
Zenya segera keluar setelah ia selesai dengan mandinya yang pilu. Ia dilayani dengan baik oleh Sisi, Zenya mengenakkan Dress yang simple dengan manik-manik yang tak begitu heboh. Rambut nya di gerai, Ia terlihat sangat simple tapi manis dengan balutan pakaian nya hari ini.
Dengan tatapan kosong, ia mulai menuruni satu persatu anak tangga dengan perasaan goyah.
Terlihat Cristhopan tengah duduk di meja makan, lengkap dengan hidangan sarapan empat sehat lima sempurna.
"Tak di sangka gadis ini cantik, semalam aku kehilangan kendali, sepertinya aku sudah mengagetkannya lagi. " Cristhopan tersenyum kecut kala Zenya duduk di kursi dihadapannya itu tanpa suara sedikitpun.
Hening,
"Kau tidak makan, apa karena semalam sudah kenyang olehku? jadi tidak nafsu makan lagi?" Zenya sama sekali belum beralih, Ia masih memasang wajah tanpa ekspresi, namun tatapannya menjadi lekat kala mata mereka beradu pandang.
"Barang kecil yang sangat rapuh.. " Gumam Cristhopan,
"Jika tidak menyukai sarapan disini, kalau begitu bagaimana kalau kita ke atas, aku akan melanjutkan menyuapimu di atas ranjang." Cristhopan menyeringai, alih-alih membujuknya, ia malah membuat hati Zenya semakin muak.
Zenya masih belum bergeming, Ia malah makin menatap Cristhopan geram.
Cristhopan menyeringai, ia terasa tertantang, ia segera beranjak dari duduknya, lalu segera menghampiri Zenya.
Zenya yang menyadari kalau candaan Cristhopan itu bukan hanya sekedar candaan, Ia yakin kalau Cristhopan akan melakukan apa yang ia ucapkan.
"Aku, aku akan makan." Ia segera meraih piring yang sudah di sediakan oleh pelayan, lalu mengisi piring itu dengan beberapa hidangan.
Mereka mulai menyantap hidangan, hening. Zenya menghabiskan semua yang ada dipiringnya hingga bersih, Karena setelah ia rasa, perutnya pun sudah sangat lapar, dan tenaganya sudah habis terkuras.
"Tuan Cristhopan, Aku.. aku sudah membiarkanmu mendapatkan hal yang kau inginkan, jadi apa kau bisa menjamin ayahku akan selamat?" Ia memberanikan diri memulai percakapan, Cristhopan yang tengah menyeruput teh nya, beralih sesaat.
__ADS_1
"Apa aku pernah bilang ingin membantumu?" Bagaikan tersambar petir, Zenya yang sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya itupun langsung tersulut.
"Apa maksudmu?!
Cristhopan! Aku sudah.. Sudah dibuatmu sampai begitu, Bagaimana bisa kau mengingkari janji!" Ia berteriak, Ia bangkit dan dengan berani menunjuk dengan jari telunjuknya tepat kearah Cristhopan.
"Aku sepertinya tidak pernah berkata jika kau menemaniku tidur semalam, aku akan menjamin keselamatan ayahmu.
Nona Zenya, Apa ingatanmu selalu buruk seperti ini?" Cristhopan semakin mempermainkan Zenya, Zenya luruh, Ia hampir menangis.
"Cristhopan! Kau jangan keterlaluan!" Tatapannya mengguratkan kekecewaannya, Sudah seharusnya ia tak percaya serigala macam Cristhopan.
"Sungguh anak yang berbakti, tidak ingin melihat ayahnya terluka sedikitpun?" Seringai itu terlihat lebih memuakkan dari biasanya, Zenya yang sudah tak tahu harus berbuat apa dibuat kelimbungan, Ia menyesal, Amat teramat menyesal. Mengapa ia harus meminta bantuan pada Cristhopan. Ia sudah terlanjur memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
"Tuan Cristhopan, Dia hanyalah seorang lelaki tua, Aku, aku akan bertanya padanya kenapa ia bisa sampai berurusan dengan preman-preman itu? Jadi kumohon.." Zenya memohon, Ini untuk yang terakhir kalinya, Ia akan memaksa pergi jika Cristhopan masih mempermainkannya.
