
Adakah seseorang sudah menciptakan istilah derita membawa berkah? Jika tidak, mungkin Bas layak mendapat gelar sebagai pencipta istilah tersebut.
Setelah lebih kurang dua minggu ia dalam keadaan terpuruk karena hubungannya dengan Nilam di ambang perpisahan, sebuah musibah datang menghampirinya.
Ia yang tengah mabuk, melajukan motornya dengan kecepatan penuh, berniat kembali pulang ke rumah. Namun bukan rumah ibunya yang ia tuju, melainkan rumah sakit. Karena ternyata ia menabrak pohon besar di pinggir jalan, tepat ketika baru memasuki gapura desa.
Tubuhnya terasa ngilu. Sakit, perih, sedih, bercampur menjadi satu. Ditambah lagi ada rasa kecewa yang tiba-tiba mencengkeram hatinya. Kenapa ia harus sadar? Bukankah lebih baik harusnya ia terpejam saja selamanya? Pikiran konyol itu selintas hinggap, merayu hatinya. Tentu sebelum ia sadar, ada suara lembut yang memanggilnya.
"Mas, mas udah sadar?" Bisik seseorang yang ia kira hanyalah halusinasi, tapi mampu meredam debu yang beterbangan mengotori pikirannya.
Terlebih setelah ia menoleh, dan melihat sosok perempuan di sampingnya tengah berkaca-kaca menahan tangis, ia lupa sempat mengabaikan syukur telah diberi kesempatan hidup lagi.
Meski terasa sulit meyakinkan sang kekasih, tapi setelah beberapa hari berjuang dari atas tempat tidur rumah sakit, ia akhirnya bisa bernafas lega ketika berhasil meyakinkan Nilam untuk mau melangkah bersama lagi.
Dan lebih bahagia lagi, saat melihat raut cemburu gadis itu beberapa hari lalu, ketika mantan kekasihnya datang menjenguknya.
Genggaman tangan Nilam seolah ingin mengatakan, jika dia hanya milik gadis itu.
__ADS_1
Walaupun Baskara merasa kesal pada Utari yang seolah-olah sengaja memancing masalah dengan Nilam, tapi dari itu ia menjadi tahu perasaan sang kekasih lebih dalam.
"Harusnya mas balikan sama dia. Aku rasa Utari pasti akan lebih senang," ucap Nilam ketika Utari dan Si Mantan Kekasih sudah pergi. Raut gadisnya begitu sedih dan rasa kecewa tidak bisa disembunyikan lagi.
Saat itu Bas merasa tertampar. Ia begitu menikmati momen dimana dapat melihat dan merasakan cemburu yang menguar dari diri Nilam. Namun ia lupa, kekasihnya pasti sebaliknya. Nilam-nya pasti sedang tidak bahagia, dan ia tidak suka itu.
"Kenapa bicara begitu? Perasaan nggak bisa dipindah dari satu orang ke orang yang lain, Sayang."
"Tapi mas seperti menikmati kedatangannya! Mas menikmati perhatian dia. Mas merindukannya?" Mata gadis itu sudah mulai berkaca.
"Sayang." Baskara bermaksud menenangkan gadisnya. Namun ucapan Nilam selanjutnya membuat Bas marah.
"Jangan mulai lagi, Nilam!" sahut Bas menekan suaranya.
Namun bukannya melunak, Nilam justru semakin marah dan kali ini ia benar-benar menangis.
"Mas juga jangan mulai! Kenapa harus menerima perhatian dia? Kenapa seolah-olah nyaman dengan kedatangannya? Padahal masih ada aku di sini. Tapi kehadiranku seolah terabaikan. Mas begitu sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dia yang nggak penting itu." Satu tetes air mata mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kamu cemburu?" Baskara meraih pergelangan tangan Nilam, dan menariknya mendekat. Ia menghapus air mata gadis itu dengan penuh perasaan.
"Kalau iya kenapa? Nggak boleh?"
Tidak bisa Baskara tahan lagi, ia segera merengkuh tubuh Nilam dengan satu tangannya. Mengucapkan begitu banyak kata cinta, yang terdengar tulus di telinga Nilam. Banyak janji yang terucap dari mulut Baskara untuk kekasihnya. Tidak pernah bosan meyakinkan gadis bertubuh mungil itu jika cinta dan hidupnya hanya untuk Nilam.
Di hari-hati selanjutnya, Baskara berubah menjadi sosok lain yang lebih menggantungkan dirinya pada Nilam. Menyiarkan pada siapapun jika ia tidak bisa hidup tanpa gadis itu. Bahkan ketika jarak terpaksa memisahkan mereka, karena Nilam harus kembali ke kota untuk bekerja, Bas selalu menghubunginya siang dan malam.
Tanpa ragu bermanja melalui sambungan telepon, yang ternyata begitu menyenangkan. Ia bisa menjadi dirinya versi anak-anak, dan Nilam menyukai itu. Ia tidak harus selalu terlihat dewasa, sempurna, untuk bisa membuat Nilam terkesan.
Intinya hubungan mereka melewati tahap baru, dimana Bas menunjukkan sisi lemahnya, dan membutuhkan Nilam sebagai penguatnya.
^_________^^_________^^_________^
Adakah yang suka kisah duda hot?
Karya yang satu ini, bisa jadi pilihan pengisi 2aktu luang kalian lho ...
__ADS_1
Mari intip bersama yuk