CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
CK 23 - MELURUSKAN SALAH PAHAM


__ADS_3

Zenya gemetar, Ia tak bisa terlalu banyak melakukan perlawanan, Bukan hanya karena dirinya yang terluka, Tapi karena Zenya sudah tahu kalau Cristhopan sedang penuh dengan amarah, Ia tidak ingin meributkan sesuatu yang hanya akan menguras energinya saja. Dia sudah sadar, Dia hanya sebuah butiran debu di mata Cristhopan, Sampai kapanpun ia tak akan bisa menang melawannya.


"Kau.." Zenya memekik kala Cristhopan sudah melonggarkan dasinya, Tangannya mulai membuka dua kancing baju tidur yang Zenya kenakan.


"Gayamu, Sedang ingin menggodaku ya? Pantas saja Randhika juga tertarik denganmu." Cristhopan menyeringai licik,


"Tuan, Kau jangan dengar ucapan omong kosong Velia, Dia hanya bercanda, Aku tak mungkin dan tak akan pernah melakukan hal itu. Aku dan Tuan Randhika hanya membahas masalah pekerjaan sewaktu makan tadi.." Zenya melembut, mencoba menjelaskan, Ia pasrah dan tak meronta.


"Ditambah lagi, Dia.. Dia tahu aku adalah orangmu, Dia tidak mungkin menyukaiku, Tuan, Kau percayalah padaku, Aku tak mungkin mengkhianatimu dan membuatmu marah." Zenya mengelus lembut pipi Cristopan, wajahnya semu-semu memerah.


"Di saat dia makan, dia tidak pernah membahas masalah pekerjaan." Cristhopan memalingkan wajahnya, ia mulai turun dari kungkungannya, Amarahnya masih belum mereda


"Aku tidak boleh membuatnya marah.." Gumam Zenya, Ia bangun, dan bersadar pada headbord ranjang rumah sakit, Lalu dengan perlahan membuka baju nya yang sudah teracak-acak oleh ulah Cristhopan,


Cristhopan menyeringai, Menutup setengah wajahnya menggunakan tangan.


"Apa yang kau lakukan? Aku juga tidak berkata tidak mempercayaimu,


Tapi sekarang, sebenarnya kau ini sedang menebus kesalahan semalam padaku atau.. khawatir aku akan mengganggu keluargamu?" Cristhopan meraup tubuh Zenya, Ia menciumi leher Zenya lalu menyesapnya perlahan, Nafasnya yang berhembus di telinga Zenya membuatnya bergidik,


"Geli" Ujar nya


Zenya merangkul leher Cristhopan, Cristhopan pun mulai menyusuri seinci demi seinci tubuh Zenya yang hangat, menggunakan bibirnya,


"Mmmhh" Zenya melenguh


Tiba-tiba kepalanya yang terluka kembali berdenyut, kedua alisnya bertaut, Ia mengerutkan keningnya, Kepalanya mulai bergeleng mencoba menepis perasaan nyeri itu.


"Aww"


"kenapa?" Cristhopan langsung menghentikan aktifitasnya,


"Kepalaku.. Nyeri.."


Cristhopan merebahkan kepala Zenya, agar posisinya nyaman di atas bantal.


Ia mengelus lembut keningnya yang terluka


"Kau ini kenapa? Sudah tahu akan terasa sakit, apa semalam kau tak berpikir begini?" Cristhopan mengomel sambil meniup luka Zenya, Zenya hanya diam dia mencengkram ujung selimut.


"Dia jelas-jelas masih.. marah, tapi dia mencoba untuk perhatian padaku, Jangan-jangan orang seperti dia juga masih mengerti tentang rasa kasihan.." Zenya menggigit ujung bibirnya kala rasa nyeri itu mulai berdenyut kembali, Matanya mengerjap.


"Istirahat, Beberapa hari lagi aku akan menyuruh dokter Misha melakukan operasi kecil untukmu, Keningmu tidak akan meninggalkan bekas luka sedikitpun." Cristhopan berbaring di samping Zenya, Ia mendekap tubuh Zenya, membiarkan satu lengannya yang kekar menjadi sebuah bantal yang empuk Zenya.


"Terima.. Kasih tuan." Wajah Zenya memerah, jantungnya berdebar, "Cristhopan, kenapa sekarang dia jadi baik?"


"Tidak boleh ada yang ke dua, ke tiga, atau kesekian, Jika kau berani melakukannya lagi, Kau akan tahu akibatnya" Mata mereka saling bertatapan, Cristhopan menyipingkan matanya, mengancam Zenya agar tak mengulangi perbuatan seperti semalam,


"Tidak akan lagi." Zenya menggeleng


"Tuan." Zenya menengadah, ternyata Cristhopan sudah menutup matanya.


