
Zenya masih berdiam di kamarnya, Ia berniat ingin beristirahat untuk memulihkan tenaga, Tapi yang ada ia malah di buat semakin lelah karena hati dan pikirannya terus memikirkan kejadian siang tadi.
"Huh, Kenapa perasaanku semakin sangat gelisah ya akhir-akhir ini?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Zenya bangkit dari kasur, Ia menarik koper yang berada di bawah ranjang.
"Kalau aku begini terus kapan bisa selesai semua pekerjaan ini? Pekerjaan ini tak mungkin bisa menyelesaikan semua nya sendiri" Ia mengoceh sendiri.
"Hhhh" Ia menghela nafas panjang, Tubuhnya sangat malas untuk di gerakan, Mood nya yang hancur memperngaruhi semua kinerjanya.
Tring.. Tring..
Zenya meraih ponsel yang berada di atas nakas, Ia melihat nama Velia di layar ponselnya.
"Velia.. Dia pasti selalu tahu kalau aku sedang galau" Zenya menatap nanar layar ponselnya. Ia menekan tombol hijau Lalu mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Halo"
"Halo Ze, Gimana? Udah baikan?" Tanya Velia di seberang telpon
"Hmm, Gini aja sih, Tapi perasaanku jadi semakin 'gak karuan sejak tadi. Bahkan mataku nggak bisa terpejam walau sebentar" Zenya menghempaskan bokoong nya ke atas kasur.
"Yaudah, Mau di temenin?" Velia menawarkan diri
"Iya, Sini ya temenin"
"Oke, Otw ini"
Tut-
Velia langsung membuka pintu, Zenya segera menyuruhnya untuk masuk.
"Sini, sini" Velia duduk di samping nya.
"Kamu yakin bisa berangkat nanti lusa?" Tanya Velia sambil membantu Zenya melipat beberapa baju nya.
"Iya, Aku gak bisa melewatkan program studi yang satu ini" Jawab Zenya yang tidak berpaling dari kegiatannya.
"Owh, Oke kalau gitu" Velia membulatkan mulutnya.
"Tapi.. Kamu yakin gak pulang dulu kerumah orang tua mu?" Velia sedikit ragu untuk menanyakan hal ini.
Zenya terdiam sejenak, Ia mengulum bibirnya "Aku mau sih, Tapi kalau lihat kondisi aku sekarang, Kayaknya aku belum bisa pulang" Zenya mencoba tersenyum
"Ze, Ada apa sih sebenarnya? Emang kondisi kamu kenapa? Aku lihat kok akhir-akhir kamu seperti gak semangat" Velia yang sudah sangat ingin tahu tentang masalah yang membuat Zenya berubah akhir-akhir ini semakin dibuat penasaran.
__ADS_1
"Velia saja bisa melihat kalau akhir-akhir ini aku berbeda, Apalagi orang tua ku, Mereka pasti akan sangat khawatir jika melihatku seperti ini" Gumam Zenya dalam hati.
"Vel, Masalahnya aku belum bisa cerita masalah ini ke siapapun, Bahkan jika bisa memilih, Aku ingin menghapus memory ini di dalam otak ku" Zenya mencoba meraih barang lain agar Velia tak menyadari genangan air mata yang sudah hampir jatuh.
"Zen, Sebesar apa masalah itu sampai kamu bisa jadi seperti ini? Kamu gak percaya sama aku, Atau kamu merasa percuma karena aku gak bakal bisa bantu masalah mu?" Velia merasa jika Zenya sudah salah mengambil keputusan, Semakin ia memendamnya sendiri, Semakin sulit untuk nya agar bisa bangkit dari kubangan masalah itu.
"Zenya, Kita berteman sudah lama, Aku mau menjadikan masalahku adalah masalahmu dan sebaliknya, masalahmu adalah masalahku juga, Jadi stop berpikiran seperti itu, Akupun sudah sangat sering merepotkanmu karena masalahku" Velia memegang lengan Zenya, Meyakinkannya agar ia bisa terbuka.
"Aku sudah sangat ingin menceritakannya, Tapi, Tapi aku merasa, Aku lelah, Aku bingung Velia.. Aku merasa tidak ada jalan keluar untuk masalah ini, Aku lelah, Aku ingin pasrah" Zenya terlihat sudah sangat frustasi, Velia semakin iba di buatnya, Baru kali ini ia melihat Zenya seperti ini.
"Zenya yang aku kenal sangat pintar dan banyak akal, Ia selalu optimis dan selalu memecahkan masalahnya sendiri, ia selalu semangat dan pantang menyerah. Ini bukan seperti dirimu, Zenya. Mana Zenya yang aku kenal? Kembalikan Zenya sahabatku" Velia menggenggam erat tangan Zenya yang dingin.
Zenya diam tak bergeming, Ia memejamkan matanya,
"Aku pun ingin seperti itu, Vel" Lirihnya.
Melihat Zenya yang seperti itu membuat hati Velia terenyuh kembali, Ia melihat iba ke arah Zenya. Setelah keheningan yang cukup lama, Velia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Zenya bisa kembali nyaman.
Setelah packing selesai, Zenya membuka laptopnya lalu mengecek pekerjaan yang harus ia kerjakan, Velia menopang dagu di sampingnya, Sesekali ia menjahili Zenya yang terlihat sangat menawan jika sedang dalam mode serius.
