CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 52


__ADS_3

Di tengah kesibukannya membuat hidangan, fokus Nilam sedikit terganggu oleh kehadiran sosok semampai yang baru saja melenggang pergi, meninggalkan pintu dapur.


"Bik, siapa dia?" Tanya gadis itu penasaran.


"Ituu ... nona Delvia nak, teman masa kecilnya mas Pandu. Dia itu model lho, cantik ya ...." Bik Surti memuji tamu tersebut, tanpa bermaksud menyudutkan Nilam.


Gadis itu tersenyum kaku. Disengaja atau tidak, ucapan bik Surti berhasil membuat rasa rendah diri gadis itu muncul seketika.


'Cantik banget memang dia, sepadan lagi sama keluarga ini.' bisik hatinya membuat wajah Nilam mendadak murung.


"Eh nak Nilam, maaf bukan bibik bermaksud apa-apa. Nak Nilam juga cantik, cantik sekali malah. Lagi pula non Delvia itu sudah seperti keluarga di sini, nggak mungkin mas Pandu akan suka sama dia." Entah kenapa, bik Surti menjelaskan sesuatu yang Nilam tidak singgung sedikit pun.


Mungkin wanita paruh baya itu sadar dengan perubahan air muka gadis, yang tengah ia ajak berbincang.


"Enggak apa-apa kok bik, aku biasa aja." Ucap gadis itu, sambil melanjutkan pekerjaannya.


Setelah obrolan itu, mereka kembali fokus dengan tugas masing-masing.


Bik Surti menyelesaikan jus permintaan Delvia, lalu mengantarkannya, sementara Nilam kembali fokus dengan meracik bumbu.


Tidak berselang lama, tukang kebun rumah itu datang, mengabarkan kalau pesanan katering untuk para karyawan sudah siap.


Penghuni dapur yang masih sibuk dengan bumbu, sendok, dan alat perang lainnya saling menoleh, belum paham dengan apa yang terjadi.


"Bik Surti sama mba Asih bisa tolong bantu sebentar untuk menatanya? Saya nggak ngerti soalnya." Lanjut pria berusia sekitar 40 tahun itu.


"Siapa yang pesan ketering ya pak?" Tanya bik Surti penasaran.


"Kurang tau saya, tapi yang jelas mereka sepertinya mang langganan tuan dan nyonya. Mukanya nggak asing solnya." Terang tukang kebun itu.


Mereka menghela nafas dalam. Merasa dipermainkan oleh seseorang yang entah siapa.


"Iya pak, sebentar kami bantu ke sana." Sahut bik Surti, setelah beberapa saat terdiam.


"Ini pasti kerjaan si judes itu deh ... Seneng sekali ngerjain kita-kita ini, mentang-mentang orang kaya." Asih yang sejak tadi mendengar penjelasan tukang kebun, tidak dapat menahan rasa kesalnya.


Pekerjaan yang sedianya sudah selesai sejak siang tadi, harus mereka kerjakan hingga saat ini, ketika jam sudah menunjuk angka 17.15

__ADS_1


Dan setelah semua sudah hampir selesai, makanan lain justru sudah dipesan dari luar. Lalu untuk apa mereka mengeluarkan keringat dan membuang bahan makanan di dapur?


"Sstt diem aja kamu, jangan ngomong apa-apa. Nanti jadi panjang urusannya. Kita bereskan ini, biar cepet selesai." Sergah bik Surti.


Nilam yang sedikit merasa aneh hanya diam saja.


"Bik, tamu khusus yang mau dibuatkan makanan siapa saja ya?" Tanya Nilam, mencoba mengalihkan perhatian.


"Kurang tau nak Nilam, kalau biasanya sih hanya ada sekitar 5 keluarga yang mereka jamu pas perayaan seperti ini. Sisanya bergabung di luar dengan yang lain. Biasanya mereka ini datangnya agak malam." Jelas bik Surti.


"Oohh ... Terus makanannya siapa biasanya yang siapkan bik?"


"Biasanya nyonya pesan makanan dari restaurant, ini untuk pertama kalinya beliau ingin menjamu dengan masakan dari dapurnya sendiri"


Merek berdua berbincang, masih sembari menggerakkan tangan mereka dengan lincah.


Nilam yang cekatan di dapur, sudah hampir selesai membereskan hasil masakannya


"Biiik! Cepetan itu atur semua makanan katering yang udah datang ...! Ngapain aja sih, dari tadi nggak ada yang becus kerja?"


