CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 50


__ADS_3

Mereka tiba di kostan Nilam sekitar pukul 12.20.


Tidak terasa, setengah hari lebih mereka menghabiskan waktu berdua hari ini. Bahkan Pandu belum sempat pulang ke rumahnya. Sebab dari kota B ia langsung menuju kostan, dan memberikan kejutan untuk sang kekasih.


"Mas ... Makasih ya untuk hari ini," ucap Nilam, saat hendak keluar dari mobil yang dikendarai kekasihnya.


"Iya sayang ... Mas pengen selalu bahagiain kamu, tapi waktunya yang nggak bisa. Maaf ya ...." Balas Pandu.


"Ya mas ... Asal jangan aja menghilang tiap aku telepon, nggak balas pesan, bikin aku khawatir, itu aja kok. Kalau soal kamu yang sibuk kerja, aku ngerti. Bukan aku curiga kamu sama perempuan lain, tapi aku khawatir, amit-amit takut kamu kenapa-napa." Ucap gadis itu mengurai alasannya.


Pandu tersenyum hangat.


"Uuhh manis banget sih, gadisku ini ... Besok-besok aku usahakan untuk selalu berkabar ke kamu ya ... Ya udah, kamu istirahat sana. Nanti biar mukanya fresh, ketemu mama sama papa. Aku nggak anter ke dalem ya, mau langsung tidur juga." Ucap Pandu sembari mengusap lembut rambut Nilam.


"Mas hati-hati ya ... Nanti paling agak sorean aku ke sana."


"Iya sayang ...."


Nilam mengiringi kepergian mobil Pandu dengan lambaian tangan dan senyum cerah ceria.


Gadis itu termenung sejenak, menatap jalan yang baru saja dilalui mobil kekasihnya, yang masih menyisakan debu, berterbangan di sekitarnya.


**


"Duuuh si bucin." Suara seseorang mengejutkan Nilam.


Ia segera menoleh, dan benar, Amanda sudah berdiri di samping pagar dengan tubuh bersandar pada tiang pintu gerbang.


"Manda, kamu ngapain di sini?" Tanya Nilam heran.


"Manda kamu ngapain di sini? Kamu nanya? Masih bertanya tanya?" Gadis tomboi itu mengikuti ucapan Nilam, dengan gaya bicara seseorang yang sedang viral saat ini, namun wajah kesalnya jelas terlihat dari tatapan matanya yang tajam.


"Ditanya serius juga!" Ketus Nilam, masuk melewati tubuh Amanda.


"Dasar teman lucknut. Udah salah, ngambekan lagi. Eeh batu kerikil, jangan lupa, kamu udah janji sama aku untuk cari kado bareng!" Seru Amanda, membuat Nilam seketika menghentikan langkahnya.


Gadis itu membolakan mata dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia juga memukul-mukul keningnya, sebab baru menyadari kesalahan yang telah dilakukannya.


Perlahan gadis itu berbalik arah, menghadap Amanda, yang sudah berkacak pinggang menahan kesal.


"Sorry ... Aku benar-benar lupa ... Aku justru udah beli kado untuk ku bawa nanti ..." Ucapnya dengan senyum meringis.


"Nggak mau tau, kita udah janjian kemarin. Ingat, janji adalah hutang. Kamu harus bayar hutang kamu hari ini juga." Tegas Amanda lagi.

__ADS_1


Wajah Nilam memelas, jujur ia merasa sangat lelah. Namun menolak permintaan Amanda, sama artinya ia menciptakan neraka untuk diri sendiri.


Amanda adalah sahabat terbaiknya, yang selalu ada saat suka maupun dukanya. Bahkan bisa dibilang, Amanda sudah seperti saudaranya sendiri.


Gadis itu sangat menyayanginya, dan begitu perhatian padanya.


Tapi, kalau gadis itu sudah merajuk, akan sangat susah untuk dibujuk. Itu yang membuat Nilam enggan mencari perkara dengan si gadis tomboi.


"Tapi aku temenin kamu aja ya ... Aku nggak beli lagi, soalnya udah beli tadi." Ucap Nilam akhirnya.


Senyum lebar tercetak di bibir Amanda. Dengan cepat gadis itu mengangguk.


Nilam segera meletakkan barang bawaannya ke dalam kamar kost, dan kembali mengunci pintunya, sebab ia akan keluar lagi.


