
Nilam tidak ingin berprasangka buruk. Namun kedatangan Laksmi ke tempat kerjanya, serta hinaan yang terlontar dari mulut wanita itu membuat prasangka itu muncul dengan sendirinya.
Benarkah Laksmi tidak tahu jika dirinya bekerja di tempat itu? Benarkah kedatangannya hanya kebetulan?
Lalu bagaimana bisa wanita itu meminta dilayani hanya olehnya, jika kedatangannya hanya kebetulan?
Dan sialnya lagi, semua pakaian yang ditawarkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan wanita itu.
Apa memang dia sengaja ingin mengganggu Nilam?
"Uuuhh, Nilam, pakaian di sini bagus-bagus tapi sayangnya nggak ada yang cocok sama aku. Maaf ya, kayaknya aku cari butik yang lain aja," dengan wajah menyesal wanita itu berucap, lalu melenggang menuruni tangga butik tersebut.
Nilam hanya bisa tersenyum kaku. Ada rasa kesal yang membujuknya untuk mengumpat, namun sebisa mungkin dia menjaga lisannya.
Ia menatap tumpukan pakaian yang sempat diminta untuk dicoba oleh Laksmi. Gadis itu menarik nafas berat, sebelum merapikannya kembali.
"Orang itu nggak jadi beli, Lam?" Salah satu temannya menghampiri Nilam di lantai atas.
Nilam menggeleng lemah, sembari tangannya terus bekerja menata pakaian yang sempat ia turunkan beberapa menit lalu.
"Aneh banget. Gegayaan minta pelayanan khusus, ujung-ujungnya cuman berantakin gini doang. Kamu kenal orang itu, Lam?" Nilam hanya mengangguk. Ia merasa enggan menanggapi gerutuan teman kerjanya tersebut.
Menyadari reaksi Nilam yang sepertinya enggan, wanita yang terlihat lebih tua dari Nilam itu pun tidak lagi melanjutkan rasa ingin tahunya.
"Jangan ngumpul di atas! Salah satu turun woe!" Teriak kasir dari bawah.
"Lam, sorry aku nggak bantuin. Udah dipanggil soalnya." Ucap wanita itu, lalu pergi meninggalkan Nilam.
Suasana sepi di lantai dua, membuat Nilam kembali mengingat masa lalunya. Namun itu hanya sesaat, sebab detik berikutnya pikiran Nilam kembali tertuju pada sosok tampan yang sejak pagi tadi tidak memberinya kabar.
'mas Bas kemana sih? Sibuk banget apa ya, sampe nggak sempat balas chat sekalipun.' Keluhnya dalam hati, sembari meraih ponsel di saku celana jinsnya.
Ia membuka aplikasi hijau yang biasa ia gunakan berbalas pesan dengan Baskara. Ditatapnya chat yang dikirim Bas kemarin malam.
"Nggak ada apa-apa. Rasanya aku tidak melakukan kesalahan apapun." Gumam gadis itu, yang merasa bingung kenapa tiba-tiba Bas tidak memberinya kabar.
Ini kali pertama Bas tidak membalas pesannya hingga seharian. Biasanya sesibuk apapun laki-laki itu, pasti masih berusaha mencuri waktu untuk sekadar menyapa dirinya.
__ADS_1
Namun kini, dia merasa diabaikan. Bahkan ruang obrolan itu terakhir aktif beberapa menit lalu, tapi kenapa pesannya tidak dibalas.
"Lam ... Bantu di bawah, ada tamu." Seseorang memanggilnya dari tangga.
"Oh, iya." Sahut gadis itu, segera memasukkan ponsel ke dalam saku celana jinsnya kembali, lalu bergegas mengikuti temannya untuk melayani tamu yang baru datang.
***
Nilam meregangkan otot-ototnya sebelum membuka pintu kamar. Rasa lelah begitu ia rasakan, terlebih suasana hatinya yang sedang galau, semkin menambah lemas di setiap persendiannya.
