
Zenya perlahan mengunyah makanan dengan perasaan bimbang, hatinya berkecamuk bimbang dan ragu antara harus mempercayai ucapan Rebecca atau tidak, ia terus menduga-duga, dan menebak-nebak sebenarnya apa rencana yang tengah Rebecca lancarkan. Namun tak bisa di pungkiri bahwa rasa penasaran sudah menggrogoti akal sehatnya
"Apa yang sedang di rencanakan oleh Rebecca?" Pikirannya penuh dengan pertanyaan seperti itu . Benaknya sudah dipenuhi dengan seribu pertanyaan dan seribu kemungkinan yang akan di lakukan oleh Rebecca.
"Kau lama sekali!" Safir yang sedari tadi hanya berpangku tangan tak bersuara, membentak Zenya yang hanya termenung sambil mengunyah perlahan makanan yang sudah terisi didalam mulutnya
"Aku harus menikmati setiap gigitannya" Elak Zenya acuh
"Astaga, kau tahu siapa yang sedang menunggumu?" Mata Safir sudah membulat sempurna penuh kekesalan.
"Ck, Nona tinggal beri tahu saya tempat yang harus dituju, setelah selesai makan saya pasti akan segera menyusul, Kebiasaan saya memang harus menikmati rasa dari setiap gigitan makanan yang masuk kedalam mulut saya" Zenya berdecak, ia berbicara sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Ia terlihat sangat acuh dan tidak perduli kepada mereka berdua. Hal itu sontak membuat Safir mendengus sambil memutar bola matanya "Kau memang gemar berkelit, dasar sialann" Desisnya
Zenya tak berkomentar, Ia masih asyik mencoba makanan yang lain, Rebecca terlihat geram, Ia mencoba meredam amarahnya, memejamkan mata dengan kuat.
"Kau, Sebaiknya jangan menguji kesabaranku" Rebecca memaksakan diri untuk tersenyum
"Jika itu yang kau inginkan, Setelah selesai makan kau bisa pergi ke perpustakaan, Aku akan menunggumu disana" Rebecca mengalah, Ia akhirnya pergi tanpa mendapat jawaban pasti dari Zenya.
"Kedua ular itu, ia sangat bersikeras membawaku pergi, sepertinya tidak akan ada hari tenang disisa hidupku" Selera makannya sudah menghilang entah kemana, Ia mencoba memaksa memasukkan makanan kedalam mulutnya, tapi hal itu malah membuatnya mual.
"Aish! Padahal tadi aku sangat lapar" Ia sudah mengerucutkan bibirnya, menatap nanar makanan yang masih hampir utuh.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang akan ditunjukan oleh kedua ular aneh itu" Ucapnya pada diri sendiri, Setelah itu Ia beranjak lalu segera melangkah menuju perpustakaan.
*
*
Sesampainya Zenya Di perpustakaan, Nampak Rebecca sudah duduk manis sambil melipat tangannya di dada, Tak lupa Safir sang sahabat sejati senantiasa mendampinginya, Tatapan dan ekspresi wajahnya sudah tak ramah tatkala melihat Zenya yang masih termenung di depan pintu
"Kenapa? Kau takut aku langsung melayangkan belatii ke arahmu setelah kau masuk?" Celetuk Safir sambil mengerlingkan bola matanya.
__ADS_1
Zenya mendengus malas, dengan langkah gontai dia masuk dan menghampiri Rebecca.
"Apa yang kau rencanakan? Langsung saja pada intinya!" Rebecca menyunggingkan ujung bibirnya tatkala mendengar Zenya sudah tak sabar, Ia berdecak halus lalu berdiri,
"Kau mulai menunjukan sifat arogan ya, Gadis" Rebecca menggeleng
"Aku benar-benar hanya ingin membantumu, Tak ku sangka kau waspada sampai seperti ini, ya!" Rebecca terdengar amat tersinggung
"Bukan seperti itu, Jika kau bermaksud membantuku, Aku sangat berterimakasih! Tapi, Jika dipikir dengan logika, Sudah sepantasnya aku waspada terhadapmu, kan? Apa kau lupa kesan pertama yang kau torehkan sangat tidak memungkinkan untukku percaya bahwa kau ingin membantu" Zenya mencoba kuat, Ia berusaha menopang kuat kakinya yang sebenarnya sudah gemetar hebat.
"Hahaha, Kau ternyata cukup jujur ya.. Baiklah, Aku tak akan perhitungan dengan sikap kurang ajarmu padaku hari ini, Hitung-hitung sebagai permintaan maafku tempo hari, Tapi kedepannya, jika kau berbicara tak sopan seperti ini lagi aku tak akan mentolerirnya, Aku sudah berbaik hati, loh!" Ujar Rebecca sambil memberikan map coklat kepada Zenya, Zenya masih mematung, Tangannya enggan meraih map coklat tersebut.
