CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 159


__ADS_3

Tubuh Nilam meremang ketika dari arah belakang, Baskara memeluk dan mengecup tengkuknya.


"Kenapa lama sekali pulangnya," bisik Bas di telinga gadis itu.


Nilam yang sempat terkejut dan membeku karena sentuhan Baskara, seketika tersadar dan berusaha melepaskan diri.


"Awas, Mas. Ini nanti tumpah," ucapnya.


Beberapa saat lalu, setelah memastikan Baskara terlelap, Nilam memilih membawa baju ganti ke kamar mandi, sekaligus menyimpan makanan yang ia bawa di dapur mininya. Tidak berselang lama ia keluar dari kamar mandi, dan berniat membuka bungkus donat dan es bobba miliknya untuk ia nikmati.


Nilam tidak menyangka jika sang kekasih sudah terjaga, dan mencarinya ke dapur.


"Jawab dulu, dari man aja tadi? Mas chat, kamu nggak balas. Mas khawatir tau!" rajuk Baskara masih belum mau melepas pelukannya.


Nilam menarik nafas dalam. Ia mendorong kotak yang sebelumnya berniat ia buka, melepas belitan Baskara dan berbalik menatap laki-laki itu.


"Ngapain ke sini?" tanya Nilam menatap manik mata Baskara. Gadis itu mengabaikan pertanyaan kekasihnya, dan lebih memilih melayangkan tatapan penuh curiga.


"Mau ketemu sama mantan terindah, kah?" sindirnya lagi. Nilam yakin, sang kekasih tahu maksud ucapannya. Meski mereka berdua belum sempat membahasnya, Nilam yakin baik Amanda maupun Dika, pasti sudah memberitahukan apa yang terjadi pagi tadi.


Baskara memiringkan kepala. Tersenyum samar, hampir tak nampak. Tangannya terulur, mengusap lembut kepala gadis yang hanya setinggi dadanya. Ini yang ia khawatirkan. Nilam marah dan curiga terhadapnya.


"Dari mana dapat pikiran itu, hmm?" tanyanya dengan lembut.

__ADS_1


"Tau!" sahut Nilam sembari menepis tangan Baskara. Gadis itu memilih meninggalkan dapur, menuju ranjang miliknya. Nilam duduk sembari mengayun-ayunkan kaki, dengan kedua tangan berpegangan di sisi ranjang.


"Belum juga pulih, udah bela-belain perjalanan jauh. Demi apa coba? Tangan masih sakit, muka masih banyak lebam gitu. Nggak sayang sama tubuh sendiri," omel Nilam lagi.


"Siapa yang bikin Mas harus ke sini? Kan calon istri mas yang cantik ini. Yang dihubungin dari pagi nggak merespon, yang kata Amanda ngambek gara-gara kedatangan tamu pagi-pagi," sahut Bas ikut duduk di samping Nilam. Nilam mencebikkan bibirnya, memalingkan muka meski wajahnya sudah merona.


"Bukannya ke sini untuk ketemuan sama Si Itu, ya?" oceh Nilam lagi.


Sudah biasa bukan? Ketika seorang perempuan merasa cemburu, ia akan terus membahas apa yang mengusik hatinya. Hingga sebuah jawaban yang ia harapkan, keluar dari mulut lawan bicaranya.


"Jangan berprasangka, nanti kalau kejadian, gimana?" Bukannya meredakan bara api yang ada, Baskara justru sengaja memancing emosi sang kekasih.


Nilam mendelikkan matanya ke arah Bas, membuat laki-laki itu terkekeh gemas.


"Mangkanya, jangan dibiarin pikirannya liar kemana-mana. Ingat kekuatan pikiran bisa merubah sesuatu yang nggak ada menjadi ada," nasihat Bas.


Selama beberapa menit Nilam dan Baskara larut dalam pikiran masing-masing.


Nilam yang tidak tahu harus merespon ucapan Bas seperti apa, dan Bas yang menunggu reaksi Nilam berikutnya.


Akhirnya setelah lama diam, Bas berinisiatif meraih tangan Nilam yang ada di sampingnya.


"Jangan meragukan Mas lagi, sayang. Kita sama-sama tau masalah diantara kita karena apa. Jangan sampai orang yang nggak suka, punya kesempatan menghancurkn hubungan kita lagi. Nggak ada yang lebih penting di dunia ini selain kamu. Kamu harus percaya itu," ucap Bas meraih wajah Nilam agar menghadap ke arahnya. Menatap mata Nilam, agar gadis itu tahu apa yang ia ucapkan murni dari dalam hatinya.

__ADS_1


Nilam terenyuh mendengar ucapan Bas. Dalam hati, ia tidak sedikit pun meragukan kekasihnya. Hanya sebagai manusia biasa, rasa kesal karena keadaan membuatnya mengabaikan Baskara. Dan saat ini laki-laki itu datang, dengan keadaan yang masih belum pulih sepenuhnya, membuat Nilam merasa bersalah pada sang kekasih.


Nilam menunduk.


"Nggak harus sampai datang, untuk jelasin semuanya. Aku nggak apa-apa, Mas. Aku percaya sama Mas Bas. Hanya saja ...."


"Cemburu?" tebak Bas, saat Nilam tidak dapat melanjutkan kalimatnya.


Nilam memajukan bibirnya, sebab tidak dapat mengelak dari tuduhan sang kekasih.


Bas tertawa senang, lalu membawa tubuh Nilam ke dalam dekapannya.


"Mas seneng deh, kamu bisa menjadi diri kamu sendiri. Bisa tunjukkin kalau calon istri mas ini gadis biasa yang punya kelemahan."


Nilam mengangkat kepala dan menatap Bas dengan dahi berkerut. Tidak mengerti maksud ucapan laki-laki itu.


"Selama ini kamu tuh terlalu berusaha menjadi sempurna, sayang. Selalu berusaha menjaga semuanya. Nggak pernah mas liat kamu cemburu, marah, atau kesal akan sesuatu. Selalu berusaha nerima dan pasrah, seolah kamu malaikat tak bersayap yang punya kesabaran seluas samudra," jelas Bas seolah mengerti arti kerutan di kening Nilam.


"Kamu nggak sadar semua itu bisa jadi bom waktu. Hasilnya ya kayak waktu ini, keputusan yang kamu ambil bikin mas kehabisan nafas, rasanya." Nilam mengeratkan pelukannya. Dalam hati ia membenarkan ucapan Baskara.


Memang begitulah dia. Selama masih bisa menahan dan menerima, ia akan menerima meski menyakiti dirinya sendiri. Ia terlalu ingin menjadi sempurna, tidak mau melukai atau menyakiti orang lain. Tanpa ia sadari, dengan begitu ia justru menyakiti dirinya sendiri.


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^

__ADS_1


Jangan lupa intip karya temen othor juga ya, yang suka mafia, recommended nih 😍😍



__ADS_2