
Di seberang sana, Bas pun tidak kalah kesal dengan kekasihnya itu, namun sebisa mungkin ia menahan diri, agar tidak lepas kendali.
Berhari-hari fokus menyelesaikan pekerjaan satu demi satu dengan teliti. Berharap tidak ada perubahan lagi, agar tidak perlu mengulang, agar bisa meluangkan waktu pulang, sekadar melepas rindu.
Ia juga berusaha sabar, ketika Nilam semakin jarang mengabarinya, memberinya perhatian, karena gadis itu menambah kesibukannya dengan membuka usaha sendiri. Ia mencoba mengerti, Nilam pun pasti tersiksa dengan keadaan mereka kini, yang sangat sulit bertemu.
Namun subuh tadi, ia dikejutkan dengan telepon dari Fandi, yang menanyakan apakah hubungannya dengan Nilam baik-baik saja?
"Mabok kau? Ngapain subuh-subuh begini nelepon nanyain hal nggak penting?" kesal Bas, saat sang sahabat menganggu tidurnya yang baru beberapa jam.
"Satu botol bir, nggak akan bikin mataku rusak, Bas. Aku masih bisa liat dengan benar, si Nilam itu turun dari mobil seorang cowok. Dia turun trus ngambil motor depan mini market tempat aku belanja. Kayanya mereka habis dari suatu tempat deh," ucap Fandi lagi.
Hening.
Bas tidak tau harus menjawab apa.
"Nanti aku kirim buktinya, kalau kau nggak percaya,"
Bas tidak menjawab, langsung mematikan ponselnya begitu saja.
Dan tidak menunggu lama, benda pipih miliknya itu kembali bergetar diiringi denting beberapa kali.
Apa yang pertama kali ada dipikiran seseorang, jika melihat pasangannya sedang bersama laki-laki lain di luar rumah, di waktu subuh pula? Pasti bukan sesuatu yang membahagiakan bukan? Dan yang lebih menyakitkan lagi, laki-laki itu adalah mantan kekasih Nilam.
Dada Bas berdegup kencang, ia meremas ponsel miliknya dengan penuh emosi.
Pikiran buruk merayap, menggodanya untuk mencaci dan menyalahkan kekasihnya.
__ADS_1
Syukur panggilannya tidak dijawab oleh gadis itu. Jika saja Nilam menjawab, mungkin pertengkaran hebat sudah terjadi.
"Siapa telepon malem-malem begini, Bas?" Gilang terganggu mendengar makian Baskara, yang seperti tengah menahan marah.
"Fandi," sahut Bas singkat.
"Ngapain curut itu nelepon jam segini? Baru habis dugem, dia?"
"Ntahlah, aku nggak peduli." Bas kembali menghubungi nomor ponsel Nilam.
Gilang bangkit membenarkan posisinya, memerhatikan wajah Baskara yang nampak emosi.
"Kau kenapa? Apa yang dibilang Fandi?"
Gilang tau, temannya itu pasti sudah mengatakan sesuatu yang membuat Baskara semarah ini.
Bas duduk kembali, melempar ponselnya ke atas meja dimana kertas-kertas masih berserakan di sana. Ia meremmass rambutnya dengan kedua tangan, menunjukkan betapa frustasinya ia saat ini.
Rasa kantuk yang sebelumnya menyerang, menguap oleh emosi yang kini semakin mendidih di kepalanya.
"Maksudmu gimana? Pelan-pelan kalau ngomong! Jangan emosi diutamakan!" Gilang dengan malas mengambil sebotol air mineral yang teronggok di pojok ruangan. Ia lalu menyerahkannya pada Baskara.
"Nih minum dulu, biar tenang," titahnya.
Bas menurut. Membuka seal botol dengan kasar, lalu meneguk cairan bening itu dengan rakus.
"Coba kau liat ini! Mereka ngapai subuh-subuh begini masih di luar? Kamu tau? Laki-laki ini, adalah orang yang dulu khianatin Nilam. Kenapa mereka bisa jalan berdua lagi? Apa yang mereka lakukan di belakang aku?" Dengan emosi baskara menunjuk foto Nilam dan Pandu menggunakan telunjuknya.
__ADS_1
Gilang yang berdiri di sampingnya, melihat foto yang Bas tunjukkan.
Ia meraih ponsel milik Bas, memerhatikan foto-foto itu dengan lebih cermat.
Dalam hati ia merutuki kebodohan Fandi yang telah bertindak sok detektif.
"Menurutmu Nilam cewek gampangan?" tanya Gilang pelan.
"Buktinya?"
"Ini kan belum menjelaskan apa-apa, Bas. Bisa jadi kebetulan mereka ketemu di sana, terus mengobrol. Kamu tau sendiri Fandi orangnya seperti apa. Bisa saja kan dia sengaja ngerjain kamu, bikin kamu cemburu?"
Bas diam. Mencerna ucapan temannya dalam hati.
"Jangan terburu nafsu mengambil kesimpulan, Bas. Bisa bahaya sama hubungan kalian. Pikirkan dulu dengan kepala dingin. Selama ini dia seperti apa dan bagaimana, itu kamu sendiri yang tau. Apa dia wanita yang bisa dipercaya? Atau dia wanita yang gampang tergoda?" tanya Gilang.
"Sejauh ini, aku belum pernah menemukan kesalahannya. Tapi kita kan nggak pernah tau, manusia biasa berubah."
"Tapi kamu tidak bisa langsung menuduhnya! Iya kalau benar dia berbuat curang, tapi kalau tidak? Dia pasti akan sangat terluka, Bas."
Bas kembali diam. Ia mencoba menuruti ucapan Gilang, untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Akhirnya setelah beberapa menit, ia memutuskan menghubungi Amanda. Ia yakin wanita itu pasti tau semuanya.
Namun seperti biasa, bukan Amanda namanya kalau tidak membuatnya kesal. Gadis tomboy itu selalu menjawab ketus pertanyaannya, dan dia tidak mendapat informasi apapun dari Amanda.
"Dia sudah tidur," lirih Bas meletakkan ponselnya dengan lemas.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan, Bas. Nanti kamu bisa telepon dia lagi. Tanya baik-baik, jangan sertakan emosi. Ingat, kamu sudah berjuang sangat keras untuk bisa mendapatkannya. Jangan sampai karena cemburu buta, kamu malah menghancurkan hubungan kalian." Gilang menepuk bahunya, sebelum kembali merebahkan tubuh di atas kasur busa.