"Hm?" Sahutnya dengan mata tertutup


"Semalam.. Semalam terhitung tidak?" Ia bertanya dengan sangat hati-hati


"Terhitung apa?" Cristipan membuka satu matanya


"Menemanimu.. malam dimana menemanimu tidur."


"Wanita ini, sebenarnya seberapa besar penolakkannya untuk bersamaku? Seberapa besar rasa benci nya padaku?" Cristhopan terdiam, Ia tak langsung menjawab pertanyaan Zenya,

__ADS_1


"Tuan?"


"Semalam aku terus berdiri, menjagamu, dan tidak tidur. Kalau kau tidak ingin beristirahat, Temani aku lakukan hal lain, Jangan membuang waktuku." Cristhopan menutup kembali matanya, Ia agak kesal pada Zenya, Bukannya ucapan terimakasih yang ia dengar, Ia malah disuruh membayar upah Zenya semalam,


"Seharusnya dia yang membayarku, Aku sudah berdiri beberapa jam untuk menjaganya" Batin Cristhopan,


"Kepalaku pusing! Aku ingin istirahat." Zenya segera mengerjapkan mata sebelum Cristhopan bangkit dan mulai menjahilinya lagi


"Hmmph!" Ia menekuk wajahnya,


"Dia semalaman berdiri dan tidak tidur?.. Hm, kalau tahu begitu seharusnya semalam aku membagi setengah ranjang pasien ini padanya.


Tapi, Apakah benar dia sungguh berdiri semalaman menjaga ku di samping ranjang?


Tidak mungkin.." Zenya menatap wajah Cristhopan yang sudah terlelap, terdengar dengkuran halus


"Dia sudah tidur, Jika benar semalaman dia menjagaku, pasti semalam dia tidak tidur, Dan sekarang dia pasti sangat mengantuk" Zenya mengelus sesaat pipi Cristhopan, Setelah itu, ia pun menyusul Cristhopan terlelap dan segera masuk kedunia mimpi


*


*


Pagi hari Zenya meminta izin pada Cristhopan agar ia bisa pergi ke kampus untuk membahas masalah dana kemarin yang belum di diskusikan bersama teman-temannya.


"Kau boleh pergi, Tapi setelah itu kau harus kembali untuk mengganti perbanmu. Dan jika merasa pusing kau harus segera istirahat, Aku tak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu lagi." Cristhopan mengenakan kemejanya, Ia berbalik pada Zenya menyuruh agar Zenya mengancingkan Kemejanya.


"Baik, Aku akan mendengar ucapanmu, Tuan" Cristhopan menyunggingkan bibirnya.


Ia menyerahkah sebuah dasi pada Zenya, Zenya mengatupkan bibirnya


"Kenapa? Jangan bilang kau tak bisa mengenakan dasi" Cristhopan mengerlingkan bola matanya.


"A-aku bisa, Tapi aku tak pernah memasangkan dasi pada orang lain, Simpulnya selalu terlihat aneh" Zenya sedikit menunduk, Wajahnya memerah


"Tuan, Apa-apaan ini, Ini sangat tidak adil" Zenya merengek, tubuhnya ia goyang-goyangkan, Ia tampak seperti anak kecil.


"Kenapa? Kau tidak setuju? Adil atau tidak, Itu terserah padaku" Cristhopan tersenyum licik, Ia mengeringai bak serigala yang akan menerkam domba.


Zenya mengerucutkan bibirnya, Ia pun mulai mengalungkan dasi tersebut pada leher Cristhopan


"Tu,Tuan, Bisakah anda menunduk sedikit" Zenya yang mencoba mengalungkan dasi tersebut sedikit kesusahan karna tubuhnya yang tak sampai


Cristhopan menyunggingkan ujung bibirnya, kaki nya berjinjit, Ia sengaja melakukannya agar Zenya semakin tidak sampai


"Tuan, Tolong, Me-nunduk-lah se-dikit" Zenya sudah mencapai batas jinjitannya,


Awwwwhhh!!


Tubuhnya terjatuh menimpa tubuh Cristhopan,


Ia terbelalak kala dirinya sudah berada di atas tubuh Cristhopan, Mata mereka saling bertatapan


"Kenapa? Kau ingin kita 'melakukannya' di pagi hari yang cerah ini?" Cristhopan tersenyum licik, dengan spontan Zenya pun bangun,


"Eits, Kau mau pergi kemana?" Cristhopan menarik tubuhnya


"Tu-tuan, ini sudah siang, Anda-Anda nanti terlambat" Zenya gelagapan jantungnya sudah berdegup kencang.


