
"Dasar penipu, Jelas-jelas ia berkata malam ini akan membiarkanku untuk belajar, Dasar gila! Pinggangku sakit sekali.." Zenya mengeluh, Ia hanya bisa memendam rasa sakit tanpa bisa berbicara sepatah katapun.
Setelah selesai mengeringkan rambut ia bergegas pergi ke kamar dan membuka laptop
"Kau sedang apa?" Cristhopan menautkan satu alisnya
"Huh!" Zenya tak menyahut, Ia memalingkan wajah dan mulai fokus pada pekerjaannya,
Cristhopan mengerjapkan matanya, Ia mulai jengkel dengan prilaku Zenya,
"Kenapa? Kau marah lagi padaku?" Cristhopan berbicara dengan nada yang angkuh.
"Tidak, Aku tak mungkin bisa berbuat seperti itu padamu" Jawab Zenya ketus meskipun hatinya sudah mulai ketakutan.
"Haha kau pikir aku tidak tahu kau selalu mengumpat di dalam hatimu?"
"Kenapa? Kau mau membatasi cara kerja hatiku juga?" Zenya menengadah, Jika ia mampu, bukan hanya membalas Cristhopan dengan ucapan seperti itu, bahkan ia akan memukul Cristhopan hingga babak belur.
"Ck, Kau sudah makin pintar menjawab ucapanku ya?!" Cristhopan mendekat, Zenya mulai beringsut.
"Tidak, Kau mau apa? Aku masih belum mengerjakan tugasku sedikitpun!"
"Ck, kenapa? Tadi kau masih berbicara seolah kau bisa melakukan apapun" Cristhopan mulai menjahilinya lagi.
"Tidak, Aku tidak begitu," Zenya beringsut
Zenya semakin mundur, Cristhopan mengulurkan tangannya,
Bruk!!
Zenya terjatuh
"Hahahaha kau terlalu berpikiran negatif, Aku sudah berinisiatif akan menolongmu, bukannya meraih tanganku, kau malah menjatuhkan dirimu sendiri" Cristhopan memegang perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa, Sementara Zenya ia mengerucutkan bibirnya sambil mencoba untuk bangun.
"Dasar raja siluman! Ia sengaja menjahiliku?" Zenya sudah sangat ingin membalasnya,
Saat hendak berdiri, Zenya merasakan pinggangnya yang sakit, "Awh" Pekik nya, Cristhopan segera menarik lengannya
"Kenapa? Pinggangmu tak nyaman?" tangannya menelusup ke dalam baju tidur yang di kenakan Zenya, ia mengusap-usap lembut pinggang Zenya yang menegang
"Tangannya.. Hangat sekali, Punggungku merasa lebih baik," Gumam Zenya, Ia tersenyum manis, Wajahnya memerah,
"Kau menatapku seperti ini, Apa kau ingin mengudangku untuk bermain denganmu sekali lagi?" Cristhopan mendekatkan wajahnya pada wajah Zenya.
"Tidak! Aku sedang mengerjakan tugas" Zenya mundur
"Pikiran seorang Presdir perusahaan besar, Kenapa sangat begitu Vulgar!" Zenya menarik kembali perasaan kagumnya pada Cristhopan
"Aku merasa, sepertinya diriku selalu kehilangan kendali karena perempuan ini, Entah itu dia, Atau tubuhnya." Cristhopan menemani Zenya, Ia diam dan hanya memerhatikan, Zenya mulai gugup, Tangannya mengeluarkan keringat
"Tuan ada apa? Kenapa kau malah memperhatikanku seperti ini" Zenya buka suara
"Tidak, Aku tidak melakukan apapun, Lalu jika tidak ingin aku diam seperti ini, kau ingin aku bagaimana?" Tangan Cristhopan menyentuh pipi Zenya,
"Ah tidak! Lupakan saja!" Wajah Zenya memerah, Ia segera beralih lagi pada laptopnya.
