
Amanda termenung di sebuah kursi warung pinggir jalan. Sembari menunggu pesanan makanannya siap, ia menatap layar ponsel yang berisikan beberapa foto dan pesan terusan yang dia kirim sendiri dari ponsel Nilam.
Amanda diam-diam menyalin nomor telepon yang mengirimkan foto-foto Vul gar Pandu, ke ponselnya sendiri. Ia ingin membuat perhitungan dengan siapapun yang sudah membuat sang sahabat terpuruk seperti saat ini.
Dengan menarik nafas dalam, ia menghubungi nomor seseorang yang sekiranya bisa membantunya.
"Mas Bas, lagi di mana?" Amanda langsung menanyakan keberadaan Baskara saat panggilan teleponnya dijawab laki-laki itu.
"Aku lagi di kota B, ada proyek di sini. Ada apa Manda?"
Amanda diam beberapa saat. Tiba-tiba merasa ragu menyampaikan berita tidak sedap yang menimpa Nilam saat ini.
"Manda, Nilam baik-baik saja kan?"
Seolah memiliki firasat, Baskara menanyakan keadaan Nilam saat ini.
"Mmm mas, bisa minta tolong nggak? Bisa tolong mas cek keberadaan seseorang saat ini?"
"Siapa? Nilam baik kan?" Baskara terdengar sedikit panik.
Tiba-tiba perasaan was-was menghampiri pria itu.
"Iyaaa, dia baik. Ini orang lain yang aku minta untuk mas Bas cek ...."
Terdengar helaan nafas lega, dari seberang sana, membuat Amanda tersenyum tipis.
"Harus hari ini?"
"Hhmmm, nanti aku kirim alamat sama fotonya ya"
"Ok,"
"Makasih mas Bas ...."
Setelah panggilan berakhir, Amanda mengirimkan alamat rumah sakit tempat Delvia dirawat, beserta beberapa foto orang-orang yang berada di sana.
Amanda mendapatkan foto dan alamat itu, ketika ia memegang ponsel Nilam beberapa saat lalu.
Pesan yang dikirim cukup membuat dia terkejut. Namun sebisa mungkin ia menutupi itu semua pada Nilam untuk beberapa saat.
💌 : "Berhenti berharap! Jangan menutup mata pada kenyataan. Dan jangan menjadi egois karena mementingkan kebahagiaan diri sendiri."
Pesan teks yang dikirim, di bawah foto Delvia yang terbaring di atas ranjang pasien. Serta beberapa foto lain yang memperlihatkan kedekatan keluarga Delvia dan Pandu.
Dan yang paling mengejutkan dari semua foto itu adalah, hasil USG berupa foto hitam putih yang memperlihatkan sebuah kantung yang tidak Amanda pahami.
"Mba ... Pesanannya," seorang gadis belia berusia sekitar tujuh belas tahun menyerahkan kantung kresek hitam ke arahnya.
"Ah ... Iya ... Berapa semua? Tadi saya ambil air mineral satu sama kripik tempe satu."
Gadis itu diam sesaat, menghitung tambahan belanja yang diambil Amanda.
"Empat puluh satu mba, yang ini tiga lima, sama yang mba ambil enam ribu."
__ADS_1
Amanda segera mengulurkan uang lima puluh ribuan ke arah gadis itu.
"Sisanya saya ambil keripik ya mba," Amanda mendekati keranjang plastik tempat makanan kering itu dipajang. Iya mba, ambil yang masih di pak aja."
Amanda paham maksud penjual tersebut. Ia pun mengucapkan terimakasih sebelum berlalu dari warung itu.
"Lam ...." Panggilnya dari luar kamar kostan sang sahabat."
"Masuk Nda ...." Sahut Nilam.
Suaranya masih terdengar parau, gadis itu masih belum bisa menghentikan tangisannya.
"Lam ... Udah donk ... Jangan gini ..." Amanda merasa jengah, melihat sang sahabat duduk termenung menghadap jendela yang tirainya sudah Amanda tutup sejak sore tadi.
Ia meletakkan belanjaannya di meja kecil seperti biasa, lalu mengambil beberapa piring untuk alas mereka makan.
Melihat Nilam se-terluka ini, hatinya ikut meringis sakit. Apa salah gadis polos nan sederhana itu? Hingga cinta yang ia jaga harus membuatnya meneteskan air mata?
Terlebih saat ia membaca pesan, yang ia duga pengirimnya adalah Delvia.
Kenapa Nilam yang harus dipersalahkan? Lupakah wanita semampai itu, kalau dirinya lah orang ketiga yang hadir saat kisah cinta Nilam dan Pandu telah terjalin?
Amanda menggelengkan kepala, mencoba menghempas pikirannya yang terus bertaut dengan isi pesan-pesan itu. Ia ingin fokus menemani dan menghibur sang sahabat.
