CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 57


__ADS_3

Pandu meninggalkan kakaknya yang masih mematung di ruang olah raga.


Ia berkemas hendak pergi ke kost Nilam, sebelum nanti sore kembali lagi ke kota B.


Ia ingin menemani sang kekasih, memberi perhatian dan cinta yang belakangan ini tak lagi sama porsinya ia berikan pada gadis itu.


"Pandu, tunggu ...." Laksmi mengejar langkah sang adik yang sudah sampai di parkiran motornya.


"Apa maksud kamu barusan? Kamu menyalahkan kakak, atas semua yang sudah terjadi diantara kamu dan Delvia?" Tanya Laksmi tersenyum sinis.


"Aku bahkan nggak menyebut Delvia sama sekali kak, tapi kakak sudah mengakui sendiri kalau apa yang terjadi antara aku dan Via ada campur tangan kakak di sana." Sahut Pandu dengan tak kalah sinis.


"Aku nggak nyalahin kakak dalam hal ini. Semua karena kebodohanku, aku terjebak dalam permainan kalian." Lanjutnya lagi, tersenyum getir. Lalu setelahnya, ia melajukan kuda besinya, tanpa perduli dengan teriakan sang kakak yang memanggil namanya.


Setibanya di depan pintu kost yang dituju, ia tidak langsung mengetuknya. Pandu menarik nafas dalam terlebih dahulu, serta memasang raut wajah bahagia. Laki-laki itu ingin menyembunyikan gelisah dan rasa bersalah yang semakin menjalar memenuhi pembuluh darahnya.


Baru setelah ia berhasil menata hati, ia mengetuk pintu kayu tersebut.


"Mas ...." Nilam sumringah mendapati pria pujaannya berdiri di depan pintu kamar.


"Udah baikan?" Tanya Pandu, dijawab anggukan gadis itu.


"Mas udah sarapan?"


Pandu menggeleng, sembari menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik depan kamar Nilam. Membuat sang empunya kamar berdecak kesal.

__ADS_1


"Kebiasaan," ketus gadis itu.


"Tunggu ya, aku buatin mas sarapan. Mau makan apa?" Pandu tersenyum mendengar omelan sekaligus bentuk perhatian Nilam untuknya. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan ini. Rasa diperhatikan dan disayangi.


"Sarapan kamu aja boleh nggak?" Jawabnya dengan tatapan menggoda.


Nilam melipat kedua tangan di depan dada, menatap kekasihnya dengan tatapan tajam.


Ia menyandarkan tubuhnya di tembok samping pintu masuk.


Pandu tertawa lepas sembari mencakup kedua tangannya.


"Ampuuuun ratuuuuu, becandaaa ...." Ucapnya.


"Nggak lucu tau mas ...." Sahut gadis itu mengerucutkan bibirnya.


"Apapun yang kamu kasih untuk mas, pasti akan mas makan." Ucap laki-laki itu seraya mengelus pipi kekasihnya,membuat rona merah di pipi Nilam muncul tanpa permisi.


"Iy iya udaah, aku siapin dulu. Masih ada nasi goreng yang aku buat tadi, Tunggu ya mas ...." Nilam bergegas masuk menuju dapur kecilnya.


Pandu ikut masuk ke kamar kekasihnya, tanpa bersuara. Ruangan sederhana tempat Nilam menghabiskan waktunya setelah lelah bekerja.


Laki-laki itu duduk di atas tempat tidur Nilam, sembari menatap gadis yang tengah sibuk dengan teflon di tangannya.


"Yank ... Boleh minta teh hangat dulu nggak?" Tanya Pandu

__ADS_1


Nilam menoleh, tersenyum melihat pria pujaannya tengah bersandar di kepala ranjang, dengan kedua tangan ia jadikan bantalan.


"Tunggu sebentar ya mas ...." Sahut Nilam, lalu membuat apa yang diminta sang kekasih.


"Duduk sini mas," pintanya saat teh yang diminta Pandu sudah siap, dan ia letakkan di atas meja kecil tempat ia biasanya makan.


"Makasih yank ...."


Nilam kembali melanjutkan kegiatannya di dapur, menyiapkan sarapan untuk Pandu, dan kembali dengan membawa sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan cabai hijau goreng di atasnya.


"Waaaahh ... Makasih calon istri," kembali Pandu menggoda Nilam sembari mengerlingkan matanya nakal.


Nilam tidak menanggapi ucapannya, gadis itu memilih duduk di atas ranjang, sembari menatap Pandu.


"Yank ... Habis ini kita jalan-jalan yuk ...."


"Kemana mas? Nggak aah, nggak enak aku. Bolos kerja ngaku sakit, taunya jalan-jalan,"


"Ck, kamu tuh selalu mikirin orang lain. Ngapain sih pusing sama omongan mereka? Lagian bukan urusan mereka juga kan kamu mau bolos atau nggak. Toh yang gaji bukan mereka,"


"Kamu gampang ngomong gitu mas ... Belum pernah ngerasain jadi karyawan sih ... Saingan di tempat kerja itu nyata. Saling sikut antar karyawan itu biasa. Mas nggak tau itu kan?"


Pandu mengangkat bahunya, tidak lagi mendebat Nilam. Laki-laki itu fokus dengan masih goreng yang begitu memanjakan lidahnya itu.


Setelah Pandu selesai makan, Nilam dengan sigap membereskan piring serta gelas yang ada di meja. Segera mencuci dan meletakkan di rak kecil samping bak cuci piring.

__ADS_1


Pandu terus memperhatikan gadis dengan pakaian santai berwarna tosca itu. Ia tersenyum membayangkan hal indah, ketika Nilam menjadi pendamping hidupnya kelak.


__ADS_2