CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 136


__ADS_3

Nilam menatap ponselnya yang berdering sedari tadi. Sudah ada lima panggilan tidak terjawab, dari nomor yang sama yaitu Utari. Namun sengaja calon istri Baskara itu mengabaikan telepon calon adik iparnya.


"Kenapa nggak dijawab? Berisik tau!" ucap Manda yang memerhatikan tingkah Nilam sedari tadi.


"Males aku, nanti pasti kebanyakan komplain ini itu," sahut Nilam memilih menggunakan mode senyap, setelah dering ponselnya berhenti.


"Siapa? Calon BESTie kamu?" ledek Amanda lagi, mengatakan Utari adalah calon teman akrab Nilam.


"Ish! Kayanya nggak mungkin aku bestian sama Utari. Karakter kami beda jauh," keluh Nilam lagi.


"Dia itu keras hatinya, Nda, apa-apa maunya dituruti aja. Susah dengerin pendapat orang, berasa pendapat dia paling bener. Aku bakal makan hati terus kayanya kalau bestian sama dia,"


"Mangkanya itu, belajar tegas jadi orang! Memang selamanya kamu bisa menghindar dari dia? Nggak kan? Masa anak yang kata kamu masih ingusan, mau ngalahin kamu yang notabene harus dia hormati? Ingat ya Lam, selain usia kamu yang lebih tua dari dia, kamu juga adalah istri dari kakak tertuanya, yang harusnya didengar sama dia. Bukan kebalik, kamu yang dengerin dia! Kalau aku jadi kamu, udah dari awal aku kasih pendidikan dasar tentang etika anak itu!" Amanda masih dengan berapi-api memprovokasi sahabatnya.


Benar memang, terlalu lembek sama orang, berharap orang tersebut akan menyukai kita, adalah hal yang sia-sia. Kita harus menunjukkan siapa kita, meski mungkin banyak dari diri kita yang tidak disukai sama orang. Daripada makan hati setiap hari?


Nilam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dalam hatinya membenarkan ucapan Amanda. Kenapa dia terkesan takut dengan menghindari telepon dari Utari? Mau sampai kapan dia mengalah sama anak ingusan itu?


Maka ketika ponselnya kembali bergetar, dengan menarik nafas dalam Nilam menerima panggilan itu.


"Halo,"


"Kenapa susah banget sih dihubungi? Sok sibuk!" Belum apa-apa suara dari seberang membuat Nilam kembali menarik nafas, berusaha memanjangkan sabar.


"Ada apa?" tanya Nilam. Kali ini suaranya tidak lagi lembut seperti sebelumnya.


"Kenapa kain seragam untuk di sini cuman empat belas? Kita di sini kan keluarga besar? Mba sengaja ya mau bikin malu keluarga kita? Biar dikira Mas Bas nikah nggak pake modal?" cecar Utari dengan nada suara tinggi.

__ADS_1


"Kamu bisa nggak bicara nggak usah pakai urat? Ngomong baik-baik caranya! Punya adab kan?" Sentak Nilam dengan suara tegas. Kompor yang Amanda nyalakan dalam dirinya, berhasil membuat gadis itu panas.


"Kapan hari, siapa yang bilang kalau total kain yang dibutuhkan cuman empat belas? Mau mba kasih bukti screen shot chat kamu? Kamu, mentang-tentang mba diam selama ini, jangan dikira mba takut sama kamu ya,"


Sepi. Tidak ada suara sahutan dari seberang. Mungkin Utari merasa terkejut, wanita yang ia anggap lemah dan mudah untuk ia tindas, rupanya bisa melawan.


Tak berselang lama, sambungan telepon terputus. Ibu satu anak itu, memutus obrolan tanpa permisi, membuat Nilam hanya bisa menghela nafas kasar. Kepalanya pening memikirkan tingkah wanita yang akan menjadi adik iparnya itu.


"Nah gitu! Itu baru Nilam Meira namanya! Kamu nggak tau, orang tuamu itu kasih kamu nama Nilam, karena berharap anaknya kuat seperti batu alam!" ucap Amanda asal. Gadis tomboy itu sejak tadi menyimak obrolan antara Utari dan Nilam. Dan saat mendengar Nilam berbicara dengan suara tegas, ia merasa bangga, telah berhasil memanasi sahabatnya itu.


