
Kamu tahu obat terampuh dari segala perasaan buruk yang meriap menyelimuti hati? Adalah bertemu dengan orang yang dicinta, yang bisa menghadirkan ketenangan.
Senyum di bibir Nilam tidak pernah pudar, terus terkembang menciptakan rona merah di pipinya. Padahal beberapa saat lalu, rasa kesal masih menyelimuti hatinya.
"Udah mandi?" tanya Baskara, saat mereka berdua duduk menikmati teh hangat yang dibuat Nilam.
Nilam mengangguk.
"Mau temenin mas jalan-jalan?" tanya Bas lagi.
"Ke mana mas?"
"Cari angin aja, berdua."
Nilam melirik jam dari layar ponselnya. Belum terlalu malam, mereka bisa menghabiskan banyak waktu berdua hari ini.
"Tunggu Manda beres mandi ya, mas?"
"Lama nanti, sayang, kamu panggil dari sini aja dia." saran Bas.
Nilam diam beberapa saat, sebelum mengiyakan saran kekasihnya itu.
"Iya deh, mas. Kalau gitu aku ganti baju dulu. Mas tunggu di luar ya,"
__ADS_1
"Di sini aja emang nggak boleh?" Bas menaik-turunkan alisnya, menggoda Nilam.
"Maaas," Nilam menghentakkan kakinya, seperti anak kecil yang sedang kesal.
Baskara tertawa, lalu mengacak rambut Nilam dengan mesra.
"Ya sudah, mas tunggu di luar ya." Bas lalu keluar kamar, menunggu kekasihnya di teras depan.
Nilam tersenyum. Lalu dengan semangat memilih pakaian gantinya.
"Mau ke mana?" Amanda yang baru keluar dari kamar mandi, merasa heran sebab di atas kasur sudah bertumpuk beberapa pakaian milik Nilam.
"Mau jalan sama Mas Bas," sahut Nilam masih sibuk mengeluarkan pakaian dan mencocokkannya di depan cermin.
"Keluarin terus semua sampai besok, nggak jadi kamu diajak keluar sama Baskara." komentar Amanda, menghentikan gerakan tangan Nilam.
"Kok ngomongnya gitu sih, Nda?"
"Iya emang. Sekarang aku tanya, udah berapa menit dia nungguin kamu di luar? Waktunya keburu habis kamu pakai untuk pilih baju. Ganjen banget, pakai keluarin semua isi lemari." sungut Amanda.
Ia heran, kenapa Nilam bisa secentil ini sekarang? Padahal dulu saat bersama Pandu, Nilam terlihat anggun dan tenang. Bahkan Nilam seperti sangat menjaga diri, agar selalu terlihat sempurna di mata kekasihnya. Tapi, tidak pernah Amanda lihat Nilam seantusias ini saat akan keluar bersama Pandu dulu.
Setelah mendapat sindiran dari sahabatnya, Nilam menjadi sadar jika dirinya sudah berlebihan. Mungkin karena suasana hatinya yang seperti rollercoaster, sehingga dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.
__ADS_1
Bertemu dengan Pandu yang membuatnya marah, kesal, dan merasa bersalah pada Bas, lalu tiba-tiba Bas muncul menghempas semua itu dan menghadirkan kebahagiaan yang berlebih untuknya.
Sehingga tanpa ia sadari, ia ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihnya saat ini.
"Jadi diri kamu sendiri, Lam. Seperti biasanya kamu. Baskara suka kamu apa adanya." nasihat Amanda, mengambilkan atasan berwarna putih dan celana soft jins 7/8.
"Nggak usah mikirin modis apa nggak, yan penting kamu nyaman pakai ini kan?" tanya wanita itu lagi.
Nilam mengangguk, lalu memakai pakaian yang dipilihkan sahabatnya itu.
"Cepetan, kasihan dia nungguin kamu. Ini biar aku yang beresin nanti." ucap Amanda.
"Makasih Manda," Nilam memeluk sahabatnya dengan erat. Siapa yang tidak bersyukur memiliki sahabat yang meski mulutnya pedas yang membuat dada panas seperti merica bubuk, namun berhati baik dan tulus.
Nilam membuka pintu kost, lalu memanggil Baskara yang tengah asik menikmati kepulan asap dari rokok yang ia hisap.
"Mas,"
Bas menoleh, memandang kekasihnya dari atas sampai bawah.
"Cantik," gumamnya dengan tatapan memuja. Ia mendekat ke arah Nilam, yang tengah tersipu.
Entahlah. Padahal mereka sudah saling mengenal sejak lama, namun perasaan asing ini mengendalikan gadis itu untuk membungkam logikanya. Nilam tidak pernah begini sebelumnya.
__ADS_1
Mungkinkah ia tengah berada di puncak cinta yang menggebu? Ingin mengabarkan pada dunia jika dirinya tengah bahagia, bersama orang yang mencintai dan menjaganya dengan tulus?