
Nilam tengah berkutat dengan masakannya, ketika seseorang datang memanggil namanya dari luar kamar.
"Tunggu sebentar!" teriak gadis itu buru-buru mematikan kompor, demi melihat siapa yang mencarinya.
"Aku aja, Lam." Amanda yang baru keluar dari dalam kamar mandi, menghentikan niat gadis itu. Nilam tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya di dapur. Sementara Amanda bergegas menuju pintu menemui sang tamu.
Tidak berselang lama, Amanda memanggil namanya dengan sedikit berteriak, membuat Nilam berdecak kesal.
Kalau ujung-ujungnya dia juga yang harus keluar, kenapa tidak dari tadi saja?
"Ada apa?" tanya Nilam setelah jarak keduanya hanya beberapa jengkal.
"Tuh di luar ada cewek aneh nyariin," ketus Amanda melenggang menuju dapur.
"Biar aku yang lanjutin masak. Kamu urus aja orang aneh itu," titah Amanda lagi.
Nilam melangkah keluar, dan benar saja. Di kursi yang biasa ia gunakan untuk menjahit, seorang perempuan duduk sembari memerhatikan sekelilingnya.
"Ehm." Nilam bermaksud menarik perhatian tamu tak dikenalnya itu. Namun saat wanita itu menoleh, Nilam sedikit terkejut dibuatnya.
"Eh, Nilam." Wanita dengan celana jins panjang dan baju crop berwarna dusty pink itu seketika bangkit berdiri. Menampilkan senyum semanis gula, wanita itu melangkah mendekati Nilam yang berdiri di sudut pintu.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Nilam tidak dapat menyembunyikan rasa tidak sukanya.
"Ee ini, aku mau nitip ini. Tolong nanti kasih ke Baskara ya. Kemarin pas aku jenguk dia, Baskara pinjemin aku jaket ini. Mungkin dia khawatir aku kedinginan dan masuk angin," ucap wanita berambut caramel sebahu itu, menyerahkan tas belanja yang di dalamnya berisi jaket kulit milik Bas.
__ADS_1
Nilam mengerutkan alisnya. Bukankah itu jaket kesayangan Bas? Kenapa bisa dia meminjamkan pada orang lain, yang bahkan adalah mantan pacarnya? Apakah se-khawatir itu Baskara pada wanita yang kini ada di hadapannya?
"Nilam," panggil wanita itu lagi.
"Aku nggak bermaksud bikin kamu curiga jadi jangan berprasangka buruk. Kami nggak ada hubungan apapun lagi, kok. Ini murni karena kemanusiaan. Baskara memang begitu. Selalu khawatir kalau aku nggak bisa jaga diri." Tanpa diminta, wanita itu menjelaskan hal yang sesungguhnya tidak membutuhkan penjelasan untuk Nilam. Bahkan apa yang dikatakan, justru menimbulkan prasangka yang sesungguhnya.
"Kenapa nggak kamu aja yang bawa ke rumah Mas Bas? Lumayan kan, kalian bisa ngobrol lebih lama lagi. Siapa tahu masih ada hal yang belum usai diantara kalian, yang harus dibereskan," pancing Nilam.
Wanita itu tersenyum samar. Sepertinya rencananya berhasil.
"Nggak lah. Aku nggak mau menimbulkan fitnah diantara kami. Aku nggak mau merusak hubungan kalian, dengan sering-sering menemuinya."
"Itu kamu faham. Terus apa niatmu datang ke sini, menitipkan benda nggak penting yang kamu pinjam sama calon suamiku? Biar apa? Biar aku tau kalau dia mengkhawatirkan kamu, gitu?"
"Jadi sensi? Memang sebelumnya kamu tau kalau aku nggak sensian? Kita nggak pernah saling kenal, ya. Dan aku nggak berminat untuk kenalan sama kamu. Aku juga nggak buka jasa titip, yang bisa kamu titipin barang bekas kamu pakai." Wajah Nilam tenang, tapi kalimat yang keluar dari mulutnya, serta tatapan matanya menunjukkan amarah yang siap membakar.
"Lam,"
Dari dalam kamar, Amanda datang mendekati Nilam.
"Masih belum pergi juga tamunya?" Lanjutnya lagi, saat melihat Mantan Kekasih Baskara itu masih berdiri di luar.
Nilam mengangkat bahunya acuh. Dengan tangan masih terlipat di depan dada, gadis itu memandang sinis ke depan.
"Aku cuman mau nitip ini aja, padahal. Tapi Nilam nggak mau, dan malah marah sama aku. Padahal aku nggak ada maksud apa-apa."
__ADS_1
"Mau nitip apa?" tanya Amanda penasaran. Sementara Nilam memutar matanya, malas. Ia ingin pergi, tapi lengannya dicubit oleh Amanda hingga gadis itu meringis menahan pedih.
"Ini, jaketnya Baskara. Kemarin dia kasih aku pinjam, pas mau balik ke mari. Jadi aku berniat titip ini ke Nilam. Kalau aku ke sana, takut timbul fitnah. Soalnya kan Baskara katanya udah mau nikah, nggak enak aku sering-sering temuin dia."
"Ooh itu bukan katanya lagi! Dia memang udah mau nikah. Pinter Mba-nya. Pengertian. Memang harus gitu, Mba. Laki-laki yang udah ditandai, memang nggak boleh didekati. Jadi perempuan harus punya harga diri. Jangan banting harga ya. Oh ya, kok bisa Bas ambilkan jaket untuk kamu? Bukannya saat itu dia masih ada di rumah sakit?" tanya Amanda dengan wajah polosnya.
"Ooh ini, kemarin. Pas dia baru keluar dari RS, aku ke sana sama temen. Begitu mau balik, ternyata jaket aku kotor kena minuman anaknya Utari. Jadi Baskara kasih ini untuk aku pakai."
"Pengertian sekali dia ya," sinis Nilam. Kembali Amanda mencubit lengan Nilam, sembari mendelikkan matanya.
"Ooh." Amanda menganggukkan kepala, sambil tersenyum ke arah Si Mantan Baskara.
"Sepertinya Mas Bas memang sengaja kasih itu untuk kamu. Dia udah nggak butuh jaket itu lagi." Sela Nilam akhirnya.
"Tapi ini jaket kesayangannya dia, Lam."
"Benda yang udah ia berikan pada orang lain, itu berarti dia udah nggak membutuhkannya lagi. Lagipula, Mas Bas nggak pulang ke rumah ibunya, kemarin," ucap Nilam setelah mengingat sesuatu.
^_________^^_________^^_________^
Gimana ya kalau anak SMA didekati sama duda ganteng?
Ikuti kisahnya di karya othor adindara ya 😉😉😉
__ADS_1