"Lam, baru pulang?" Tanya Amanda dengan suara khas baru bangun tidur.
"Iya. Lanjut tidur aja Nda, aku juga mau langsung tidur kok." Ucapnya saat melihat Amanda hendak bangkit dari kasur.
"Kamu udah makan?" Tanya Amanda lagi, dibalas anggukan oleh Nilam.
"Aku mandi dulu ya," ucap Nilam setelah selesai membersihkan wajahnya dari sisa make up yang menempel.
"Iya, aku tidur kalo gitu." Sahut Amanda.
Nilam tidak menjawab. Gadis itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia pun ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang, di samping Amanda.
Meski merasakan lelah, namun mata gadis itu menolak terpejam. Pikirannya berkelana ke banyak tempat, membuatnya menjadi frustasi sendiri.
Segala bentuk gaya ia coba, dari memeluk guling, terlentang, miring kiri, miring kanan, namun tidak ada posisi yang nyaman ia rasakan malam itu.
"Lam, kamu kenapa sih? Nggak biasanya tidur blangsak kayak gini?" Amanda merasa terganggu oleh gerakan gelisah gadis itu.
"Sorry Nda, aku nggak bisa tidur ...."
"Kenapa? Lagi ada masalah, kamu?"
Nilam menggeleng.
"Berantem sama mas Bas?"
Nilam kembali menggeleng.
__ADS_1
"Lalu kenapa Nilam ...?" Kesal Amanda
"Aku juga nggak tau, Nda ... Aku nggak bisa tidur karena apa ..." Keluh Nilam frustasi.
"Ya sudah coba kamu pake bajunya dibalik, terus bantalnya juga dibalik, siapa tau bisa bantu." Usul Amanda.
Nilam bangkit, menatap sahabatnya dengan horor.
"Nggak sekalian kamu suruh aku tidur dibawah kolong kasur? Ide mu mistis banget sih?" Ucap Nilam mengusap kedua lengannya menyilang.
"Terserah kamu saja lah ... Percaya silahkan, nggak juga nggak apa-apa. Aku mau tidur, besok kerja pagi." Ketus Amanda, memunggungi sang sahabat.
Nilam menatap punggung Amanda yang sudah tertutup selimut.
Ingin menolak, namun entah kenapa tangannya bergerak membuka baju yang dipakainya. Mungkin alam bawah sadar gadis itu percaya apa yang diucapkan Amanda.
***
Entah jam berapa Nilam baru terlelap kemarin malam. Yang pasti setelah dirinya mengikuti saran Amanda pun, ia masih tetap gelisah. Namun karena tidak ingin menganggu tidur sahabatnya, ia memaksa tubuhnya untuk tidak banyak bergerak.
Selesai membuat sarapan, gadis itu mandi bergantian dengan Amanda.
Ponselnya masih tetap sepi notifikasi, membuat ia kesal sendiri.
Ingin mendahului mengirim pesan untuk seseorang yang sudah membuat kacau harinya kemarin, namun ia merasa gengsi.
"Kenapa muka masih ditekuk begitu?" Seperti biasa Amanda selalu memerhatikan gerak-geriknya.
Nilam tidak menjawab. Dengan malas gadis itu menyendok nasi goreng langsung dari atas wajan.
"Ditanya nggak jawab," sungut Manda dengan bibir mengerucut.
Gadis tomboi itu melenggang keluar dari dapur kecil itu.
"Nda, kok mas Bas nggak ada kabar ya dari kemarin? Apa dia lagi sakit ya?" Ucap Nilam akhirnya setelah ia duduk di atas karpet tempat biasa ia dan Amanda makan.
Amanda mencebikkan bibirnya, baru menyadari kegelisahan sahabatnya bukan karena sesuatu yang mistis, tapi karena masalah hati.
__ADS_1
^_________^^_________^^_________^