CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 149


__ADS_3

Nilam tengah duduk termenung di taman belakang rumahnya. Matanya menatap kosong ke arah ikan yang berenang, meliuk-liuk mengelilingi kolam. Ia mengingat kembali obrolan panjangnya dengan Satria, beberapa jam yang lalu, di tempat Bas mengalami kecelakaan.


"Tolong bertahan di samping Mas Bas, Mba. Jangan pedulikan orang lain, anggap mereka hanya patung. Aku yakin Mas Bas akan memilih hidup bersama Mba Nilam ...."


"Justru itu, Sat. Aku nggak mau memisahkan anak dari ibunya. Aku nggak bisa membayangkan gara-gara aku, Bibi Rahma harus melepaskan anaknya dan Utari harus kehilangan kakaknya. Aku nggak ingin menjadi sosok egois seperti itu." Nilam langsung memotong ucapan Satria.


"Sementara, aku sendiri nggak akan sanggup jika rumah tangga kami, dicampuri oleh orang lain," lanjut Nilam dengan lirih.


"Nggak ada yang Mba pisahkan. Nggak ada yang Mba rebut. Untuk apa Mba merasa bersalah? Mba, nggak semua orang tua seperti orang tua Mba Nilam. Nggak semua keluarga sehangat keluarga kalian. Jadi jangan pernah merasa kalau ibu dan adikku akan merasakan kesedihan seperti yang ada dalam pikiran Mba," ucap Satria terus berusaha membujuknya.


"Lam!" Diana menyentak bahu Nilam dari belakang membuyarkan lamunan gadis mungil itu.


"Bengong aja, nanti kemasukan penunggu kolam, mau kamu!" ucap ibu satu anak itu lagi, sembari duduk di bangku beton sebelah Nilam.


Ia mengabaikan tatapan tajam sang adik, yang kesal karena dikejutkan.


"Mikirin apa sih?" tanya Diana penasaran, sebab Nilam sejak tadi tidak menanggapi ucapannya.

__ADS_1


Nilam hanya melirik dengan ekor matanya. Sang kakak menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Ia menggelengkan kepala sembari menunduk, memainkan kedua ibu jarinya.


"Ada apa lagi? Belum selesai masalah kamu sama Bas?" Kali ini suara Diana lebih tenang dan pelan. Ia memilih berhenti mengganggu adiknya, yang ternyata masih bergelayut mendung.


"Aku nggak tau, Mba. Aku harus gimana? Aku bingung." Nilam menatap sendu wanita yang usianya terpaut beberapa tahun darinya itu.


"Ck, kapan sih kamu nggak bingung, Lam? Perasaan dari awal selalu begitu. Tegas donk! Mau kamu apa?" sahut Diana tidak bisa menutupi kekesalannya.


"Mba nggak ngerti sih, aku ini lagi dilema! Mba nggak pernah ada di posisi aku, mangkanya bisa ngomong gitu!" Kesal Nilam tidak terima dipojokkan.


"Ya mangkanya jelasin masalah kamu apa? Dilema karen apa? Biar mba ngerti dan bisa kasih solusi. Kalau kamu masih dengan kebiasaanmu diem begini, gimana orang lain mau bantu kamu?" Diana tidak kalah keras membalas ucapan Nilam. Ia merasa jengah dengan sikap sang adik yang sok tenang, kalem, tapi di dalam hatinya penuh gejolak.


"Kamu udah dewasa, Lam. Sudah saatnya kamu belajar dewasa juga dalam mengambil sikap. Jangan lemah! Hidup terlalu kejam. Jika kamu hanya mengandalkan kelembutan hati, kamu akan mati."


Nilam menatap Diana dalam, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Akhirnya gadis itu memutuskan menceritakan semua yang terjadi secara gamblang.


Bagaimana perasaannya, ketakutannya, sikap Bu Rahma dan Utari terhadapnya, permohonan Baskara, juga obrolan antara dirinya dengan Satria, semua ia ceritakan pada Diana.

__ADS_1


Sang kakak menanggapi dengan tenang. Menyimak semua tanpa menyela sama sekali. Hanya sesekali mengangguk atau mengerutkan kening sebagai reaksi dari cerita Nilam.


"Menurut Mba gimana?" tanya Nilam akhirnya setelah ia menceritakan semuanya.


"Benar kata Satria, Lam. Kamu nggak bisa memperlakukan Bas seperti ini. Kasihan dia, dia yang paling hancur dalam hal ini. Meskipun kalian memiliki rasa yang sama, memiliki luka yang sama jika berpisah, tapi percayalah kamu pasti akan baik-baik saja, karena ada keluarga yang akan selalu mendukungmu. Sementara dia? Dia nggak punya itu. Tau sendiri ibu dan adiknya seperti apa. Sementara Paman Brata udah punya kehidupan sendiri dengan keluarga barunya. Pasti ada rasa canggung bagi Bas untuk berkeluh kesah dengan ayahnya, meskipun hubungan mereka sudah mulai membaik." terang Diana.


Nilam hanya mendengarkan ucapan sang kakak, tanpa memberi bantahan sama sekali. Dalam hati ia membenarkan apa yang Diana katakan. Keluarganya dengan keluarga Bas memang berbeda. Meski Nilam menyadari, keluarganya pun tidak sempurna, tapi ia patut bersyukur sebab dia tidak akan sendiri menghadapi kepahitan hidup. Berbeda dengan Bas.


"Terkadang, kita harus memilih egois untuk masalah tertentu, Lam. Kita nggak bisa terus memikirkan perasaan orang lain, hingga mengorbankan diri sendiri. Mba udah pernah bilang sama kamu kan, dulu? Jangan selalu mengandalkan nggak enak hati, takut sama penilaian orang, sehingga kamu malah menghancurkan apa yang harusnya kamu jaga. Selama itu tidak menyalahi aturan, nggak merugikan orang lain, jalani saja apa yang mau kamu jalani."


"Tapi kalau Mas Bas malah dibenci sama ibunya gimana, Mba?"


"Memangnya selama ini dia disayang?" Diana tertawa sinis.


"Selama Bas menghasilkan banyak uang, dia akan tetap dianggap anak oleh Bibi Rahma. Tapi kalau dia nggak punya penghasilan, nggak usah ada kamu, Bas akan tetap dianak tirikan oleh wanita itu. Jangan kamu bayangkan Bibi Rahma itu ibu kita! Mereka jauh berbeda. Selama ini, pasti kamu ragu karena nggak sanggup membayangkan Mas Surya dibenci oleh ibu, kan?"


Nilam mengangguk membenarkan ucapan sang kakak.

__ADS_1


"Hubungan Baskara dengan ibunya, nggak sama kayak hubungan Mas Surya dengan ibu. Nggak bisa disamakan!" tegas Diana lagi, meyakinkan Nilam.


__ADS_2