
Laju kuda besi yang ditunggangi Pandu, menerobos hujan lebat disertai petir, yang mengguyur sepanjang perjalanannya dari kampung halaman Nilam, hingga saat ini ia sudah berada di pertengahan antara kota asal Nilam dengan kota N.
Tangis penyesalannya pecah, mengalir bersama derasnya air hujan yang turun menusuk mata.
Kalimat-kalimat yang Nilam ucapkan, berputar berulang memekakan telinganya, menghadirkan rasa bersalah dan penyesalan yang semakin membuat dada laki-laki itu terhimpit beban berat.
Kesalahannya karena telah mengkhianati Nilam memang sangat fatal, namun ia hanya manusia biasa. Bukankah manusia tempatnya salah? Toh ia sudah berniat mengakhiri semua dengan Delvia. Ingin memperbaiki diri, dengan niat baik yang ingin ia segerakan bersama Nilam.
Lalu kenapa tidak ada kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki diri?
Kenapa takdir begitu kejam memisahkan dia dengan wanita yang dicintai?
Baginya Nilam itu sempurna. Dalam kesederhanaannya Nilam mampu menghadirkan kebahagiaan untuk Pandu. Gadis yang tidak pernah berusaha menarik perhatiannya, meski banyak karyawan lain berlomba melakukan hal itu. Nilam juga tidak pernah menuntut apapun darinya, sekalipun gadis itu tahu ia mampu memberikan apapun yang Nilam mau.
Nilam yang ramah, selalu tersenyum pada semua orang. Tidak pernah memanfaatkan hubungan mereka untuk kepentingannya dalam pekerjaan. Nilam yang murni, tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki lain, namun bukan juga gadis munafik yang merasa alergi dengan lawan jenis.
Pandu menyukai kepribadian Nilam itu, berharap ia bisa menjadikan sosok itu sebagai pelabuhan terakhir hidupnya.
Tapi kini, angan itu semakin menjauh dan mengecil. Pandu bahkan tidak sanggup menggapai bayangannya sekali pun.
Dibalik sikap lembut Nilam, ada ketangguhan dan keteguhan hati yang tidak bisa memaafkan sebuah pengkhianatan. Dan Pandu baru tahu itu.
Kini nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa lagi ia memperbaiki semuanya. Yang tersisa hanya sesal yang selalu datang terlambat.
Merasa tidak tahan dengan air yang terus menghujam mata, ia terpaksa menepikan motornya di pinggir jalan dekat pantai. Air laut yang keruh bercampur lumpur, gemuruh ombak yang datang saling mengejar penuh amarah, seakan mewakili perasaan hatinya saat ini.
"AAAAAA" suara Pandu menggema, namun tak lama lenyap digulung deburan ombak yang kembali menyapa.
Berulang kali laki-laki itu berteriak, mencoba menghempas beban yang mencengkeram hatinya.
Hingga tenggorokannya terasa kering, Pandu menyerah. Menjatuhkan tubuhnya pada kerikil-kerikil yang terhampar, mengabaikan rasa sakit di lututnya akibat terbentur batu-batu licin itu.
Lama ia termenung di atas bebatuan, dengan tubuh basah kuyup. Lelah berteriak, Pandu merenungi kembali apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Selama ini, meski ia menikmati tubuh Delvia berulang kali, namun tidak sedikit pun terlintas di benaknya untuk menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidupnya.
Tidak sekalipun ia terpikir, menjadikan wanita itu ibu dari anak-anaknya. Namun takdir bekerja sesuai ketentuannya. Selalu ada akibat dari setiap sebab yang kita kulai, tanpa diduga entah benih yang mana yang kini berkecambah di rahim wanita itu. Yang Pasti semua menunggu pertanggung jawabannya saat ini.
Ingin mengelak, namun semua orang sudah tahu, kalau ia yang harus bertanggung jawab atas keadaan Delvia saat ini.
'Baiklah, mari kita jalani peran ini. Tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan dalam hidup ini. Semua sia-sia, cinta hanya mendatangkan kecewa dan air mata.'
Pandu seolah berbincang dengan jiwanya yang kini hampa. Meratapi perpisahan juga rasanya percuma, tidak akan ada yang berubah. Takdir yang coba ia ingkari, seperti bayangan yang selalu mengekor kemanapun ya pergi.
