CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
CK 36 - GUNDAH


__ADS_3

Billy sedikit bingung dengan pertanyaan sang majikan, Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan yang terdengar konyol seperti itu, Namun jika mengingat sejarah kehidupan seorang Cristhopan, Ia bisa memakluminya.


Seorang Cristhopan Alexander di besarkan dengan berlumuran darah, luka-luka yang membekas di sekujur tubuhnya menjadi saksi bisu begitu kejam kehidupan yang membesarkan namanya,


Maka ia tak heran jika Cristhopan 'mungkin' belum pernah merasakan enak nya ice cream, Apalagi jika di makan selagi cuaca panas.


"Apa semua orang suka ice cream?" Tanya nya lagi dengan sangat serius.


"Tidak semua Tuan, Sebagian besar masyarakat pasti menyukai ice cream, Apalagi dari kalangan anak hingga remaja" Billy menjawab dengan tak kalah serius,


"Tuan tak pernah ingin tahu soal masalah beginian" Gumamnya sambil terus melirik ke arah cermin kecil.


"Pantas saja gadis cengeng itu suka ice cream, dia masih bocah!" Gumam Cristhopan lirih.


Billy yang mendengar gumaman itu, sontak melirik dari ujung mata nya.


"Tuan menjadi selalu ingin tahu jika menyangkut sial Nona Zenya" Billy menggeleng cepat.


Setelah berpikir sejenak, Cristhopan menghela kembali nafas nya panjang


"hhhhh"


"Billy atur jadwal keberangkatan untuk pergi ke kediaman orang tua itu. Bawakan sesuatu yang paling berharga untuk nya. Hari itu kita tidak jadi datang bertemu dengan nya. Akan jadi masalah jika kali ini aku tak bisa menyenangkan hatinya"


"Baik tuan"


Cristhopan mulai menyendok ice cream di tangan yang mulai mencair, Ia menatap nya cukup lama, Seperti ingin segera melahapnya, Namun ia terhalang oleh sesuatu.


"Tuan akan memakan ice cream itu?" Billy menunggu.


Tangannya sudah hampir naik, Namun ia mengurungkan niatnya. Ia menaruh kembali sendok yang berisi ice cream tersebut, setelah itu ia melemparnya ke samping.


"Cih, Aku hampir terlihat seperti orang bodoh!" Wajahnya kembali ditekuk.


"Huuuuhh, Ia mengurungkan niatnya. Akan terlihat seperti apa jika tuan muda sampai memakan ice cream itu" Gumam Billy dengan helaan nafas yang panjang.


Cristhopan terlihat menekuk kedua alis nya yang saling bertaut, Billy penasaran, Apa sebenarnya yang sedang menganggu pikiran dan perasaan sang bos, Ia ingin bertanya namun keberaniannya tak cukup.


Setelah perjalanan yang terasa lama akibat keheningan yang berlarut-larut, Akhirnya mereka sampai di satu kediaman besar.


Terdapat beberapa orang yang menjaga, Mereka langsung membungkuk hormat kala mobil mewah milik Cristhopan masuk ke pelataran halaman mansion tersebut.

__ADS_1


Salah seorang penjaga menghampiri, Ia membukakan pintu mobil untuk Cristhopan


"Selamat datang Tuan Muda Alexander Pertama" Ia membungkuk penuh hormat.


Cristhopan hanya mengangguk, Ia segera berjalan ke area taman yang berada di area depan Mansion tersebut, lalu berjalan menuju lobby.


"Tuan, Tuan Muda William sudah menunggu, Apakah anda berkenan untuk bertemu dengannya sekarang?" Ucap pengawal tadi.


"Ya" Jawabnya singkat.


Cristhopan segera masuk ke Ruang utama, Namun saat hendak masuk lebih dalam, ia malah sudah di suguhi dengan jamuan yang sangat abnormal. Disana sudah ada seorang lelaki yang sedang bermain gila dengan seorang wanita.


Cristhopan tak memperlihatkan reaksi apapun, Ia hanya menautkan satu alisnya kala perempuan itu bangkit dari kungkungannya di atas tubuh laki-laki yang sudah pasti dia adalah William.


Sementara laki-laki yang di duga William itu hanya terkekeh kala melihat tubuh tegap Cristhopan sudah berada tak jauh dari hadapannya.