"Kau lupa ya? Aku ini kan 'P E M I L I K' perusahaan itu, Mau datang kapan pun itu terserah padaku" Ia menyeringai, Zenya untuk mencoba bangun


"Tuan, Ini-Aku- Aku terlambat" Wajah Zenya memerah

__ADS_1


"Hahahahhaha" Cristhopan tertawa keras, Zenya menyembunyikan wajahnya pada dada Cristhopan


"Kenapa kau malu, Hahaha wajahmu sudah seperti tomat Hahahha" Zenya menggelengkan kepalanya, Membuat gesekan di dada Cristhopan.


"Hey jika kau terus menggosakan wajahmu seperti itu, Aku tidak yakin aku bisa menahannya lagi" Zenya segera beranjak, Kakinya tergelincir,


"Aw!"Tubuhnya kini mengungkung tubuh Cristhopan,


"Oh, Jadi kau berinisiatif begini, Gadis kecil, sekarang kau sudah berani nakal ya"


"Ti-tidak maksudku bukan begitu Aku-"


Cklek


dua pasang mata itu langsung beralih pada gagang pintu yang terbuka


"Tuan, saya sudah- Ah maaf tuan, Silahkan di lanjutkan" Billy masuk tanpa permisi, wajahnya panik kala melihat pemandangan yang seharusnya tak ia lihat.


Zenya terbelalak, Wajahnya semakin memerah


"Ti-tidak Tuan Billy, Aku tidak-"


"Hahahaha kau ini kenapa? Billy tidak akan perduli, Jika aku menciumu didepannya pun dia akan bertindak seperti patung" Zenya mengerucutkan bibirnya


"Kenapa? kau marah padaku? Bukan aku yang melakukannya, Itu kau kan, yang mengungkungku" Cristhopan tersenyum sinis,


"Tidak, Aku tak bermaksud begitu, Kakiku tergelincir" Zenya melotot pada Cristhopan


"Jadi, sekarang kau sedang menjelaskan pada siapa?" Cristhopan mulai mempermainkan Zenya,


"Ah sudahlah, Aku malas!" Zenya pergi keluar, Dada nya naik turun karna kesal, Bibirnya mengerucut membuat Cristhopan gemas ingin menyubitnya.


"Gadis itu semakin berani" Gumam Billy yang diam-diam memperhatikan mereka.


"Billy, Kau antar Zenya dengan selamat, gunakan mobil yang biasa saja, Biar aku di jemput Rhandika" Ucap Cristhopan sambil memainkan ponsel nya


"Tuan, tidak apa-apa, aku bisa naik angkutan umum, eh tidak, Aku akan nain taksi online" Zenya tak enak hati,


"Kau cukup dengarkan perintahku, Aku tak akan bisa memastikan selematanmu jika yang mengatarmu sopir taksi online. Sudah, kau segera naik ke mobil dan biarkan Billy agar mengantarmu, Sebelum aku berubah pikiran"


"Baik tuan, Terimakasih banyak" Zenya segera membungkuk ia langsung membuka pintu mobil dan duduk dengan tenang di dalam mobil


"Ck, dasar wanita itu" Cristhopan berdecak


*


*


"Aku dengar, Angeline membawa kartu nama Tuan Cristhopan dan membawanya ke lokasi syuting, setelah itu dia mendapat kesempatan untuk mengikuti syuting film, Aku penasaran, Apakah dia benar-benar kompeten?" Para gadis yang sedang berkerumun di parkiran kampus mulai bergosip tentang Angeline, Gadis yang kemarin menemani Cristhopan, Ia berjalan lenggak lenggok di depan semua orang yang tengah membicarakannya, Bukannya ia tidak tahu kalau mereka sedang bergosip tentangnya, Ia malah senang, karena dengan begitu ia tak perlu susah payah lagi untuk menyebarkan rumor kalau dirinya adalah wanita milik Cristhopan


"Dia adalah putri seorang rektor, Dan juga primadona kampus, Kau tidak lihat pria di organisasi kita semua bagai lebah melihat madu, berebut mengelilinganya" Timpal yang lain


"Oh ya, hari itu aku sepertinya pernah melihat dia berpelukan dengan ketua teater.." Ujar yang lain


"Shhhh.. jangan bergosip tentangnya lagi, kita akan kena masalah"


"Zenya," Ternyata orang di tujunya adalah, Zenya.


"Aku datang kesini ingin menanyakan sesuatu padamu, Apa malam ini kau akan pergi ke villa? Kalau kau ingin pergi, kita pergi bersama ya?"


**○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

__ADS_1


Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih**~



__ADS_2