Ia merasa kekacauan kelurganya bersumber dari laki-laki itu yang memilih mendua, dan tidak perduli pada keluarga.
Paman Indra-nya lah yang memberinya dukungan, yang memberi semangat dan menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk bangkit.
Seburuk apapun penilaian orang terhadapnya, yang suka mabuk dan berjudi, keluarga sang paman tetap memperlakukan dia dengan baik. Itu yang membuat Bas kagum pada keluarga Nilam.
__ADS_1
Terlebih saat ini, anak gadis dari keluarga itu yang telah mengisi hatinya, ia semakin ingin berada dekat dengan keluarga itu.