"Jangan yang jauh ya Nda, biar aku dapet istirahat." Pinta gadis itu saat sudah duduk nyaman di belakang Amanda.


"Iya ... Aku juga mau istirahat. Sia-sia dapat jatah libur spesial, malah dipake nunggu orang pacaran. Punya hp juga nggak bisa dihubungi," omel Amanda, menyindir Nilam.


"Sorry ... Orang hp ku mati, kehabisan daya." Sahut Nilam memberi alasan.


Mereka menuju pusat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh letaknya dari kostan Nilam.


Amanda langsung menuju sebuah toko souvenir.


Susah memang kalau kita akan memberi hadiah pada orang yang lebih berada.


Mereka tidak kekurangan apapun, namun kalau datang ke suatu undangan tanpa membawa apa-apa, rasanya, baik Nilam maupun Amanda memiliki rasa malu yang sama.


"Lam, kamu bawa apa?" Tanya Amanda, saat mereka sudah tiba di parkiran mall.


"Tadi sih aku belikan kain couple gitu untuk mereka, habisnya aku bingung mau kasih apa." Sahut Nilam.


"Kamu yakin kasih mereka itu? Yakin merek mau pake?" Ceplos Amanda, membuat keraguan Nilam semkin bertambah.


Sejak awal ia memang sudah ragu, namun karen bingung, akhirnya ia mutuskan membeli apa saja yang menarik perhatiannya.


"Nggak terlalu yakin sih, tapi mau gimana lagi ... Aku bingung mau kasih apa. Kamu sendiri mau beli apa?"


"Mau beliin pajangan aja. Cari yang mirip-mirip sama hiasan di kantor." Sahut Amanda.


Nilam menepuk keningnya.


"Iiya ya ... kok aku nggak kepikiran sih ...."

__ADS_1


Akhirnya Nilam pun ikut membeli hiasan dinding, yang dirasanya cukup layak untuk dijadikan kado.


Lukisan pohon, dari tiga bingkai berbeda, menjadi pilihan gadis itu.


Amanda mengejek sang sahabat. Mengatai gadis itu menjiplak idenya.


"Nggak kreatif banget calon nyonya muda Wijaya ini." Ledek Amanda, namun Nilam tidak menanggapi. Ia sibuk melihat benda-benda unik yang dijual di tempat tersebut.


"Nda ... ini bagus ya ..." Tunjuknya pada beberapa patung kayu yang terangkai menjadi satu, seolah sedang memanjat pohon.


"Bagus sih ... Tapi mau kamu taruh di mana?" Tanya Amanda, mengira gadis itu hendak membeli benda tersebut, untuk diletakkan di kamar kostnya.


"Itu dia ..." Lirih Nilam, memperhatikan detail patung tersebut.


'Harganya juga lumayan mahal ya, hampir sejuta.' Gumamnya lagi.


Nilam sebenarnya ingin membelikan benda itu sebagai kado, namun baginya itu terlalu besar dan berlebihan.


Seolah ada sudut hatinya yang memberi peringatan, agar Nilam tidak terlalu royal pada keluarga Pandu.


"Udaaah ... nggak usah diliatin terus benda itu ... Sayang duitnya ... Karyawan kayak kita ini, ada taplak aja di atas meja udah cukup ...." Ucap Amanda, sembari terkekeh.


Nilam membalas candaan Amanda dengan senyum manisnya.


Mereka akhirnya keluar dari mall, setelah hampir dua jam berada di bangunan bertingkat itu.


Seperti biasa, bila dua anak manusia berjenis kelamin perempuan, diberi kebebasan berbelanja, mereka pasti akan melakukannya dengan senang hati.


Seperti halnya Nilam dan Amanda, yang hidupnya masih bebas, belum memiliki tanggungan apapun.


Kedua tangan mereka, masing-masing membawa kantong belanjaan, bukan hanya kado tapi juga benda lain yang tanpa terencana mereka beli.


"Habis gaji kita sebulan Nda ...." keluh Nilam pada sang sahabat.


"sekali-sekali Lam ... kasih self reward untuk diri sendiri ... masa disuruh kerjaaaa terus sih ..."


"Iya juga sih ..." ucap Nilam akhirnya, tidak ingin mendebat sang sahabat.


Sesaat setelah kuda besi yang dikendarai oleh Amanda berlalu, sebuah mobil hitam memasuki area mall tersebut.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_


Kira-kira mobil siapa ya itu?

__ADS_1



__ADS_2