
Nilam mengantar Bas yang hendak pamit, dengan senyum tertahan di bibirnya.
Beberapa saat lalu ia mendapatkan sesuatu di kantong jaket Bas, yang tidak mau laki-laki itu berikan padanya.
"Kenapa senyum-senyum gitu? Nggak ada sedih-sedihnya mau berpisah," Rajuk Bas, menyadari sikap Nilam.
"Apaan sih mas. Masa aku mesti nangis sih? Lagian kan besok mas ke sini lagi," sahut Nilam.
"Boleh nginep di sini aja nggak sih, sayang?" rengek Baskara.
"Jangan aneh-aneh, Mas. Mau kita digrebek warga? Lagian, mas mau tidur di mana? Aku sama Manda tidur di mana? Orang kasur cuman satu, mas mau tidur bertiga, bareng Amanda juga?" omel Nilam.
"Suruh Manda ngungsi di tempat temennya," sahut Bas asal. Nilam mendelikkan matanya, mendengar ide Baskara, sementara laki-laki itu terkekeh geli melihat sikap galak kekasihnya.
Ia lalu mengacak rambut Nilam dengan gemas.
"Becanda sayang. Kamu tuh galak banget sih?"
"Habisnya, mas aneh-aneh."
"Nggak aneh-aneh kok. Ya udah ya, mas mau ke kontrakan si Dika. Sini peluk mas dulu donk,"
Nilam menurut, masuk ke dalam dekapan kekasihnya yang terasa nyaman.
"Hati-hati mas, jangan banyak minum." ucap Nilam di dada Bas.
"Kok tau kalau mas mau minum?" tanya Bas, melerai pelukannya.
"Tau lah, mas Dika, mas Fandi, mas Gilang, kan sohibnya mas Bas sejak dulu, nggak mungkin nggak ada Arak atau tuak, kalau kalian lagi ngumpul." sungut Nilam lagi.
"Itu hanya teman ngobrol, sayang. Kalau nggak ada minuman, berasa ada yang kurang." sahut Baskara lagi.
__ADS_1
Nilam memutar bola matanya. Bas selalu punya jawaban untuk hobinya satu itu.
"Kamu nggak suka liat mas minum?" tanya Baskara serius.
"Bukan nggak suka, Mas. Hanya saja aku takut. Minum terlalu sering kan nggak bagus untuk kesehatan, belum lagi kalau udah oleng, nggak bisa kontrol emosi,"
"Nggak lah sayang, mas tau batas kok. Dan nggak sembarangan juga orang yang mas ajak minum. Temen-temen mas, ya itu-itu aja. Yang mas udah tau karakternya seperti apa. Kamu jangan khawatir ya,"Nilam mengangguk.
"Aku percaya mas bisa jaga diri, tapi kalau aku selalu ingetin kayak gini, boleh kan? Apa aku terlalu cerewet?"
"Sangat boleh, sayang. Makasih udah selalu perhatian sama mas ya," ucap Baskara, sembari merapikan rambut Nilam yang sedikit berantakan.
"Woe udh malem! Bubar-bubar. Nggak bosen apa dari tadi udah kayak cicak di dinding. Nempeeel terus." Suara Amanda terdengar dari balik pintu.
"Sirik aja kau! Pantesan nggak laku-laku, galak begituu." sungut Bas, bersiap memakai helm.
Nilam hanya tertawa mendengar perdebatan keduanya. Gadis itu lalu melambaikan tangan saat Bas sudah bersiap menyalakan motornya.
🌟🌟🌟
Senyum Baskara tidak pernah pudar menghiasi bibir tebalnya. Nilam benar-benar menjadi vitamin komplit yang membebaskannya dari rasa lelah dan penat. Senyumnya, cemberutnya, manjanya, huuuh rasanya Baskara benar-benar enggan berpisah dengan kekasihnya itu. Gadis menggemaskan yang memiliki banyak keistimewaan di matanya.
Asik melamunkan pujaan hatinya, ia sampai tidak sadar sudah hampir tiba di kontrakan sahabatnya-Dika.
Masih dengan suasana hati gembira, ia memarkirkan motornya.
"Weiiiihh Arjuna kita sudah tiba," suara Dika menyambut kedatangannya.
Rupanya di sana juga ada Fandi, yang memang bekerja di bidang yang sama dengan Dika, sebagai sopir travel.
"Sombong kau, mentang-mentang sudah sukses, jarang kasih kabar." omel Fandi memukul bahu Bas. Namun setelah itu, dia juga yang merangkul dan mengajak Baskara masuk ke dalam kontrakan Dika.
__ADS_1
"Lagi puber dia, lagi hot-hotnya sama si kembang desa." Dika melanjutkan topik yang sempat terjeda, saat ketiganya sudah duduk lesehan di ruang tamu.
Di sana sudah tersedia nasi goreng, bakso pedas, dan yang pasti beberapa botol bir, sebagai teman berbincang.
Baskara hanya bisa menggelengkan kepala, tidak mau menanggapi serius ucapan sahabat-sahabatnya.
"Jadi kau sama si Nilam itu? Waaah jakpot itu jakpoot!" Fandi yang belum tahu perkembangan hubungan mereka, begitu antusias mendengarnya.
"Jakpot apaan, kau ini?" kekeh Baskara.
"Iya lah, udah cantik, rajin, dari keluarga baik-baik, ramah lagi." puji Fandi.
"Eh tapi kok kau bisa jadian sama dia? Katamu dia udah punya pacar?"
"Panjang ceritanya. Yang pasti, sekarang aku calon suaminya." aku Baskara bangga, membuat yang lain ikut tertawa.
"Jaga baik-baik anak orang, Bas. Jangan kau rusak dia. Jangan rusak kepercayaan ayahnya juga." nasihat Dika serius.
"Iya lah. Dia itu surga dunia dan akhiratku, Ka. Saat orang lain menilaiku buruk, keluarganya justru mendukungku. Dan Nilam tidak pernah meremehkanku. Itu yang membuat aku kagum padanya."
"Ya kau benar Bas. Kita bisa melihat orang tulus atau tidak itu, ya saat kita ada di bawah. Siapa yang mengulurkan tangan dan merangkul kita saat jatuh, dan siapa yang hanya mau menyapa saat kita ada di atas, kita bisa menilainya saat ini." Fandi yang biasanya kocak dan cuek, kini ikut serius menanggapi ucapan Baskara.
Begitulah hidup, dulu saat mereka sama-sama di kampung, belum memiliki pekerjaan tetap, mereka sering dianggap sampah oleh orang lain. Sering mabuk meski tidak pernah membuat onar, suka judi, membuat penilaian orang lain menjadi negatif terhadap mereka.
Dan sekarang, saat mereka sudah mulai bangkit dengan pekerjaan masing-masing, setiap mereka pulang, pasti selalu ada orang yang dengan akrab menyapa dan mengaku teman.
Mereka larut dalam obrolan, hingga tengah malam. Baskara bahkan sampai lupa mengabari Nilam, jika dirinya sudah tiba. Dia sadar saat hendak merebahkan tubuh di kasur busa milik Dika, dan ingin meletakkan ponsel di samping tempat tidurnya.
Pesan dari Nilam kembali membuat senyumnya tersungging, antara malu dan gemas.
"Makasih ya mas, meski udah nggak berbentuk, tapi rasanya tetap enak kok.😁😁😁"
__ADS_1
Nilam mengirim foto coklat yang sudah lumer pada Baskara.