
Cinta perlu perjuangan, membutuhkan pembuktian untuk memberi rasa percaya. Dan meyakinkan hati yang terluka itu tidaklah mudah.
Itu yang saat ini Baskara rasakan, saat mencoba mendekati Nilam, selayaknya seseorang yang tengah menjalani masa penjajakan.
Ia harus melapangkan hati, memanjangkan sabar, menghadapi sikap Nilam yang acap kali masih mencoba menghindarinya.
"Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit, sampe nggak masuk kerja?" Sedikit menekan suaranya, Baskara berusaha sebisa mungkin untuk tidak memarahi Nilam, yang masih saja membentengi diri dari lawan jenis termasuk dirinya.
"Coba kalau tadi mas nggak mampir ke toko tempat kamu kerja, mas nggak bakalan tau apa-apa soal kamu saat ini. Apa yang harus mas jelaskan pada paman, jika sampai terjadi apa-apa sama kamu?" Mata Bas menukik tajam ke arah gadis yang saat ini terbaring dengan kepala menyandar di sandaran ranjang.
Wajah Nilam pucat, rambut yang biasanya tertata rapi, saat ini terlihat kusut, sebab sang empunya tidak dapat beraktifitas dengan benar sejak pagi.
Jangankan untuk mengurusi masalah penampilan, sekadar bangkit untuk ke kamar mandi saja ia memerlukan tenaga ekstra.
Baskara menarik nafas panjang, entah harus dengan cara apa ia memberi tahu Nilam, bahwa dirinya ada untuk gadis itu. Apapun kondisinya, sebisa mungkin Baskara akan mendampinginya.
"Buka mulutnya, makan sedikit lagi." Ucapnya dengan suara lebih lembut dari sebelumnya.
Nilam menggeleng. Sejak pagi, lambungnya hanya terisi teh dan roti, tidak mungkin ia bisa menghabiskan banyak bubur secara tiba-tiba seperti saat ini.
"Nanti lagi aku makan mas, takut malah keluar semua." Sahut gadis itu dengan suara lemah.
Waktu sudah menunjuk pukul dua siang. Bahkan jam makan siang sudah lewat, namun gadis itu hanya memberi makan cacing dalam perutnya, hanya dengan roti dan teh hangat?
Baskara tidak memaksa, ia meletakkan mangkuk keramik itu di meja yang terletak tidak jauh dari ranjang Nilam.
Setelahnya, ya mengambil obat yang ia beli di apotek, lalu menyerahkan pada gadis itu, beserta air mineral kemasan.
"Minum ini dulu, habis itu istirahat lagi." Ucapnya.
Tanpa banyak protes, Nilam melakukan perintahnya.
Semua gerak-gerik Nilam tidak luput dari pindaian mata elang laki-laki itu.
"Udah, mas. Makasih." Ucap Nilam lembut.
__ADS_1
Baskara hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih menatap Nilam dengan intens, membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
Nilam meremass botol plastik bekas air mineral itu, berusaha menutupi kegugupannya. Ia menundukkan kepala, merasa risih dengan tatapan Baskara, yang seolah mengulitinya.
Bas menggerakkan tangannya, menarik dagu Nilam agar mau melihatnya.
Beberapa menit mata mereka saling menatap, tanpa ada satu pun yang bersuara.
"Gimana caranya mas ngeyakinin kamu, kalau mas tulus sayang sama kamu, Lam?" Tanyanya setelah beberapa saat.
"Apa mas nggak pantas untuk kamu? Apa dari diri mas, yang harus mas rubah, agar kamu bisa membuka hati kamu?" Ada rasa kecewa tersirat dari suara Baskara saat ini.
"Sampai sejauh mana kamu ingin menguji kesungguhan hati yang mas punya untuk kamu?" Tanyanya beruntun.
"Mas, nggak gitu ...."
"Apa karna mas seorang berandalan? Pemabuk, suka judi, nggak punya pekerjaan tetap? Itu yang membuat ku masih ragu?"
Baskara merendahkan dirinya, mengatakan citra buruknya selama ini di mata orang-orang, untuk tahu apa isi kepala Nilam.
"Mas Bas! Aku nggak suka denger mas ngomong gitu. Aku nggak pernah mikir seburuk itu tentang kamu, mas. Hanya saja ...."