***
Sejak hari itu, Pandu tidak lagi berusaha mencari tahu tentang Nilam. Ia mengubur semua perasaannya, memendam semua sakitnya seorang diri.
Tidak ada yang tahu seberapa sulit ia melupakan Nilam, seberapa besar sesal yang menggelayut membebani hatinya, seberapa tersiksanya dia menjalani harinya, tidak ada yang memahami itu.
Mereka mengira Pandu sudah merelakan semuanya. Bahkan semua orang tersenyum bahagia, saat ia memutuskan mempercepat pernikahannya dengan Delvia.
Tanpa tahu, apa alasan dibalik sikapnya saat itu.
"Aku nggak mau tahu ma, Minggu depan pernikahan itu harus digelar. Terserah kalian mau buat pesta seperti apa." Sahutnya datar, dengan tatapan lurus ke depan.
Nyonya Wijaya melirik sang suami dan anak sulungnya. Mencoba meminta pendapat dari salah satu diantaranya.
Tuan Wijaya hanya mengangkat bahu, pertanda menyerahkan semua di tangan sang istri. Sementara Laksmi, ia sangat antusias mendengar keputusan sang adik.
Ia mengangguk, saat mata sang mama menatap ke arahnya.
"Ami bantu mah, tenang aja." Ucapnya penuh semangat.
"Ami urus soal undangan sama gaun pengantinnya, mama urusan katering sama gedungnya" ucap ibu satu anak itu dengan wajah berbinar.
"Pandu, kamu siap-siap ...."
__ADS_1
Belum selesai wanita itu bicara, Pandu sudah meninggalkan ruang keluarga, tempat mereka berempat berembug barusan.
Sesaat mereka saling tatap, namun kemudian nyonya Wijaya mengalihkan perhatian.
"Sudah, kita harus segera bergerak mempersiapkan semuanya. Mi, kamu hubungi Via, kasih tau dia kabar ini. Sekalian minta dia buat nyari desainer yang bisa bikinin gaun dengan cepat."
"Iya mah." Ucap wanita cantik itu.
Pagi itu kesibukan keluarga Wijaya mempersiapkan pesta pernikahan Pandu dimulai.
***
Kabar pernikahan Pandu mulai tersebar di antara karyawan yang bekerja di bawah naungan keluarga Wijaya. Mulai dari pegawai minimarket, juga karyawan gudang, termasuk Amanda juga sudah mendengar berita itu.
Kasak kusuk berita yang tidak enak didengar pun, mulai berhembus. Terlebih dari mulut-mulut nyinyir karyawan wanita yang selama ini tidak suka dengan hubungan Nilam dan Pandu.
"Sial! Harus banget ya aku masih kerja di sini? Mesti denger gosip murahan nggak jelas begini." Keluh Amanda saat baru keluar dari toilet khusus karyawan.
Kuping gadis tomboy itu terasa panas, saat ia mendengar beberapa karyawati menggosipkan tentang sahabatnya.
Namun sebisa mungkin ia menahan diri, tidak ingin memperumit masalah.
"Huuuhh sabaaaar ...." gadis itu mengelus dada, mencoba memanjangkan sabarnya.
Amanda terpaksa masih harus bekerja di tempat itu, sebab ibunya beberapa waktu lalu melarangnya untuk berhenti.
"Kamu nggak bisa ninggalin kerjaan hanya karena Nilam berhenti. Kalian berteman, tapi jangan sangkut pautkan masalah kerja dengan pertemanan kalian. Lagi pula, ibu masih belum sehat, masih perlu kamu di rumah untuk antar ibu kontrol ke dokter." Nasihat ibunya, ketik gadis itu meminta ijin untuk mencari kerja di kota D.
Terpaksa Amanda menuruti keinginan ibunya, meski ia sudah merasa tidak nyaman bekerja di tempat itu.
Amanda bukan orang yang mudah bergaul, pembawaannya yang bar-bar membuat orang segan dekat dengannya. Itu sebabnya selama ini ia hanya dekat dengan Nilam, sebab Nilam bisa mengimbanginya dengan sikap lembut.
Dan kini rasa nyamannya semakin terusik oleh obrolan tak bertuah yang beberapa hari terakhir selalu menyambangi indera pendengarannya.
__ADS_1
'syukur kamu udah keluar dari tempat ini Lam,' gumamnya dalam hati.