CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 153


__ADS_3

Nilam menggeletakkan ponselnya begitu saja di tempat tidur, setelah mengakhiri panggilan video dengan Bas yang saat ini masih dirawat di rumah sakit. Gadis itu menghela nafas panjang, menyadari sikap posesif Bas yang semakin menjadi.


Sementara di ranjang miliknya, Amanda yang sejak tadi mencuri dengar obrolan keduanya, nampak tersenyum mengejek sembari berpura-pura memainkan ponselnya.


Menyadari sikap menyebalkan sang sahabat, Nilam yang kesal pun melempar bantal yang sebelumnya ia pangku ke arah Amanda.


"Nggak usah ngeledek!" ucapnya karena menyadari senyuman Amanda sarat akan cibiran. Nilam tahu sejak awal ia menerima panggilan video dari Baskara, Amanda memasang telinganya untuk menyimak obrolan mereka berdua. Sesekali mata gadis tomboy itu melirik ke arah Nilam, lalu segera mengalihkan pandangan saat sang sahabat ikut menoleh ke arahnya. Terus seperti itu selama obrolan berlangsung.


"Aku sumpahin kamu ketemu cowok yang lebih posesif dari Mas Bas, nanti. Biar tau rasanya tiap menit diteleponin," sungut Nilam lagi, sembari mengambil bantal yang tadi ia lempar.


"Nggak ada manusia yang seperti suamimu itu, di muka bumi ini, Lam. Alay banget! Bucin akut. Parah!" ejek Amanda dengan tawa jahatnya. Ia tidak berhenti mencibir kelakuan pasangan yang semakin dimabuk cinta itu.


"Liat aja nanti. Doa orang tersakiti itu terdengar sampai langit ke tujuh. Siap-siap aja kamu, nanti jangan curhat sama aku kalau sampai Tuhan bermurah hati mempercepat jodoh bucinmu datang," sungut Nilam lagi.


"Uuhh takutt." Amanda kembali mengejek, dengan berpura-pura menampilkan wajah ketakutan.

__ADS_1


Nilam yang merasa kalah, tidak lagi membuka suara. Ia memilih masuk ke dapur, meninggalkan sang sahabat. Membiarkan suara tawa Amanda menggema dan menguap begitu saja. Ia tidak ingin menghabiskan energi untuk meladeni gadis tomboy berstatus jomblo itu, sebab sadar tidak akan bisa menang berdebat dengannya.


Nilam memilih menyibukkan diri untuk menyiapkan makan malam. Ia rindu ingin membuat masakan sendiri, sebab beberapa hari di rumah sakit menemani Bas, hanya beberapa kali sang ibu membawakan makanan rumahan. Selebihnya ia membeli makanan dari kantin rumah sakit.


"Masak apa kamu?" tanya Amanda yang sudah berdiri di belakang Nilam. Rupanya gadis tomboi itu mengikuti langkah Nilam hingga ke dapur.


"Nasi goreng. Kamu mau?" tanya Nilam.


"Mau lah, masa kamu makan sendiri?" protes Amanda mendengar pertanyaan Nilam.


"Gitu aja ngambek. Maaf deh, kan aku cuman becanda," rayu Amanda sembari memeluk tubuh Nilam dari belakang.


Seketika gadis mungil itu berontak.


"Nggak usah peluk-peluk. Geli aku. Kau kira aku lesbi?"

__ADS_1


"Ya makanya jangan ngambek. Aku kan cuman becanda. Lagian aku tuh seneng tau, liat kalian akur lagi. Aku nggak harus liat wajah murungmu tiap hari," ucap Amanda.


Nilam yang menyadari kesungguhan ucapan sang sahabat, seketika rasa kesalnya menghilang. Ia membalik tubuhnya, menatap wajah Amanda dengan tatapan lembut.


"Makasih ya, Nda. Kamu selalu ada saat aku terpuruk. Entah gimana jadinya aku, kalau nggak ada kamu yang selalu nemenin aku di sini," ucap Nilam dengan tulus.


"Doain kami biar bisa melewati semua rintangan ya, Nda. Jujur aku masih merasa takut. Takut kalau-kalau apa yang kami usahakan, ternyata berhasil dikacaukan oleh mereka yang nggak suka sama hubungan kami." Lanjutnya lagi mengutarakan kegelisahannya.


"Jangan berpikir sejauh itu, Lam. Fokus aja sama tujuan kalian. Yang penting kamu sama Mas Bas saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Dan jangan lupa komunikasi juga harus tetap dijaga, biar nggak ada salah faham lagi di antara kalian."


"Iya, Nda. Semoga aja kedepannya nggak ada masalah lagi. Cukup kemarin-kemarin aja masalah tanpa henti menghampiri hubungan kami." Doa Nilam penuh harap, mengingat semua kejadian yang menghampiri hubungannya dengan sang kekasih hampir saja mengoyak jalinan yang mereka rajut bersama.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Intip kisah seru di bawah yuk, sepertinya mendebarkan. Gimana perjuangan seseorang, yang akhirnya menjadikan dirinya sebagai korban dari kejahatan yang ia lawan.

__ADS_1



__ADS_2