
Ruang keluarga rumah orang tua Nilam terlihat penuh. Kedua orang tuanya, kedua kakak dan kakak iparnya, Damar, dirinya dan Baskara duduk bersisian. Bahkan sofa di ruangan itu tidak cukup menampung mereka semua, hingga para laki-laki terpaksa mengambil kursi plastik di ruang makan untuk mereka duduki.
Sementara para anak kecil, sengaja dibiarkan bermain di ruang tivi dengan tablet di tangan mereka, agar tidak mengganggu obrolan para orang tua.
"Kalian semua sudah berkumpul sekarang. Ada yang mau bapak sampaikan, dan bapak berharap apa yang menjadi niat bapak, bisa terlaksana segera." Kalimat pembuka laki-laki paruh baya itu, menciptakan ketegangan bagi semuanya, terlebih Baskara yang sudah tahu apa yang ingin pak Indra sampaikan.
"Nilam, kamu anak perempuan bapak yang belum menikah. Sebagai orang tua, bapak ingin melihat kamu bahagia bersama laki-laki yang tulus menyayangi kamu, bertanggung jawab atas dirimu, dan bisa menjagamu. Bapak takut kalau kamu menikah dengan orang yang tidak bapak kenal, lalu dia memperlakukan kamu dengan tidak baik. Bapak khawatir."
Nilam terkejut dengan ucapan ayah kandungnya itu. Jadi tujuan mereka kumpul saat ini, adalah membahas soal dirinya?
"Pak, aku belum memikirkan itu. Semua itu masih jauh, aku masih ingin bekerja dan menikmati masa mudaku. Jangan terlalu dipikirkan ya pak," gadis itu mencoba mengurai keresahan orang tuanya. Ia tidak ingin orang tuanya terlalu memikirkan dirinya.
Pak Indra menggelengkan kepalanya. "Sudah saatnya kamu memikirkannya nak. Kamu sudah cukup dewasa untuk menikah. Kamu tidak perlu khawatir, bapak sudah pilihkan laki-laki yang tepat untuk menjagamu nanti."
Ucapan ayahnya itu tentu membuat Nilam terkejut. Ia memandang sekeliling. Semuanya diam, tidak ada yang memberi reaksi apapun, seolah semua orang sudah tahu akan berita ini, termasuk Baskara yang menundukkan kepalanya paling dalam.
"Pak, aku belum ingin menikah. Bu ...." Nilam menatap orang tuanya bergantian. Ia mulai takut tidak ada yang mendukungnya. Ia menatap wanita yang melahirkannya dengan lebih intens berharap mendapat dukungan, namun sama saja. Wanita itu pun hanya menatapnya dengan senyum teduh, yang sayangnya saat ini tidak bisa mengantar ketenangan untuk dirinya.
"Masalah kemarin jangan kamu jadikan pintu penghalang kebahagiaan yang lain nak. Apa yang terjadi beberapa waktu lalu jadikan sebagai kenangan masa lalu. Tidak semua hubungan membawa kekecewaan. Jangan tutup dirimu."
Nilam menggeleng.
"Aku nggak menutup diri pak, hanya saja saat ini memang belum ada keinginan untuk menikah,"
"Pak, sebaiknya biarkan Nilam memikirkan semuanya terlebih dahulu. Ini mungkin terlalu cepat untuknya. Kita biarkan ia dan Baskara menjalani kedekatan mereka secara perlahan ...."
"APA?" Kalimat Surya, sang kakak laki-laki dipotong dengan cepat oleh Nilam.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini? Mm mas Bas ...?" Nilam menatap Baskara dan Surya bergantian. Matanya liar mengamati satu persatu keluarganya.
"Bapak belum bilang sama Nilam kalau dia mau dijodohkan sama Bas, pak?" Surya menatap pak Indra.
"Jadi selama ini, kalian godain aku sama mas Bas, karena kalian tau aku dijodohkan sama dia?"
Belum sempat pak Indra menjawab pertanyaan anak laki-lakinya, kembali Nilam membuka suara.
Gadis itu dibuat terkejut berkali-kali oleh berita yang menghampirinya secara bertubi.
Nilam tidak tahu harus berkata apa. Ia belum siap menikah saat ini, ia juga tidak menyangka kalau laki-laki yang dijodohkan dengannya adalah Baskara.
"Permisi." Tanpa perduli reaksi keluarganya, Nilam meninggalkan ruang keluarga tersebut dan berlalu menuju kamarnya.
