
Jam di dinding kamar Nilam baru menunjuk angka 05.30 pagi. Langit masih gelap, dan suara rintik hujan masih jelas terdengar dari dalam kamar. Namun gadis mungil itu sudah terjaga dan bersiap pergi menggunakan celana training panjang dan jaket parasut andalannya.
Ia berencana pergi ke pasar yang jaraknya agak jauh dari kostan saat ini. Membeli bahan makanan dan memasaknya sebelum pergi bekerja, beberapa jam lagi.
"Nda, kamu mau nitip apa?" tanya gadis itu membangunkan Amanda yang masih bergelung selimut.
"Jadi kamu ke pasar? Masih hujan, tau!" sahut Amanda dengan suara malasnya, sembari membenarkan selimut yang sedikit melorot.
"Jadilah. Kemarin udah janji sama Mas Bas mau buatkan makanan kesukaannya. Nanti mas Dika sama mas Fandi yang mau ambil ke sini. Nggak enakkan, meraka udah datang jauh-jauh, eeh nyampe sini malah kena prank, " terang Nilam.
"Dasar suamimu itu lebay banget, masa dari sini bawa makanan ke kampung? Kayak di sana nggak ada makanan aja," oceh Amanda dengan mata masih terpejam.
Nilam yang mendengar ocehan sahabatnya, kesal sendiri dibuat oleh gadis tomboy itu.
__ADS_1
"Mau nitip nggak nih? Aku lagi nggak dalam mode mendengar ceramah dan komplain orang," ketus Nilam.
"Ya ya, terserah kamu aja. Aku nitip beliin nasi kuning aja untuk sarapan, sama jamu kunyit ya," ucap Amanda.
Tanpa berkata apapun lagi, Nilam keluar dan pergi meninggalkan halaman kostan.
Nilam melajukan motornya dengan pelan, menikmati suasana sepi jalan yang biasanya padat kendaraan. Perlahan langit mulai menampakkan keindahannya berselimut awan, seperti lukisan yang sering dijajakan di pinggir-pinggir jalan, atau dibawa keliling oleh pedagang-pedagang kecil ke rumah-rumah penduduk.
Aroma tanah yang basah bercampur air hujan begitu khas masuk ke indera penciuman Nilam. Gadis itu seperti kembali ke masa lalu. Ketika ia masih menggunakan seragam putih abu-abu. Tiap pagi ia pergi ke sekolah dengan menggunakan motor Astrea prima milik Pak Indra. Berangkat pagi buta, sebab sekolah tempatnya menimba ilmu berjarak beberapa desa dari kampung halamannya.
Ia selalu semangat pergi ke sekolah, berharap bisa mendapat nilai yang memuaskan dan memantaskan diri untuk menempuh pendidikan ke universitas. Selalu masuk tiga besar setiap kenaikan kelas, membuatnya memupuk harapan semakin besar. Namun takdir hidup tidak ada yang tahu. Ia yang berupaya bisa melnjutkan pendidikan, harus dihadapkan pada kenyataan jika orang tuanya tidak lagi mampu membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi. Memupus harapannya memiliki gelar sarjana, dan yang lebih menyakitkan kabar itu ia terima tepat ketika Nilam mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional. Senyum Nilam perlahan memudar, ketika kenangan menyedihkan itu menari di ingatannya.
Keindahan langit yang sempat ia kagumi beberapa saat lalu, kini tidak terlihat menarik sama sekali di mata Nilam, saat ia mengingat patah hati pertamanya itu.
__ADS_1
Bersyukur disaat bersamaan, motor yang ia kendarai sudah memasuki tempat parkir pasar yang dituju, sehingga fokusnya secepat kilat beralih dari masa lalu ke masa sekarang.
Seolah sudah hafal dengan detail pasar yang ia datangi, Nilam dengan cepat menuju kios-kios penjual berbagai macam keperluan dapur. Ia juga tidak merasa jijik memilih sea food yang sedianya akan ia eksekusi hari ini, sesuai permintaan Baskara.
Selesai dengan urusannya di pasar, Nilam bergegas pulang. Langit sudah terang. Beberapa murid berseragam SD dan SMP juga sudah terlihat berjalan kaki, menggunakan pakaian khas sekolah masing-masing. Nilam melajukan kendaraannya dengan sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Ia harus segera tiba dan menyelesaikan masakannya sebelum jam sembilan.
^_________^^_________^^_________^
jangan lupa intip karya temen othor yang lain ya,
Kali ini ceritanya tentang gadis cantik dan hakim agung yang tampan.
penasaran? Ayuk langsung cuss ke karya kak Ing Flo ya 😘😘😘
__ADS_1