
Ponsel yang tergeletak di atas meja kerja Baskara berdering, ketika laki-laki itu baru beberapa kali menyuap nasi di atas piringnya.
"Lanjut dulu, Bas. Paling itu adik atau ibumu. Nanti nafsu makanmu hilang lagi," ucap Gilang ketika melihat gelagat sahabatnya yang berniat bangkit.
Baskara menoleh ke arah Gilang, lalu melanjutkan kembali aktifitas makannya. Dalam hati ia membenarkan ucapan sahabatnya itu. Apa lagi yang akan terjadi jika ibu atau adiknya yang menelepon, selain perdebatan dan adu urat leher?
Namun selang beberapa menit, ponsel itu kembali berdering. Bas tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia bangkit dan meraih ponselnya. Sembari melipat kertas minyak di atas piring, ia menerima panggilan yang ternyata berasal dari sang ibu.
"Bas." Suara Bu Rahma terdengar lembut di seberang sana.
"Iya, Bu. Ada apa?" Sahut Baskara datar. Ia sudah tahu, apa tujuan wanita yang melahirkannya itu menghubungi dirinya pagi-pagi seperti ini. Apa lagi kalau bukan membahas masalah uang yang diminta oleh Utari kemarin? Kalau bukan karena itu, mana pernah sang ibu menghubunginya? Menanyakan keadaannya? Tentu itu bukan sesuatu yang penting dilakukan.
__ADS_1
"Begini, cicilan motor Utari nunggak beberapa bu...."
"Aku nggak bisa kasih dia uang untuk itu, Bu. Kebutuhanku banyak." Baskara memotong ucapan Bu Rahma. Suaranya ketus tak bisa dibantah.
"Bas, kasihan adikmu. Kalau motornya ditarik, gimana? Sayang uang yang udah dibayarkan selama ini. Bantulah, kalian kan bersaudara." Bu Rahma terus membujuk baskara agar mau memberi Utari uang untuk membayar tunggakan motornya.
"Kalau nggak mampu bayar, kenapa ambil cicilan? Gedein gengsi, tapi nyusahin orang! Suaminya kemana? Bukannya motor itu dipake suaminya? Maaf Bu, aku sibuk. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan." Bas yang kesal berniat mematikan sambungan telepon. Namun suara Bu Rahma dari seberang, menghentikan gerakan tangan laki-laki itu.
Tubuh Bas membeku, tatapan matanya kosong, seiring pikirannya yang berkelana entah kemana.
"Ibu nggak main-main, Bas! Ibu nggak sudi jasad ibu kamu sentuh, kalau kamu lebih mementingkan orang lain daripada keluargamu sendiri!" Untuk kedua kalinya wanita itu mengucapkan kalimat yang sama. Kali ini semakin jelas di telinga Baskara, dan semakin meyakinkan jika ia tidak salah mendengar kalimat pertama.
__ADS_1
"Urus saja perempuan tak tau diri itu dan keluarganya! Dari dia kan, kamu bisa tumbuh hingga sebesar sekarang? Mereka yang memberimu makan, menjagamu, menyekolahkanmu, hingga bisa jadi seperti sekarang. Manusia renta ini bukan siapa-siapa! Tidak memiliki hak apa-apa atas hidupmu. Jangan pernah hiraukan permintaanku, jangan pedulikan ucapanku, bahkan jangan urus pemakamanku jika kelak aku mati. Aku anggap hanya punya dua anak, karena anak pertamaku sudah dirampas oleh orang lain!" Bu Rahma terus melontarkan kalimat pedas bukti kemarahannya.
Tubuh Baskara bergetar menahan amarah dan sakit hati. Ia belum mampu berkata apa-apa. Hanya bisa mematung, dengan ponsel masih menempel di telinga.
Semakin banyak umpatan yang keluar dari mulut wanita yang melahirkannya, semakin mendesak Baskara ikut memuntahkan larva panas yang terpendam dalam hatinya.
Ketika sang ibu menjeda kalimatnya, Baskara menggunakan kesempatan itu untuk bicara.
"Aku nggak pernah minta dilahirkan ke dunia ini Bu. Bahkan jika bisa memilih, lebih baik rasanya aku tidak pernah ada, jika hanya sebagai perusak pandangan matamu. Tapi Terim kasih, Bu. Sudah berjuang menghadirkan aku, meski aku tau, aku hanyalah0 seonggok sampah yang tidak pernah memiliki nilai di matamu. Aku akan kirim uang yang ibu minta, anggap saja itu sebagai imbalan karena kau memberi kehidupan bagi orang asing ini. Aku tau, itu tidak sebanding dengan air susu yang sudah kau berikan selama membesarkan aku, tapi sekali lagi aku tak pernah minta dilahirkan olehmu." Bas menjeda kalimatnya. Ia menarik nafas dalam, meski terasa sakit di dadanya. Ia kembali melanjutkan kalimatnya, berusaha setenang mungkin, menata kata-katanya agar tak terbaca emosi yang ikut di dalamnya.
"Selama ini apapun yang ibu minta selalu berusaha aku penuhi, berharap akan tumbuh cinta kasih selayaknya seorang ibu pada anaknya. Tapi aku salah. Mungkin benar aku bukan anakmu. Hingga setiap apapun yang ibu lakukan untukku, selalu ibu ungkit dan ibu ukur dengan uang. Ibu melimpahkan begitu banyak cinta dan kasih sayang pada Utari, sementara untukku hanya tersisa caci dan maki. Tapi nggak apa-apa, aku akan belajar ikhlas. Karena itu berarti ibu menukar jasa ibu, sesuatu yang seharusnya tak ternilai, dengan materi. Baktiku selama ini tidak pernah memiliki arti." Baskara tak dapat menahan Isak tangisnya, hingga tanpa menunggu reaksi dari sang ibu, ia segera mengakhiri panggilan teleponnya.
__ADS_1
Gilang hanya bisa menonton adegan di depannya tanpa bisa berkata apapun. Meski ia tidak mendengar apa yang diucapkan Bu Rahma, tetapi melihat reaksi yang diberikan Baskara, sudah dapat ia simpulkan bahwa wanita yang bergelar sebagai ibu itu sudah menyakiti anaknya dengan amat dalam.