Kruyuukkk~
__ADS_1
Zenya terhenyak kala suara dari dalam perutnya terdengar sangat bergema memecah keheningan
"Hahahahha, Kau ini kenapa?" Cristhopan menertawakan Zenya yang sudah menunduk dengan tangan mengepal
"Sial, kenapa perutku harus berbunyi di saat seperti ini"
"Yasudah, Kau tunda dulu pekerjaanmu, Aku akan menyuruh pelayan untuk memasak sesuatu untukmu" Cristhopan keluar, Ia sudah tak sanggup menahan gelak tawanya,
Pelayan sudah menghidangkan beberapa makanan,
Zenya dan Cristhopan berjalan keluar, Saat baru saja duduk tiba-tiba Angeline datang,
"Kalian barusan pergi kemana? Aku sudah lama mencari kalian, Pelayanpun tak ada yang mau memberi tahu" Angeline terlihat sangat cemburu
"Ternyata Zenya bersama Tuan Alexander? Jalangg ini, Tidak tahu sudah menggunakan trik semacam apa untuk membuat Tuan Muda Pertama keluarga Alexander memungutnya, Seberapa banyak siasat buruk yang tersembunyi di balik sifat 'sok polos nya itu." Hati Angeline bergejolak
"Aku akan memakan camilannya di kamar saja, sambil mengerjakan tugasku, Kalian silahkan duduk-duduk dulu disini" Niat hati Zenya ingin menggunakan Angeline untuk kabur dari cengkraman Cristhopan.
"Perempuan ini, Sudah berkali-kali mendorongku untuk jatuh ke pelukan perempuan lain, Dia sepertinya sama sekali tidak kesal apalagi cemburu, Dia sungguh tidak pernah menganggap keberadaanku!" Cristhopan mulai marah-lagi.
"Crist, Aku.."
"Aku akan mengerjakan dulu sedikit pekerjaan, kau tunggu aku di bar, Nanti aku akan datang menemuimu, Kita bisa minum beberapa gelas anggur." Cristhopan menyeringai
"Kutunggu ya, Jangan terlalu malam!"
"Cih, Gadis kecil, lihat saja, Aku akan memberimu pelajaran dengan sangat hati-hati"
"Dia tidak akan marah kan? Huh! Untung saja Angeline datang, Jadi aku bisa menghindar dari buaya hidung belang itu, Lebih bagus jika dia malam ini tinggal bersama Angeline, Jadi dia tak akan ada waktu untuk kembali menyiksaku." Zenya terkekeh, Ia segera kembali pada laptopnya
"Pekerjaan yang menumpuk, Aku pasti harus bergadang" Zenya meregangkan tubuhnya
*
*
"Orang ini kenapa sangat menyebalkan sekali. Jelas-jelas tadi saat ingin melakukannya, Dia sudah berjanji akan membiarkanku belajar nanti, Tapi tak disangka dia malah menyuruhku untuk menemani mereka minum bersama." Zenya berdecak, Ia sangat jengkel karena Cristhopan masih belum melepaskannya
"Tuan, Apa aku terlihat cantik? Aku sengaja berdandan sedikit demi menyenangkanmu." Angeline melontarkan senyuman manis pada Cristhopan
Cristhopan tak menghiraukannya, Ia malah memalingkan wajahnya pada Zenya
"Lain kali kau juga coba berpakaian seperti ini ya?" Zenya melotot, Ia bergidik ngeri.
Zenya disuruh melayani mereka berdua, Ia menuangkan satu gelas untuk Cristhopan, dan satu gelas lagi untuk Angeline
Angeline tersenyum sinis, Satu alis bertaut
"Ck, Lihat, Seberapa lama kau bisa sombong?! Sekarang kau yang menuangkan anggur ini untuk kita berdua" Angeline merasa bahwa dirinya sudah menang.