Nilam yang sebelumnya diliputi emosi, seketika mendelikkan mata dengan senyum yang tidak bisa ia tahan, mendengar ucapan sang sahabat yang selalu di luar perkiraan.


Apa kata Amanda barusan? Nilam artinya batu alam?


Nilam melanjutkan aktifitasnya. Setelah selesai sarapan, ia dan Amanda berbagi tugas membersihkan kamar dan mencuci. Hari ini mereka berdua sama-sama shift siang, sehingga bisa menghabiskan waktu berbincang lebih banyak do kostan.


Nilam yang tengah menjemur pakaian segera menuju kamar, menghampiri sang sahabat.


"Ribut banget sih kamu, Nda. Perasaan dari sekian banyak kamar di kostan ini, suara kamu aja deh yang paling menggelegar!" kesal Nilam, mengabaikan tatapan tajam Amanda yang baru saja mengepel lantai. Gadis itu dengan santai masuk, menciptakan tapak kaki di keramik putih, kamar mereka.


Nilam meraih ponselnya, membawa benda pipih itu keluar kamar.


"Tuh bersihin lagi! Ngepel kok, masih ada coklat-coklatnya!" Nilam tahu Amanda kesal karena ia masuk tanpa permisi dan membuat lantai kamar mereka kotor lagi.


"Dasar kurang asem! Udah tau lantai masih basah, main masuk aja!" gerutu Amanda menghentakkan kaki, mengulang pekerjaannya dari awal.


Nilam terkikik geli, merasa senang berhasil membalas temannya itu.

__ADS_1


Amanda memang selalu bisa mengembalikan suasana hati Nilam menjadi baik lagi. Gadis yang berasal dari kota yang sama dengan Pandu itu, adalah pribadi yang kocak tetapi juga tegas, bijaksana, punya rasa setia kawan yang tinggi. Nilam patut bersyukur memiliki teman seperti Amanda, yang selalu ada dan tidak pernah bermuka dua.


Setelah puas tertawa, Nilam mencari tempat duduk yang nyaman untuk melihat siapa yang barusan meneleponnya.


Senyum tersungging di bibir manisnya, ketika melihat nama sang kekasih tertera di sana. Tanpa pikir panjang, gadis itu menghubungi nomor Baskara.


"Ada apa, mas?" tanyanya dengan suara lembut.


"Sayang, kain kebayanya kurang. Mmm apa bisa di pesan lagi?" ucap Bas hati-hati. Ia tahu masalah ini pasti akan memantik kekesalan di hati Nilam.


"Kurang lagi berapa?" tanya Nilam, setelah sebelumnya sempat menarik nafas terlebih dahulu.


"Sekitar enam potong lagi,"


"Kok sekitar? Pastiin dong, mas! Biar sekalian nanti aku belinya."


"Iya, enam potong lagi, Sayang." Bas menjawab dengan yakin. Biarlah nanti kalau lebih. Pikir laki-laki itu.


"Ya sudah, pakai kain yang untuk ibu aja dulu, Mas. Biar beres satu-satu. Nanti yang untuk di rumah aku, biar Damar yang ambil ke sini," putus Nilam.


"Iya, Sayang. Ya sudah, mas bagiin ini dulu ya. Biar cepat kelar. Nanti sore mas ke sana," ucap Bas lagi.


"Iya, Mas. Hati-hati."


Sambungan telepon berakhir. Nilam menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Banyak pikiran berkecamuk menekan kepalanya, membuat pelipis gadis itu berdenyut sakit tiba-tiba.


Bagaimana dia akan menghadapi sikap orang-orang baru yang akan ditemuinya nanti? Bisakah ia membawa diri di lingkungan yang baru, kelak? Atau mungkin dia akan terus menahan hati, menghadapi orang-orang seperti Utari?

__ADS_1


Ia harus membicarakan semua pada Bas, nanti. Ini harus jelas. Apa yang harus dan tidak harus ia lakukan, harus ia bicarakan pada Bas terlebih dahulu. Jika mengikuti emosi, ia bisa saja melawan, tapi bagaimana perasaan suaminya nanti? Dalam keluarga Nilam, saling menjaga perasaan itu penting. Saling menghargai, saling menyayangi, dan saling peduli, adalah sikap yang ditanamkan dan selalu dijaga oleh seluruh anggota keluarga. Namun melihat sifat Utari, rasanya itu tidak akan ia dapatkan di keluarga Baskara nanti.


__ADS_2