"Apa maksudnya?" Gumam nya dalam hati, perasaannya mulai was-was
"Kau sebenarnya ingin bagaimana? Tuan Cristhopan, sebutkan semua persyaratanmu, jika kau ingin aku mengembalikan uang.." Zenya mulai menyerang Cristhopan bertubi-tubi, cerocosannya yang membuat Cristhopan pengang sukses membangkitkan emosi sang mafia arrogant itu.
"Sepuluh miliar, kau rasa kapan kau bisa melunasinya?" Cristhopan meraih lengan Zenya, menarik tubuh ramping itu agar duduk di pangkuannya, Ia mencengkram kasar dagu Zenya, Memaksanya agar mata mereka saling bertatapan, Tatapan dingin yang selalu dihindari oleh Zenya.
"Beri aku sedikit waktu, mungkin.. mungkin aku masih sanggup mencicilnya." Jawab Zenya sambil memalingkan wajahnya.
"Kau ada cara apa? Bagaimana jika aku memberimu sedikit jalan, Jadilah wanitaku, hingga aku bosan." Zenya terbelalak, ia sudah yakin bahwa persyaratan yang akan di lontarkan Cristhopan sudah pasti akan sangat brutal dan gila. Ia memang sudah tak ada harga diri, Apalagi di hadapan Cristhopan.
"Tidak mau! Hingga mati pun aku tetap tak akan mau!" Zenya tak kalah membalas tatapan tajam Cristhopan, Walaupun polos dan lugu tapi jika menyangkut harga diri dan kebebasan hidupnya, Zenya akan membela, Walaupun ketakutan menjalar diseluruh urat dan pembuluh darahnya, Zenya masih memberanikan diri untuk menolak.
__ADS_1
"Cih! Dia terus saja bermain tarik ulur, sudah lemah pun masih saja berpura-pura kuat! Lihatlah! Sampai kapan aku harus bermain tarik ulur bersamamu!" Tatapan Cristhopan meremehkan, Ia sudah yakin bahwa sekali gertak saja, benteng pertahanan 'sok berani yang di perlihatkan Zenya akan langsung rubuh.
"Semalam, baru satu malam saja ia bisa membuatku seperti ini, apalagi nanti, setiap malam aku harus melayaninya. bisa-bisa aku mati!" Batin Zenya
"Ingin mati segampang itu?" Cristhopan menghela nafasnya kasar "Hhhahh.. Tapi lebih baik kau pikirkan lagi, setelah kau mati nanti, suasana hatiku seharusnya tidak akan baik, pada saat itu, Ayah dan keluargamu.." Zenya geram, hal itu selalu di jadikan senjata, Apalagi ia tidak akan melepaskan keluarga Zenya walaupun dirinya mati.
"Cristhopan! Kau bajingan!! Kau iblis" Zenya mengatakannya dengan nada penuh kebencian, gigi nya bergeratak karna menahan amarah. Zenya memposisikan tangannya seperti akan menampar Cristhopan.
"Kau jangan sembarangan, Kau seharusnya tahu, jika hari ini kau menamparku, Akibat apa yang akan diterima keluargamu?"
"Billy!" Asisten pribadinya itu segera menghampiri, Ia membawa sebuah map lalu menyerahkannya pada Cristhopan, "Silahkan Tuan" Ucapnya sembari memberikan map tersebut
"Aku ini adalah orang yang adil, kau membuat aku harus mengeluarkan uang sepuluh miliar, Sekarang aku tidak akan menghitung bagian soal Investasi pemakaman, atau penyelamatan ayahmu dulu..
Kau lihat baik-baik surat perjanjiannya, Jangan katakan aku menindasmu. Orang biasa tak akan bisa mendapat harga yang bagus begini." Cristhopan membuka map tersebut, lalu menyerahkan beberapa lembar map yang sudah tersusun rapi itu kepada Zenya.
Zenya meraihnya, Ia mulai membaca setiap tulisan yang tertulis di kertas itu, Ia terbelalak kala membaca 'Perjanjian atau persyaratan' yang di buat Cristhopan akan Segila, dan se tak masuk akal ini,
"Sepuluh juta, Setiap kali aku melakukan 'itu' dengannya, dan apa ini? Setiap aku melayaninya aku akan di bayar, bahkan untuk menyuapinya makan? Lalu membelainya mesra? Dia sudah benar -benar gila!"
**●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●●
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih**~
Gimana nih Cristhopan. Udah bad boy belum?😍
__ADS_1