Suara Laksmi kembali menggema, memenuhi ruangan.


"Biarin itu si Nilam yang beresin, kan dia harus selesaikan kerjaannya dia, bikin masakan yang di request mama kemarin. Bibik sama Mbak Asih keluar urus katering!" Titahnya.


Bik Surti tidak menjawab. Merasa tidak enak meninggalkan Nilam, dengan pekerjaan yang masih lumayan banyak di tempat itu.


"Udah bik, nggak apa kok. Nanti minta tolong panggilkan Amanda aja ya, biar dia bantuin aku di sini." Ucap Nilam dengan senyum tulusnya.


"Iya nanti bibik panggilkan teman nak Nilam untuk bantu di sini. Maaf ya nak ...." Ucap bik Surti, bergegas meninggalkan dapur menuju tempat yang sudah disiapkan untuk tempat makanan.


Laksmi menyilangkan kedua tangannya, mengawasi dua art tersebut keluar dari ruang dapur.


Setelah kepergian kedua art itu, matanya masih awas memandang ke arah Nilam dengan tatapan permusuhan, namun gadis yang ditatapnya tidak sedikitpun terganggu oleh kehadiran wanita itu.


"Lam ...." Sebuah suara mengalihkan pandangan Nilam dan Laksmi. Mereka kompak menoleh ke arah Amanda.


"Permisi ..." Gadis tomboi itu sedikit membungkuk saat berhadapan dengan Laksmi, yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Ngapain kamu kemari?" Tanya Laksmi. Senyum dan perilaku hormat Amanda mendapat reaksi yang tidak sesuai ekspektasi gadis itu.


"Saya yang minta dia kemari, untuk bantuin saya bereskan ini semua." Sahut Nilam dengan suara tenang.


"Bisa mba tolong kasih die lewat sebentar? Biar ini cepat selesai." Lanjutnya lagi menatap calon kakak iparnya.


Sudah cukup dia beramah tamah dengan wanita seperti Laksmi.


Wanita itu mendengus kesal. Sedikit memindah posisi tubuhnya, agar bisa dilewati Amanda.


Setelah gadis itu memasuki dapur, tanpa banyak berkata lagi, ia meninggalkan tempat itu, dengan kepala mendongak penuh keangkuhan.


"Mau bantuan apa kamu, Lam? Nggak liat aku udah dandan cantik begini? Masa masuk dapur lagi?" Gadis itu bertanya sekaligus bersungut pada sahabatnya.


"Kalau mau bantuin yang iklhas Nda ...." Jawab Nilam, dengan wajah dinginnya.


Jawaban singkat, dan wajah datar gadis itu, cukup membuat Amanda tau kalau sudah terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan sang sahabat.


Akhirnya tanpa banyak bertanya, Amanda membantu Nilam menyelesaikan masakannya, juga membersihkan dapur tersebut.


Tidak memerlukan waktu lama, sebab semua bahan sudah dicuci dan siapkan bumbunya. Bahkan ada beberapa sudah tinggal menggoreng saja, sebab sudah di marinasi sebelumnya oleh bik Surti.


"Permisi ... Mbak bisa tolong buatkan saya salad buah nggak?" Delvia yang tadi meminta jus tomat, kali ini datang ke dapur untuk meminta salad buah.


Nilam yang sudah memendam kesal, dan ada perasaan mengganjal pada wanita itu, mencoba menahan diri untuk tidak berkata ketus.


"Maaf mba, kayaknya di luar sudah di sediakan makanan yang mba minta." Sahut Amanda yang sudah sempat berkeliling mencicipi beberapa hidangan yang disediakan.


Gadis itu melihat ada salad buah diantara menu yang tersedia.


Raut wajah ramah Delvia berubah masam, mendengar ucapan gadis tomboi itu.


"Saya nggak minta sama kamu, saya minta sama dia." Ucapnya menunjuk Nilam dengan dagunya.


Amanda memberi kode pada sahabatnya.


"Kalau sudah ada di luar, kenapa harus dibuatkan lagi? Bukankah tinggal ambil yang sudah tersedia aja?" Ucap Nilam.

__ADS_1


Memang terkesan berani mereka berdua itu, mengingat yang meminta adalah orang terdekat sang majikan. Namun mereka memiliki alasan tersendiri mengapa melakukan hal tersebut.


__ADS_2