Zenya berdecak sebal, Cristhopan melihat perubahan raut wajah pada diri Zenya,
"Ck, Lihat dia, Apa dia kesal?Cemburu?" Cristhopan menggoyang-goyangkan kan gelas yang berisi wine
"Tuan, Aku akan menunggu di sebelah sama sembari mengerjakan tugas" Zenya ingin beranjak
"Zenya, Tuangkan aku satu gelas lagi sebelum pergi" Angeline tersenyum sinis
__ADS_1
Cristhopan melirik kearah Angeline, satu alisnya bertaut, Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
"Apa kau tidak bisa menuangkan anggur untuk dirimu sendiri? Jika ingin mendapatkan Cristhopan tuangkan juga anggur untuknya, Aku tak ada urusan untuk melayanimu" Zenya berbicara sambil beranjak
"Ck, Gadisku, Ternyata dia melawan juga"
Angeline terhenyak, Ia ingin menarik rambut Zenya, Tapi, Cristhopan bertindak duluan, Ia meranik lengan Zenya dan menyuruhnya untuk duduk di pangkuannya.
"Melihat anggur ini, Aku tiba-tiba ingin langsung melihat tampangmu setelah mabuk nanti." Lirih Cristhopan, Ia menyelipkan rambut Zenya pada daun telinganya.
"Tidak.." Zenya memalingkan wajahnya,
"Kau tahu aku tak bisa mabuk"
"Kau boleh mencoba untuk menolak, Hanya saja kau yang paling tahu apa akibatnya jika sudah berani melawanku.
Habiskan!" Cristhopan menuangkan wine untuk Zenya,
"Apa? Cristhopan menuangkan anggur untuk nya? " Angeline berdecak kesal.
"Tuan, Eerg, Tapi kau harus berjanji, Setelah meminum satu gelas, Kau harus membiarkanku untuk kembali kekamar dan belajar" Zenya menenggak habis minuman tersebut
"Baik, Aku akan menemanimu kembali ke kamar untuk tidur." Gumam Cristhopan
Angeline menautkan kedua alisnya
"Cih, harus berpura-pura lemah ya?" Ia memulai aktingnya, Wajahnya ia buat seperti sudah mabuk
"Cristh, Aku juga sedikit mabuk, Bagaimana jika kau menemani aku tidur malam ini." Ia mencoba bersandar pada Cristhopan.
"Malam ini aku sudah dua kali berhubungan dengan dia, Tenaga ku sudah cukup terkuras habis akibat ulahnya, Aku rasa tenaga ku tidak akan cukup jika harus berhubungan denganmu." Cristhopan menghindar
"Ta, Tapi Cristh, Aku, Aku juga sudah sedikit mabuk" Angeline memegang kepalanya.
"Aku yakin kau tak akan mabuk jika meminum tiga botol wine sekaligus pun, Hanya dua gelas? Dan kau sudah mabuk, Angeline aku tahu dibalik wajahmu. Jangan menggangguku, Jika kau merasa mabuk kau bisa panggil pelayan dan mereka akan mengantarmu" Cristhopan membopong tubuh Zenya, yanh sudah setengah sadar.
Ia merebahkan tubuh Zenya di kasur, lalu mengungkungnya,
"Kau.. bilang, Kau sudah tidak punya tenaga lagi" Zenya berbicara dengan suara yang sudah tak karuan
"Kau salah dengar." Cristhopan menelusupkan tangannya ke dalam piyama Zenya,
Tidak, Kita sudah melakukannya tadi, Bahkan sudah mandi bersama. Tuan, kau melepaskan aku sekarang, Aku harus melanjutkan pekerjaan ku"
"Ck, berbicara dengan wajah polos begini, gadis ini memang benar minta di siksa"
"Oh ya, kau berani berbicara seperti tadi pada Angeline, Ada apa?" Cristhopan bertanya dengan lembut.
"Aku tidak ada urusan dengan Angeline, Aku melayaninya jika kau yang menyuruh, Aku bukan suruhannya, untuk apa aku ikuti kemauannya?" Ujar Zenya jujur
"Gadis yang pintar, karena kau sudah berkata demikian, Sekarang kita lanjut ke round ke dua" Cristhopan tersenyum licik
"Tuan, Kau bisa kecapean" Sargah Zenya
"Gadisku tak percaya jika aku dapat memuaskannya, Kalau begitu sepertinya aku harus membuktikannya, Agar kau tahu kalau aku masih sanggup atau tidak untuk melakukannya"
○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○
__ADS_1
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih~