CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 103


__ADS_3

Pasangan kekasih itu saling bertautan tangan, menyusuri tepian pantai. Menikmati riak ombak yang sesekali mengecup telapak kaki mereka yang tanpa alas.


Tidak ada percakapan, namun rasa bahagia jelas nampak di raut wajah keduanya.


Apakah memang begitu? Ada kalanya seseorang hanya butuh sentuhan tanpa kata, membiarkan rasa berpendar, tanpa perlu mengabarkan pada dunia seberapa besar bahagia yang kini menyapa.


Merasa sudah cukup jauh berjalan, Nilam memutuskan untuk duduk di salah satu perahu nelayan, yang berbaris rapi agak jauh dari bibir pantai.


"Capek?" tanya Baskara lembut.


Nilam mengangguk, sembari menarik tangan Baskara agar ikut duduk di sampingnya.


"Mau mas gendong?" goda laki-laki itu.


Nilam menggeleng dengan senyum tipis.


"Nggak usah, di sini dulu aja mas. Aku suka." ucap Nilam.


"Kenapa suka sekali pantai?" tanya Bas lagi, ikut duduk di samping kekasihnya. Seingat Baskara, setiap kali ia mengajak Nilam pergi, gadis itu tidak pernah meminta ke tempat wisata atau mall. Ia selalu minta ditemani ke pantai, tempat murah meriah yang tidak perlu modal banyak untuk mencapainya.


"Nggak tau. Suka aja dengan ketenangannya. Apalagi pas bulan purnama, air laut berkilauan di bawah sinar bulan. Atau pas matahari terbenam, aku selalu takjub melihat keindahan yang Tuhan sajikan." sahut Nilam, tanpa melihat lawan bicaranya.


Matanya terus fokus pada ombak yang saling mengejar, dan berakhir menjadi riak kecil di tepi pantai.

__ADS_1


Baskara tersenyum tipis. Memang sesederhana ini, Nilam-nya. Tidak perlu benda mewah atau perlakuan istimewa, kebahagiaan dapat gadis itu rasakan hanya dengan duduk tenang di tepi pantai seperti saat ini.


Bas berjongkok di depan Nilam, meraih kedua tangan gadis itu, untuk ia genggam.


"Kalau laut bisa membuat kamu tenang, mas cukup melihat senyum kamu untuk membuat hati mas merasa damai. Terima kasih, sudah menjadi bidadari yang selalu membawa kebahagiaan di hidup mas." ucapan tulus itu, meluncur bebas dari mulutnya, membuat Nilam tersipu, dengan rona merah di pipinya.


"Aku nggak sesempurna itu, Mas. Jangan terlalu menyanjungku," ucap Nilam sembari menangkup kedua pipi Bas, menyatukan pandangan mereka. Meski merasa bahagia dengan pujian kekasihnya, namun ia tidak ingin terbuai kata-kata manis.


"Kamu layak disanjung, layak dipuji, layak dibanggakan. Dan mas sangat bersyukur punya kamu di hidup mas." sahut Bas dengan tatapan memuja.


"Mas," Nilam hanyut dalam suasana syahdu yang tercipta. Bas begitu manis malam ini. Rasanya, rasa cinta dan sayang Nilam tumbuh berkali lipat untuk laki-laki di depannya.


"Jangan habiskan kata sayang dan cinta itu, malam ini. Aku masih ingin mendengarnya di sepanjang sisa umurku, Mas."


"Nggak akan pernah habis, sayang. Meski setiap hari mas ucapkan beribu kali, rasa itu akan terus mendesak untuk diungkapkan." sahut Bas, membawa tangan Nilam untuk dikecupnya.


"Ini untuk kamu,"


"Apa ini mas?"


"Mas belum bisa belikan kamu berlian, maaf ya ... Baru ini yang sanggup mas kasih. Semoga kamu suka." Dibukanya kotak beludru berwarna merah, yang di dalamnya tersimpan sebuah gelang emas dengan hiasan dua mutiara gading, terlihat sederhana namun manis.


"Mas," Nilam menutup mulutnya karena terkejut. Ia tidak menyangka jika Baskara bisa bersikap romantis.

__ADS_1


"Cantik banget mas, makasih ...." tanpa terasa air mata menetes membasahi pipi Nilam, saat Bas selesai memakaikan gelang di tangan kanannya.


"Kamu suka?"


"Suka bngeeet." ucap gadis itu langsung memeluk kekasihnya.


"Makasih mas, mas selalu ada untukku. Mas selalu bisa membuat aku merasa istimewa, nggak pernah meragukan aku meski kita berjauhan. Tetap begini ya, mas. Jangan pernah berubah." ucap Nilam masih betah menyandarkan wajah di leher Baskara.


Adakah yang lebih membahagiakan untuk Baskara malam ini, selain pengakuan cinta dari bibir gadis yang ia sayangi selama ini?


"Mas masih punya sesuatu untuk kamu, tapi mas ragu ngasihnya malam ini."


"Apa?" tanya Nilam melepas pelukannya. Ia sangat antusias, menunggu benda apa lagi yang akan diberikan Baskara untuknya.


"Besok aja mas ganti. Yang ini pasti udah rusak."


"Apa maaas, jangan bikin penasaran." desak Nilam.


"Udah besok aja,"


"Nggak mau, maunya sekarang ...."


"Nggak besok aja,"

__ADS_1


Suasana romantis yang tercipta beberapa menit lalu, berubah menjadi perdebatan kecil di antara keduanya.


"Mas iih," Nilam merajuk, namun di mata Baskara, gadis itu tetap terlihat menggemaskan bagaimanapun sikap yang ditunjukkannya.


__ADS_2