
Waktu berlalu dengan cepat. Tiap detik yang awalnya menyiksa kini mulai menjadi biasa bagi Nilam. Aktifitas barunya menerima jahitan kebaya, atau sekadar service pakaian yang ia kerjakan dari kostan, menyita perhatiannya, hingga kini tidak ada lagi tangis rindu atau wajah murung yang dirinya tunjukkan. Kesibukannya mampu membungkam rindu yang selama ini begitu menggebu.
Waktunya tersita hanya untuk bekerja dan bekerja. Bahkan semakin hari pelanggannya terus bertambah, hingga waktu istirahatnya semakin berkurang.
"Lam, aku berangkat ya," ucap Amanda, menepuk pundak sahabatnya dari belakang.
"Ah, iya. Hati-hati Nda," sahut Nilam menghentikan sebentar aktifitasnya.
Amanda melangkah sembari melambaikan tangan, sementara Nilam kembali melanjutkan kegiatan menjahit pesanan kebaya, dari salah seorang tetangga kostnya.
Hari ini dia mendapat shift siang, sehingga sejak pagi setelah sarapan, gadis itu sudah mulai menyalakan mesin jahitnya, berkutat dengan kain, benang, dan jarum.
Hingga waktu menunjuk angka 11 siang, barulah ia menghentikan kegiatannya. Bersiap membuat makan siang, sekaligus bekal untuk ia bawa ke tempat kerja.
Nilam bahkan belum sempat melihat ponselnya sama sekali sejak pagi.
Sebenarnya di kepala gadis itu selalu ada nama kekasihnya, namun sebisa mungkin ia tahan keinginannya untuk menghubungi Bas, sebab ia tidak ingin larut dalam kesedihan setelahnya.
🌟🌟🌟
__ADS_1
Sementara itu, di lain tempat di pulau berbeda, hal yang sama juga tengah Baskara lakukan. Sibuk membuat ulang gambar bangunan, yang semula sudah hampir selesai. Menambahkan bagian yang sebelumnya tidak ada, namun tanpa mengurangi nilai estetik dari gambar sebelumnya. Itu sungguh menguras pikirannya.
Waktu proyek terus berjalan, namun ada saja kendala dalam pekerjaan yang membuatnya harus memanjangkan sabar. Lembur hampir tiap malam, membuat mata pandanya semakin nampak jelas.
Sering ia merasa rindu, ingin pulang menemui kekasih hatinya, namun tanggung jawabnya belum selesai.
"Bas, makan dulu!" Gilang datang dengan membawa dua bungkus nasi dan air minum.
Mereka kost berdua, tidak jauh dari proyek villa yang sedang mereka kerjakan.
"Taruh di situ aja," sahut Bas masih fokus dengan sketsa yang ia buat.
Ia memilih menikmati makan siangnya seorang diri, karena waktu istirahatnya hanya satu jam saja.
"Bas, makan dulu! Kasihan perutmu. Jangan dipaksakan, nanti kau bisa sakit!" Gilang yang sudah selesai akhirnya memilih membawakan makanan Bas ke depan meja kerjanya.
Mau tidak mau, Baskara melepaskan pekerjaannya, menatap sekilas teman satu kampungnya itu dengan senyum tipis.
Bersyukur ia mengajak Gilang ikut bekerja bersamanya. Setidaknya ada orang yang memberinya perhatian, untuk menjaga kesehatan.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal perhatian, ia jadi ingat kekasih hatinya yang akhir-akhir ini ikut sibuk, hingga jarang punya waktu, sekadar untuk menanyakan dia sedang apa? Apakah ia sudah makan atau belum?
Atau hal-hal kecil lain yang sebelumnya sering kali Nilam tanyakan padanya.
"Bas! Bengong aja! Nasinya dimakan, jangan dipelototin begitu! Nggak akan bikin kenyang!" Gilang menepuk bahunya, membuat Baskara terkejut.
"Sialan, bikin kaget aja!" ketus Baskara mendekatkan nasi yang sudah dibuka pembungkusnya itu, lalu segera menikmatinya.
Selesai dengan urusan perut, Bas menyempatkan diri menghubungi Nilam yang sejak pagi tidak berkabar.
Namun sayang, hingga dering ketiga, gadis itu tidak kunjung menerima panggilannya.
Bas mendesah kecewa. Menatap layar yang menampilkan nama kekasihnya, dengan tatapan kosong.
Semenjak Nilam memiliki kesibukan baru, gadis itu semakin jarang mengabarinya. Bahkan sudah tidak pernah lagi menanyakan kapan ia pulang, kapan proyeknya akan selesai, atau pertanyaan lain yang sarat kerinduan, meski sudah lebih dari dua bulan dirinya tidak pulang.
Padahal Bas menyukai itu. Disaat seperti itu ia merasa dibutuhkan oleh Nilam. Ia merasa berharga, saat Nilam menelponnya dengan wajah cemberut, namun saat ditanya kenapa? gadisnya hanya menggeleng, mengatakan "nggak apa-apa." Meski sebenarnya Bas tahu, Nilam merajuk karena dirinya tidak bisa pulang.
Bas kecewa, karena merasa Nilam tidak lagi perduli padanya. Tidak lagi intens menanyakan keadaannya, dan justru memilih ikut tenggelam dalam pekerjaan.
__ADS_1