"Mas ... Udah ... Maaf, kalau ini bikin mas Bas merasa kecewa sama aku. Aku hanya meras malu, terlalu sering merepotkan kamu mas. Aku kira, sakit aku juga nggak terlalu parah," ucap Nilam lirih, menyadari kesalahannya.
Tubuh Nilam masih sangat lemah, namun ia dipaksa harus berdebat dengan pria di hadapannya.
Mau bagaimana lagi? Mungkin sikapnya kali ini sudah membuat Baskara sangat terluka.
Bas tersenyum sinis, ingin menuangkan kemarahannya lebih jauh lagi, namun ia sadar saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu.
Nilam masih sakit, ia tidak ingin gadis itu semakin sakit lagi dengan ucapannya.
Yang terpenting Nilam sudah mengerti perasaannya. Sudah tahu kalau ia tidak suka dengan sikap gadis itu yang terlalu tinggi memasang dinding pembatas.
"Sudah, kamu istirahat aja. Mas jaga di sini," Ucap Bas akhirnya, menghentikan perdebatan.
__ADS_1
"Tapi mas ...."
"Nggak ada tapi-tapian. Mas nggak mau mendengar penolakan kamu lagi."
"Kerjaan mas gimana?"
"Udah beres." Sahutnya cepat, membungkam mulut gadis itu.
Nilam tidak bisa lagi membantah ucapan Bas, ia hanya bisa pasrah, ketika Baskara merapikan tempat tidurnya yang berantakan, menyapukan kasurnya dengan sapu lidi, menata ulang bantal yang tadi ditumpuk sebagai sandaran Nilam, setelah itu menuntun gadis itu untuk berbaring dengan nyaman.
Nilam melakukan semua perintahnya dengan patuh, namun saat ia meminta memejamkan mata, gadis itu justru terus menatap dengan tatapan tidak bisa diartikan.
"Jangan liat mas kayak gitu, nanti kamu jatuh cinta sama mas."
Dengan wajah datar yang tidak pernah Nilam lihat sebelumnya, Baskara mengingatkan Nilam.
"Ck, ge er bnget." Sahutnys sembari membolakan matanya.
Baskara tidak menanggapi ucapan gadis itu, ia sibuk dengan ponsel di tangannya.
Hingga beberapa saat, mungkin karena efek obat yang Bas berikan, akhirnya Nilam terlelap juga.
Barus setelah melihat nafas gadis itu teratur, Baskara melangkah perlahan mendekati ranjang dimana pujaan hatinya berbaring.
Baskara memandang wajah Nilam begitu dalam. Seolah ingin menyimpan dalam memorinya, wajah yang setiap hari selalu membayangi dirinya di setiap aktifitas yang ia lakukan.
"Takdir kita sudah terikat, mungkin sebelum kita dilahirkan, Lam. Aku percaya, ayahmu memilih ku bukan tanpa alasan. Meski aku tidak yakin, apakah nanti perasaan yang aku punya akan berbalas oleh mu atau tidak. Tapi yang pasti, perasaanku ke kamu itu dalam. Sejauh mana aku mencintai diriku, rasanya perasaanku ke kamu melebihi semua itu. Bagaimana aku bisa menunjukkannya ke kamu? Kalau kamu tidak pernah mau membuka hatimu untuk melihat semua itu?"
Gunadh berbicara, seolah Nilam masih terjaga. Ia berharap, alam bawah sadar gadis itu bisa merekam apa yang ia ucapkan, agar Nilam mengerti siapa dirinya bagi Baskara.
'aku akan memantaskan diri, bekerja lebih giat lagi agar bisa membuat kamu merasa bangga menjadi pendampingku kelak, Lam ... Semoga suatu saat, senyum tulus yang kamu tunjukkan untuk dia dulu, bisa aku nikmati suatu saat nanti.' gumam Baskara dalam hati.
^_________^^_________^^_________^
haiii maafkan daku baru up, kesibukan di dunia nyata nggak bisa di hapus pakai stipo. harus dijalani, dan disyukuri, katanya.
__ADS_1
eeh hampir lupa, jangan lupa mampir di karya temen ku ya ....