Setelah kepergian Nilam dari ruangan tersebut, beberapa saat suasana menjadi hening. Ibu dan saudara Nilam yang lain, tidak ada yang mengeluarkan suara, membuat Baskara merasa sangat canggung.
"Mmm paman, bibi, lebih baik biarkan Nilam menentukan pilihannya sendiri. Aku nggak ingin Nilam tertekan dengan semua ini." Ucap Baskara, menduga Nilam pergi karena gadis itu tidak mau dijodohkan dengan dirinya.
"Eee bukan begitu paman, aku hanya nggak mau Nilam merasa tertekan. Aku nggak mau dia terpaksa menjalani semua ini nantinya. Aku ingin dia bahagia, apapun pilihannya."
"Itu yang membuat kamu diam saja, meskipun tahu kalau dia memiliki hubungan dengan anak majikannya dulu kan?" Baskara diam, tidak bisa menyangkal ucapan pak Indra.
"Firasatku sebagai orang tua itu kuat nak, aku yakin dengan apa yang aku pilihkan untuk anakku."
"Pak, kalau menurutku Bas ada benarnya. Untuk saat ini, biarkan Nilam menenangkan diri dulu. Dia mungkin terlalu terkejut dengan semua yang tiba-tiba ini." Saran Surya mendukung Baskara.
"Iya pak ... Perasaan perempuan itu sensitif dan rapuh. Dia baru saja mengalami patah hati. Mungkin saat ini Nilam ingin menikmati masa-masa sendirinya dulu hingga luka hatinya benar-benar sembuh." Diana ikut memberi usul pada ayahnya.
__ADS_1
"Bas, kalau perasaanmu pada Nilam cukup besar, jangan menyerah. Temani dia , bantu sembuhkan lukanya, bantu bangkitkan rasa percaya dirinya lagi, mbak yakin nanti dengan sendirinya dia kan menerima hubungan ini." Lanjut wanita itu pada Baskara.
Di sisi lain, di dalam kamarnya, Nilam duduk termenung. Kepingan-kepingan kenangan secara acak menari di kepalanya. Tatapannya kosong, tangannya bertumpu di atas bantal yang dipangkunya. Jari jempolnya saling bergelut satu dengan yang lain, seolah dikendalikan alam bawah sadarnya.
Ia sulit memahami jalan pikiran ayahnya. Bagaimana mungkin berniat menjodohkan dirinya dengan Baskara? Kenapa harus Baskara?
Meski keluarganya yang lain sering menggodanya, namun ia sama sekali tidak pernah menyangka ayahnya akan hanyut dalam candaan itu dan benar-benar menjodohkan mereka berdua. Itu yang ada dalam pikiran Nilam.
Ia tidak tahu, jauuh sebelum ia sering diantar jemput oleh Baskara, ayahnya sudah merencanakan perjodohan itu.
***
Nilam sudah selesai membantu ibunya di dapur. Gadis itu segera bergegas membersihkan diri, dan memilih duduk di kursi beton, dekat kolam ikan koi milik ayahnya.
Berteman teh hangat dan pisang goreng yang ia goreng beberapa saat lalu, ia asyik memandangi ikan-ikan yang berenang tidak tentu arah. Seakan tidak pernah lelah meliukkan tubuhnya ke kanan ke kiri setiap waktu, seolah itu menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka lakukan.
"Mba!" Damar datang dan mengejutkan sang kakak.
"Damar! Kebiasaan kamu ini! Suka sekali ngagetin orang! Kalau mbak jantungan trus pingsan gimana?" Dengan wajah merah menahan kesal, Nilam bicara tanpa henti memarahi sang adik.
"Kalau pingsan, tinggal panggil mas Bas suruh kasih nafas buatan, susah banget." Sahut pemuda itu cuek. Ia mengambil pisang goreng di piring kecil depan sang kakak.
Nilam semakin bertambah kesal. Ia enggan membahas masalah yang belum usai kemarin malam. Itu sebabnya ia mengasingkan diri di taman belakang, agar sang ayah tidak mengajaknya berbincang pagi ini.
"Mbak," panggil Damar sambil mengunyah pisang gorengnya.
"Apa?" Sahut Nilam malas.
__ADS_1
"Jangan bahas masalah perjodohan, mbak nggak mau dengar." Lanjutnya lagi, sembari meletakkan cangkir teh yang baru saja ia nikmati isinya.
"Nggak ... Siapa yang mau bahas jodohnya mbak? Aku cuman mau tau aja, sejak kapan mbak Nilam berani tinggalin bapak pas lagi ngomong kayak kemarin?" Tanya pemuda itu dengan wajah serius.