Kryuuukk~
Suara perut Velia sudah meraung, Zenya segera melirik tajam ke arah nya.
"Iya, 'nih. Dari siang belum makan lagi" Jawab Velia cengir sembari menggosok-gosok perutnya yang masih berbunyi.
"Yaudah kalau gitu, Kita makan, 'yuk!" Zenya bangkit, Ia berjalan menuju lemari tempat ia menyimpan stock makanan.
"Mau masak mie instan?" Tanya Velia
"Terserah kamu" Zenya mencari bahan makanan yang bisa di olah.
"Mending kita keluar, 'Yuk? Sambil menghirup udara segar, Kayanya pengen junkfood Deh" Velia memainkan bibirnya hingga menyon kesamping,
Zenya berpikir sejenak, "Ayo dong Zen! Jangan banyak berpikir!" Velia segera bangkit, Lalu ia menarik paksa tubuh Zenya.
"Yaudah, Ayo! Tapi tentuin dulu mau makan di resto mana? Terus mau take away apa dine in ?" Zenya sedang malas keluar, ia sudah hafal kalau sahabatnya ini sangat plin-plan, Jika mereka pergi untuk makan pasti selalu di bingungkan dengan dua pilihan tadi. Velia yang merasa langsung cengir,
"Hehe, Kita pergi ke resto yang jual hot wink, ada burger dan minuman es nya juga. Take away hot wink, dan burger nya kita makan di perjalanan" Velia terus menarik lengan Zenya agar ia mau keluar.
"Sebentar aku ambil dompet dulu!" Zenya memaksa melepas lengannya
"Ayo, Biar barengan aja jangan di lepas! Nanti kamu naik kasur, bisa-bisa batal pergi" Velia merengek
"Hish bawel! Iya, ayo kita pergi!" Zenya mendengus kesal, Mereka berdua pun segera keluar dari kamar Zenya, Tak lupa ia mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan tak henti-henti nya mereka mengobrol, Seperti tak kehabisan topik, ada saja pembicaraan yang sangat seru dan asyik menemani setiap langkah mereka.
Di dalam sebuah mobil mewah yang tengah melaju membelah jalan yang hening, Seorang pria menengok ke samping saat melihat perempuan yang tak asing bagi diri nya.
"Billy, Berhenti!" Cristhopan melihat Zenya yang tengah berjalan dengan sahabatnya, Billy yang menyadari itu segera menepi,
Cristhopan memutar badannya ke belakang, Billy mengangkat kedua alis nya karena merasa baru kali ini ia melihat Cristhopan bersikap seperti itu.
"Tuan muda yang gagah berani dan selalu bersikap tenang ternyata bisa penasaran sampai seperti itu, Entah apa yang akan ia lakukan sekarang, Tuan Cristhopan, ini sungguh bukan dia" Billy menggeleng,
"Tuan, Mau temui Nona Zenya?" Billy inisiatif bertanya.
"Kau sungguh bodoh?" Cristhopan menaikkan satu alisnya,
"Mmmm" ia tak bisa menjawab.
"Kau memang sudah terlalu bekerja keras sampai menjadi bodoh! Kau lihat siapa yang jalan bersama nya? Itu Velia! Sahabatnya! Zenya sangat berusaha untuk menyembunyikan hubunganku dengan dia dari orang yang bernama Velia itu, Jika sekarang aku tiba-tiba muncul dan menemuinya, Kira-kira reaksi apa yang akan di perlihatkan oleh Zenya!" Billy malah terkesiap melihat Cristhopan yang mengomel, Ini adalah salah satu rekor lagi,
"Maafkan saya tuan muda, saya bertanya tanpa berpikir terlebih dahulu" Crishtopan mendengus jengkel. sementara Billy, ia hanya bisa mendumal di dalam hati.
Cristhopan terus memperhatikan Zenya, Ia menaikkan satu alis nya kala melihat Zenya yang tertawa bahagia.
"Dia bisa tertawa seriang dan seceria itu? Mengapa ia tak pernah memperlihatkannya pada'ku?" Batin Cristhopan.
Zenya dan Velia sudah membeli semua yang mereka inginkan, Saat hendak mengambil sesuatu di dalam dompet, satu card Zenya jatuh, Velia berjongkok mencoba untuk membantu mengambilkan
"Black card? " Batin Velia
"Sejak kapan Zenya punya black card? Aku tak pernah mendengar dan mengetahui kalau orang tua Zenya sekaya itu sampai bisa memberikannya black card. Apa jangan-jangan.." Zenya segera merebut black card yang mulai di baca oleh Velia,
"Cris?" Velia terkejut,
"Emh Vel, Ayo kita pulang" Zenya mencoba menyembunyikan rasa kaget nya, Ia mencoba untuk biasa-biasa saja. Velia yang masih leg membaca tulisan tersebut segera sadar
"A-Ayo kita pulang" Mereka berdua berjalan beriringan, Candaan yang tak lucu pun di paksa agar menjadi lucu untuk menyembunyikan kecanggungan yang menyelimuti mereka.
Saat hendak berbelok
Deg!
"Itu mobil.."
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih~
__ADS_1