" Hey yo~ Siapa yang sudah berkunjung" Ucap Pria itu santai.


"Tuan Muda, Tidak apa-apa kan bertemu disaat sedang seperti ini" Pria itu sangat santai hingga ia masih bisa membentangkan tangan dan kakinya walaupun tanpa adanya sehelai benang yang menutup tubuh polos nya.


Cristhopan tak bergeming,


"Ck, Kau masih sangat kaku" Pria itu bangkit, Ia meregangkan tubuhnya yang mengeluarkan bunyi.


Grek


"Haaaaahh Lega.. Mana pakaianku" Pria itu membentangkan tangannya, Seorang wanita menghampiri lalu memakaikan bathrobe untuk menutupi tubuh polos pria itu.


Cristhopan menarik sebatang rokok,


" Tuan muda datang kemari dalam rangka apa?" Pria itu menyunggingkan ujung bibirnya. Ia mempersilahkan Cristhopan untuk duduk,


"Kau yang mengundangku, Justru seharusnya aku yang bertanya, 'kan?" Jawab Cristhopan tanpa ekspresi sedikit pun.


"Ha ha ha Awalnya aku tak yakin seseorang seperti Tuan, akan sudi datang seperti ini ke kediamanku yang tak layak untuk mu" Pria itu malah bermain-main.


" Kalau kau sudah merasa kediaman ini tak layak untuk ku, mengapa kau masih mengundangku ku untuk kemari? " Cristhopan menatapnya tajam.


"O-owh, baiklah aku sudah tak akan bercanda lagi, Tuan membela-bela datang kemari sebenarnya ingin tahu tentang apa?"


"Sejak awal kau mengundangku kemari untuk memberitahu ku mengenai masalah apa? jangan berbelit-belit, Aku paling tidak suka berbasa-basi" Cristhopan mulai memperlihatkan taringnya.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin bermain-main dengan anda, Lagi pula aku tak tertarik pada laki-laki" Jawabnya enteng. Billy terhenyak,


"M-maksudku, Aku kembali bertanya padamu, takut-takut kau tidak puas mendengar jawabanku lalu sengaja menembakkan senjata yang ada di balik jas anti peluru mu itu. Aku tidak mau" Cristhopan mengerlingkan kedua bola matanya.


"William Stuart!" Cristhopan mengetatkan rahangnya.


"Jangan main-main!"


"Ho-how santai lah Cristhopan" William menyeringai.


"Kau ternyata sungguh perduli pada gadis kecil itu? Kau yakin dengannya? Atau rasa nya enak?"


BRAK!


Cristhopan menggebrak meja,


"Kau seperti nya memang tidak bisa bicara baik-baik" William menyeringai, Ia semakin terkekeh kala melihat urat-urat di kepala Cristhopan yang sudah bermunculan.


"Baiklah, baiklah, Aku tak akan menggodamu lagi. Crist, Memang kemarin aku menyuruh anak buah ku untuk mengikuti gadis itu, Tapi penusukan itu, Kau pasti sudah tahu, pasti bukan aku yang menyuruhnya" Ucapnya enteng.


"Justru aku tak yakin jika bukan kau yang menyuruh orang itu" Wajah Cristhopan sudah memerah.


"Kau pikir aku gila?" William membenarkan posisi duduknya.


"Aku tahu kau peduli pada gadis itu, Tapi harus kah sampai seperti ini?" William mendekat,


Cristhopan tak bergeming, Ia menelan saliva nya kasar.


"Aku hanya menyadarkanmu, Crist. Sungguh bukan aku yang menyuruh seseorang yang membawa sajam. Kau pikir aku sebodoh itu, melakukan hal seperti itu kepada orang mu?" William menyilangkan tangan nya. Cristhopan masih belum merespond


"Kau pikir hanya aku dan orang-orang di sekitar yang sudah tahu mengenai gadis itu? Rumor tentang mu lebih cepat merambat dari pada api yang menyambar minyak, Jika kau terus seperti ini. Orang-orang yang ingin kau terjatuh, satu-persatu akan mengejar gadis kecil itu."


"Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dari ku, Aku lebih tahu tentangmu, dari pada dirimu sendiri. Karna aku, Orang yang paling ingin melampuimu, Cristhopan!"


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~


Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.


Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~

__ADS_1


Terimakasih~


__ADS_2