
Pertemuan dua keluarga berjalan dengan lancar. Mereka sepakat melaksanakan upacara suci itu, sesuai dengan ketentuan hari baik yang kedua keluarga yakini. Dan itu sekitar dua bulan lagi.
Semua persiapan pun mulai dilakukan. Meski Bas dan Nilam harus kembali bekerja, tapi mereka patut bersyukur sebab memiliki keluarga besar yang saling mendukung. Sehingga mereka tidak harus terjun langsung menyelesaikan satu-demi satu tahapan yang harus dipersiapkan.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, karena kurangnya komunikasi membuat mereka sering salah paham satu dengan yang lain, kali ini baik Nilam maupun Bas sama-sama menurunkan ego. Tidak lagi saling menunggu untuk bertanya kabar, dan tidak lagi menutupi keresahan apa yang masing-masing rasakan. Mereka sama-sama menempatkan hubungan di atas segalanya, sehingga tidak ada yang lebih penting dari menjaga keutuhannya. Meskipun yang namanya cobaan pasti saja akan datang menggoda.
"Lam, jadi nyari bahan untuk seragam?" tanya Amanda suatu pagi.
"Jadi, tapi aku masih bingung mau warna apa, Nda,"
"Kenapa bingung? Tinggal pilih warna apa yang kamu suka, sesuaikan sama konsep nikahannya, gampang kan?"
"Entahlah," sahut Nilam dengan wajah lesu.
Sebenarnya ia dan Bas sudah sepakat memilih warna seragam untuk keluarga inti dan pagar ayu. Namun seperti biasa, Utari dengan sifat keras kepalanya menolak pilihan warna yang Nilam inginkan. Bukan hanya itu, Utari juga selalu menentang setiap ide yang Nilam ajukan, bahkan untuk seserahan pun ibu satu anak itu ingin terlibat memilih.
__ADS_1
Nilam dibuat dilema oleh calon iparnya satu itu. Bila dituruti, tidak sesuai dengan hatinya. Namun bila tidak dituruti, ia takut akan menciptakan ketersinggungan pada anak bungsu di keluarga calon suaminya itu.
Tiga Minggu sebelum acara, Bas pulang beberapa hari untuk melakukan foto pre wedding, serta menyelesaikan beberapa urusan penting lainnya.
"Sayang, kita pesan cincin sekarang aja ya, biar sekalian. Jadi besok kamu nggak harus pusing lagi mikirin ini itu yang belum kelar."
"Iya, mas," sahut Nilam.
Setelah selesai dengan urusan foto yang memakan waktu hampir seharian, Bas mengajak Nilam menuju toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan mereka.
"Sekalian mampir ke Arta Busana ya mas, ambil pesanan kain kebayanya. Nanti minta tolong sekalian bawa pulang. Biar masing-masing punya cukup waktu mencari penjahit," pinta Nilam setelah mereka tiba di sala satu komplek pertokoan, dimana banyak terdapat toko-toko perhiasan berjejer, menyegarkan mata.
"Lho, sayang? Kok beda lagi warna kebayanya? Katanya mau pilih rose gold?" tanya Bas, yang sangat ingat dengan ucapan kekasihnya.
"Biru juga bagus kan, mas. Warna kemejanya juga biru, soalnya," sahut Nilam.
__ADS_1
"Kok biru? Kan kemeja warna maroon? Apa nggak aneh besok, semua seragam warnanya biru, udah kayak rakernas partai politik aja," ucap Bas lagi, merasa terkejut karena Nilam merubah konsep, tanpa bicara padanya terlebih dahulu. Bukankah mereka sudah sepakat untuk saling terbuka? Membicarakan hal sekecil apapun, agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara keduanya.
Nilam merasa kesal karena Bas menyalahkannya. Tidak tahukah laki-laki itu, jika ia juga tidak menyukai ini? Namun dia harus menahan perasaannya agar tidak terjadi masalah dengan Utari yang keras kepala.
Bukan dia takut pada Utari, hanya saja ia enggan berdebat lebih jauh lagi dengan calon iparnya itu. Nilam berharap dengan ini, Utari bisa menerimanya dengan baik, tidak bersikap ketus lagi padanya.
Melihat sikap Nilam yang tidak merespon apapun, Bas akhirnya diam. Membiarkan saja apa mau calon istrinya itu.
"Ada yang mau dicari lagi?" Bas melembutkan suara, saat menyadari raut wajah Nilam berubah dingin.
"Nggak, ini aja. Kemeja sama kainnya baru siap Minggu depan," sahut Nilam tanpa menoleh ke arah Bas.
"Ya sudah, sini mas yang bawa." Bas berinisiatif mengambil tas belanja besar berisikan kain kebaya tersebut.
"Mau makan di luar, atau pesan bawa ke kost aja, sayang?" tanya Bas lagi, saat motor sudah melaju membelah jalan.
__ADS_1
"Terserah," sahut Nilam. Suasana hati gadis itu benar-benar buruk sekarang. Namun sebisa mungkin ia menahan agar tidak terjadi pertengkaran diantara keduanya. Ia berusaha mengalihkan pikiran, agar tidak terus mengingat apa yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Bas yang mendengar jawaban singkat Nilam pun hanya bisa mendesah pasrah. Dari sorot mata kekasihnya saja, ia sudah tahu kalau gadis itu sedang menahan kesal. Entah apa yang membuat Nilam marah. Bas bingung sendiri dibuatnya.