
Semburat jingga penanda pagi, menyambut Nilam yang baru terjaga dari mimpi.
Senyum sehangat mentari gadis itu tampilkan, menatap sosok yang tengah meringkuk di sampingnya.
Perasaan lega membuat hatinya menjadi ringan.
Memulai hari dengan rasa bahagia, Nilam bersenandung riang menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
Obrolan panjang lebarnya bersama sang kekasih kemarin, seakan menjadi mood booster bagi hatinya yang gersang.
Kemarin, Nilam yang merasa kurang enak badan memilih pamit terlebih dahulu, sebelum acara usai. Dan Pandu bersikeras mengantar dan menemaninya, meski gadis itu menolak.
Mengingat kembali obrolan mereka berdua, Nilam tersenyum-senyum sendiri.
Mengetahui bagaimana Pandu mengkhawatirkannya, bagaimana Pandu begitu perhatian padanya, membuat Nilam merasa sangat dicintai.
Jiwa yang sempat meragu, kini kembali yakin akan pilihannya.
Seperti sebuah pohon yang lama tak tersiram air, terlihat kering dan layu. Namun setelah mendapat tetesan hujan, pohon itu seketika menjadi segar, hijau dan menyejukkan mata. Begitulah hati Nilam saat ini.
"Jangan sakit sayang ... Mas takut ... Mas nggak selalu ada di sini untuk jagain kamu." Ucap Pandu dengan wajah sendu saat melihatnya hanya memejam kan mata.
"Aku nggak apa mas ... Mungkin karena lagi datang tamu bulanan, terus capek, jadi gini. Mas nggak usah khawatir ya ...." Nilam memaksa membuka mata, meski pening di kepalanya membuat ia merasa mual.
Tatapan mata mereka bertemu.
"Mas sangat menyayangi kamu Nilam, maaf kalau selama ini mas jarang meluangkan waktu untuk kamu. Tapi hari ini mas janji, akan selalu mengutamakan kamu, sayang." Ucap Pandu membuat hati Nilam berbunga.
"Nanti kalau mas udah bisa atur jadwal, kita ke rumah orang tua kamu ya, mas mau berkenalan dengan keluarga kamu. Mas rasa, sudah saatnya kita memikirkan masa depan kita berdua. Mas ingin cepat-cepat mengikat kamu. Membawa kamu kemana pun mas pergi. Membunuh segala keraguan diantara kita. Kamu mau kan menjadi pendamping mas?" Tanya Pandu sembari menggenggam tangannya.
Nilam tersenyum mendengar permintaan Pandu.
Siapa yang tidak bersedia menjadi pendamping laki-laki yang dicintainya?
Namun mengingat ucapan Amanda, membuat senyumnya seketika memudar.
Dengan sedikit ragu ia mengutarakan apa yang ada di kepalanya.
__ADS_1
Nilam menceritakan apa yang didengarnya dari Amanda, dan itu membuat wajah Pandu memerah padam.
"Maaf sayang ... Kalau ternyata ada banyak rasa sakit yang selama ini kamu sembunyikan dari mas. Kamu jangan khawatir, nggak akan mas biarkan mereka menyakiti kamu lagi. Kalau mereka menganggu kamu, jangan sungkan untuk melawan. Mas akan selalu membela kamu." Ucap Pandu membuat Nilam lega.
Pandu percaya padanya. Itu saja sudah cukup baginya, sebagai modal mereka melangkah ke jenjang lebih serius.
Banyak hal yang mereka obrolkan, hingga pengaruh obat yang Pandu berikan, membuatnya perlahan mengantuk.
Sebelum ia benar-benar terlelap, Nilam sempat mendengar permintaan maaf laki-laki di sampingnya itu.
"Maaf sayang ... Maafkan segala kesalahan yang sudah mas perbuat. Andai bisa memutar waktu, tidak akan mas biarkan siapapun hadir mengusik ikatan kita. Tapi mas janji akan memperbaiki semuanya. Mas janji akan membuat kamu bahagia."
"Pagiii ...." Suara dari belakang tubuhnya, mengejutkan Nilam yang tengah hanyut dalam lamunan.
"Girang banget pagi-pagi." Celetuk Amanda lagi yang tidurnya terganggu oleh keributan yang Nilam ciptakan.
"Udah bangun kamu. Kemarin jam berapa kamu datang?" Tanya Nilam menoleh ke arah sang sahabat.