"Kenapa? Kau tak mau.." Dengan kasar Zenya mengambil map tersebut dari tangan Rebecca, Safir hendak marah, Tapi Rebecca memberikan isyarat melalui matanya.
"Kau bisa baca dengan teliti semua yang ada disitu, Aku tidak bermain trik, Aku benar-benar hanya sedang menjalankan tugasku, Jika kau mau kau bisa bekerja sama denganku, Jika tidak, Mau bagaimana lagi" Zenya melirik sekilas ke arah Rebecca dan Safir secara bergantian. Setelah itu, ia mulai membuka map tersebut dengan hati-hati, Lalu membaca semua tulisannya dengan seksama.
"Tidak ada yang aneh, Justru ini ide yang sangat briliant! Sudah jelas bahwa Rebecca adalah adik dari psikopat itu, Sudah sepantasnya ia bisa mendapatkan ide sebagus ini" Batin Zenya yang masih membaca semua proposal yang ada ditangannya,
Rebecca tersenyum penuh isyarat memperhatikan mimik wajah Zenya, "Kau pasti kagum, kan?" Batinnya
*
*
"Aku serahkan sisanya padamu, Jika ada kendala dengan proses nya kau bisa langsung hubungi aku, Ini nomorku" Rebecca memperlihatkan deretan angka du layar ponselnya, Dengan cepat Zenya mencatat nomor tersebut.
"Baik, Aku berterimakasih karena kau sudah sangat membantu. Dan.. Maaf aku sudah salah tentangmu. Aku sangat malu" Zenya berkata dengan jujur
"Ya, Tak masalah, Kau memang pasti terkejut, Aku bisa mentolerirnya, dan.. Aku sekarang sedang melaksanakan tugas, Jadi aku harus profesional" Rebecca menyeringai
"Ck, Seringai itu sangat mirip" Batin Zenya
__ADS_1
"Yasudah, Kalau begitu aku pergi dulu, masalah dana kau bisa mengkoordinasikan semuanya dengan bendahara di kegiatan sosial, Dia bisa membantumu memberikan gambaran berapa dana yang akan kau keluarkan untuk acara amal ini. Masalah pejabat dan konglomerat kau bisa serahkan padaku. Semoga mendapatkan hasil yang memuaskan ya, Zenya!" Rebecca mengulurkan tangannya, Zenya segera menjabat tangan rekan kerja barunya itu, "Ya! Terimkasih!" Ia tersenyum manis.
Rebecca melenggang keluar dari ruangan tersebut Ia menyunginggkan ujung bibirnya sambil melipat tangan di dada
"the game will start soon"
*
*
Zenya dan tim nya mulai terlihat sibuk, Fiona tampak mengerutkan keningnya, "Kenapa Rebecca malah membantu Zenya? Bukannya dia akan menghancurkannya?" Omelnya dalam hati.
"Fiona? Kenapa malah mematung? Kita harus bergegas!" Ujar Zenya yang sebenarnya masih malas melihat Fiona
"Ck! Lihatlah sifat belagu nya ini!" Gerutu Fiona dalam hati
Dengan keadaan malas dan terpaksa Fiona harus segera membantu, Ia mulai mengerjakan tugasnya, Membaca dengan detail proposal yang baru saja diberikan oleh Rebecca pada Zenya.
"Tidak ada yang aneh disini, Apa Rebecca benar-benar akan membantu Zenya? Atau dia akan mengacaukan semuanya nanti? Jika melibatkan tugas sekolah itu celaka! Kita semua akan kena imbasnya! Tidak, Ia tidak boleh mengacaukan tugas sekolah!"
"Zenya, yang ku tahu kau sempat bertengkar dengan Rebecca, Bagaimana bisa sekarang dia membantumu?" Fiona berbasa-basi mulai mencari tahu
"Ya, Akupun awalnya ragu, Tapi berulang kali dia menjelaskan bahwa dia bersungguh-sungguh hanya ingin membantuku, Dia pun mengatakan tidak mungkin menodai reputasinya, Aku yakin orang berpengaruh sepertinya akan bersikap profesional" Mendengar jawaban Zenya, Fiona hanya bisa mengernyitkan dahinya, "Tidak mungkin sesederhana itu, Aku yakin Rebecca pasti merencanakan sesuatu" Gumamnya dalam hati.
*
*
**Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
__ADS_1
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
Terimakasih**~