"Lam ... Sini ...!" Ia melambaikan tangan memanggil Nilam agar mendekat ke arahnya.
"Bersedih dan patah hati juga perlu tenaga Lam ... Dengan begitu otak mu akan bekerja, mencari solusi yang tepat dalam menghadapinya. Jangan bodoh dengan menyiksa dirimu seperti ini, belum tentu orangnya di seberang sana perduli akan dirimu." Tuturnya lagi, ketika melihat Nilam tidak bergeming.
"Hidup bukan hanya soal laki-laki, bukan hanya soal patah hati. Masih banyak hal yang harus kamu lakukan setelah ini."
Nilam menarik nafas. Meski berat, namun ia menuruti apa yang sahabatnya ucapkan.
"Aku harus gimana sekarang, Nda? Aku ingin menolak percaya, tapi aku takut bila itu benar adanya."
"Lam ... Semua akan baik-baik saja ... Percaya sama aku." Ucap gadis tomboy itu, sejenak menghentikan suapan ke mulutnya.
"Apapun yang terjadi, Tuhan pasti merencanakan ini demi kebaikan kamu. Udaaah, sekarang kamu makan dulu, jangan pikirkan yang lain lagi."
Amanda melanjutkan kegiatannya. Menghentikan obrolan, agar Nilam mau mengikuti perintahnya untuk mengisi perut.
"Nda ... Menurut kamu, benar nggak apa yang dikirim orang itu? Atau itu semua hanya editan?"
Sulit bagi Amanda untuk menjelaskan pada Nilam.
Ia ingin mengatakan dengan lantang 'Iya itu calon suamimu. Foto itu asli, tidak direkayasa sama sekali. Pria yang kamu tangisi itu, adalah pria bren gsek yang nggak punya hati!'
Namun melihat kerapuhan gadis itu, Amanda merasa tidak tega.
***
Sesuai permintaan Amanda, Baskara yang kebetulan saat itu tengah menyelesaikan proyek di kota B, pergi menuju rumah sakit tempat Delvia dirawat.
Pria itu sempat bertanya pada Amanda, apa tujuannya ia datang ke sana?
__ADS_1
Dan akhirnya sahabat Nilam itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini sebenarnya aku berdosa lho mas, aku lancang mengotak-atik ponsel Nilam, sementara pemiliknya tengah tenggelam dalam kesedihan."
"Ya ... Nggak apa-apa Manda, ini juga kan demi kebaikannya dia. Sekarang jelaskan sama aku, apa yang harus aku cari tahu, dan kenapa?" Meski kuat perasaannya jika ada yang tidak beres dengan hubungan Nilam dan Pandu, namun Baskara tetap mencoba untuk berpikir positif.
Sebagai seorang yang memiliki kecerdasan, ia menduga, foto-foto yang dikirim Amanda pasti membuat Nilam terluka. Namun ia segera mengenyahkan pikiran buruknya itu.
"Seseorang mengatakan, Pandu telah tidur dengan perempuan lain. Dan saat ini perempuan itu tengah dirawat di rumah sakit, dalam kondisi tengah mengandung ...."
"Apa?! Jadi baj ingan itu sudah sampai sejauh itu mengkhianati Nilam?" Meski sudah menduganya, namun ia masih tetap terkejut mendengar hal itu.
"Dari mana kamu tahu kalau maksud foto itu adalah seperti yang kamu katakan?"
"Tunggu aku kirim chat dari nomor itu."
Tanpa memutus sambungan teleponnya, Amanda mengirim pesan teks itu pada Baskara.
"Sudah?" Tanyanya setelah melihat centang biru pada pesan yang baru dikirimnya.
"Mmm"
"Jadi sekarang, Mas tolong cari informasi, kebenaran tentang berita itu. Setelahnya, baru kita bisa mengambil sikap, apa yang harus dilakukan untuk bantu Nilam."
"Iya," Baskara menjawab dengan lirih.
Pria itu merasa terkejut dan marah disaat bersamaan.
"Manda ...."
"Iya mas?"
"Bagaimana Nilam?"
Amanda melirik sang sahabat yang sudah berbaring memeluk guling.
"Pastinya sangat terkejut, dan sejak tadi hanya menangis. Kasihan dia, itu baru setengah yang dia tahu, soal rumah sakit dia belum tahu."
Terdengar helaan nafas berat, Amanda tahu laki-laki itu sangat mengkhawatirkan Nilam saat ini.
"Tapi aku sudah memaksanya untuk makan dan bebersih. Mas nggak perlu khawatir, dia pasti baik-baik saja."
"Makasih, Manda. Tolong jaga dia ya ...."
"Tanpa mas Bas minta pun aku akan jagain kok, dia sahabat aku."
*
*
*
Beruntungnya Nilam punya sahabat the best seperti Amanda 😍😍😍
__ADS_1
jangan lupa komen, Like, n vote ya readers kuuu