"Sekitar jam sembilan. Aku liat kamu udah tepar. Mas Pandu bilang kamu baru habis minum obat. Sekarang udah baikan?"
Nilam mengangguk, sebagai jawaban pertanyaan Amanda.
Jelas sekali terlihat gadis itu tengah berbunga-bunga, membuat Amanda tergelitik untuk tahu apa saja yang sejoli itu lakukan saat mereka hanya berdua di kostan.
"Iya, sebelum balik, dia juga pesan itu sama aku. Katanya suruh ingatkan kamu, kalau hari ini kamu harus istirahat total."
Nilam tersenyum sumringah mendengar ucapan Amanda.
"Mas Pandu habis ngapain kamu sih? Kok kaya yang salah tingkah gitu kamu, tiap ngomongin dia?" Tanya Amanda curiga.
Nilam melotot, tidak terima dengan ucapan sang sahabat.
"Maksud aku ... Kamu habis dikasih apa sama dia, sehingga kamu bisa sebahagia ini sekarang?" Amanda meluruskan ucapannya.
"Ntar aku cerita. Kamu mandi dulu sana, bentar lagi sarapan siap." Ucap Nilam
Amanda bangkit dari kursi plastik yang didudukinya, dan tanpa banyak protes gadis itu menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur. Sementara Nilam sibuk dengan telur yang akan digorengnya.
__ADS_1
**
Tidak seperti biasa, Amanda yang biasanya cerewet dan suka bercanda, kali ini lebih banyak diam saat Nilam bercerita panjang lebar tentang Pandu.
Gadis tomboi itu hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum tipis, sembari tetap fokus dengan nasi goreng di depannya.
"Nda ... Kamu kenapa sih? Dari tadi kayak nggak antusias banget denger cerita aku?" Tanya Nilam yang mulai jengah dengan sikap sang sahabat.
"Nggak kok ... Aku biasa aja." Sahut Amanda.
"Udah ah, kalau kamu nggak minat denger, aku nggak usah cerita aja." Nilam kesal dan memilih mengakhiri ceritanya mengenai apa saja yang ia dan Pandu obrolkan kemarin malam.
"Duuuuhh suka ngambekan ... Udah ah, aku mau siap-siap kerja dulu. Kamu di kost hati-hati ya ... Ingat jaga diri."
Setelah berpesan pada sang sahabat, Amanda hendak bergegas meninggalkan kostan Nilam, menuju gudang tempatnya bekerja.
Namun ia mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan.
"Oh ya, kemarin mas Bas datang saat aku bilang kamu sedang kurang sehat. Dia bawain kamu vitamin dan beberapa makanan ringan. Aku simpan di kulkas kemarin." Ucap Amanda sembari menunjuk benda persegi berukuran sedang yang terletak di samping pintu menuju dapur.
"Sepertinya dia khawatir banget sama kamu. Apalagi liat kamu pulas banget, dia terus pandangan kamu tau," ucapnya lagi.
"Masa sih? Kok kamu nggak bilang? Terus dia sempat ketemu sama mas Pandu nggak?" Tanya Nilam dengan nada cemas.
"Aku niatnya mau bangunin kamu, tapi dia larang. Katanya kasihan kamu, kelihatan capek banget. Dia cuman mau kasih barang-barang itu aja. Kemarin juga dia sengaja tunggu mas Pandu pulang dulu baru dia datang. Dia tahu kali, kalau mas Pandu itu cemburuan."
Nilam termenung sejenak, lalu kemudian mengambil ponsel nya entah untuk apa.
Sementara Amanda, kembali melanjutkan niatnya untuk menuju tempat kerjanya.
"Aku berangkat ya, ingat diminum vitamin pemberian mas Bas." Pesannya sebelum benar-benar keluar dari kostan sang sahabat.
Amanda tidak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi kebucinan Nilam, sementara ia tahu laki-laki yang menjadi pujaan sahabatnya itu telah tega berkhianat.
Bila cinta terbungkus dusta, masihkah ia mampu membawa bahagia?
Itu yang Amanda pikirkan sejak semalam.
__ADS_1
Saat melihat Nilam terlelap, sementara Pandu duduk di sampingnya sembari membelai lembut rambut gadis itu, Amanda tahu ada cinta yang cukup besar laki-laki itu miliki untuk sang sahabat. Namun, cukupkah cinta itu, bila nafsu pada wanita lain telah menodai kesucian ikatan yang terjalin?