
Bas menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia menatap layar pipihnya yang sudah gelap.
Apakah dia melakukan kesalahan fatal?
Kenapa Nilam semarah itu padanya?
Tidak tahukah gadis itu, jika ia tersiksa dengan semua ini?
Bukankah beberapa bulan lalu mereka sudah sepakat akan segera menikah? Lalu kenapa sekarang Nilam seolah tidak menginginkan hal itu terjadi?
Ia keluar dari kamarnya. Duduk di teras, sambil menghisap kuat rokok yang baru saja ia nyalakan.
Gumpalan asap putih membubung tinggi, ketika ia menghembuskan nafas dari mulutnya.
Mata Bas menatap langit sore menjelang petang, dimana awan gelap perlahan menyamarkan warna biru di atas sana. Sejauh mata memandang, pikirannya pun ikut melayang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" lirihnya, seolah bertanya pada diri sendiri. Tentu hanya sepi yang ia dapatkan. Tidak ada suara apapun yang menjadi jawaban.
Lalu tiba-tiba ia bangkit, kembali bergegas masuk ke dalam kamar untuk meraih ponselnya kembali. Ia mencari nama dari kontak teratasnya, lalu menghubungi nomor tersebut.
Tidak perlu menunggu lama, jawaban dari seberang ia terima.
Cukup lama ia berbincang, hingga akhirnya ia menghembuskan nafas lega saat panggilan telepon itu terputus.
Ia seperti mendapat angin segar, hingga tak terasa senyum tipis tersungging menutupi kegundahan hatinya.
Gilang yang sebelumnya keluar mencari makan seperti biasa, menepuk bahu Bas yang tengah melamun.
"Bas,"
__ADS_1
"Eh, Lang!"
"Ngapain kau bengong? Tumben?" komentar gilang. Sebab biasanya Bas tidak pernah melewatkan sedetik pun waktunya, untuk termenung. Laki-laki itu seolah tidak pernah bosan mengukir di atas kertas, menyelesaikan satu demi satu pekerjaan yang sebelumnya begitu semrawut.
Bas tersenyum tipis.
"Lang, kamu mau ikut pulang nggak? Aku sudah ijin sama bos, dapet libur seminggu," ucap Bas, tidak menanggapi pertanyaan temannya.
Gilang mengerutkan kening.
"Ada apa? Kok mendadak?" tanya Gilang.
Bas lalu menceritakan rencananya yang akan menikahi Nilam dalam waktu dekat.
"Tapi masalahnya sekarang, dia sedang marah sama aku, Lang. Aku jadi tidak bisa fokus bekerja kalau begini. Aku harus pulang menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi," terang Bas panjang lebar.
"Ya wajarlah dia marah. Sebelumnya kalian sedang berselisih paham, trus tiba-tiba kamu mengambil keputusan seperti itu, tanpa persetujuan dia. Mungkin dia berpikir kalau kamu melakukan ini karena emosi sesaat."
"Sabaaar, ini ujian untuk ketulusan cintamu, sekaligus pelajaran agar ke depan selalu mengutamakan komunikasi berdua sebelum kamu mengambil keputusan." Nasihat Gilang yang mendapat anggukan dari Bas.
"Trus kapan kamu akan pulang?" tanya Gilang lagi.
"Malam ini. Mungkin aku akan cari kapal jam 11." sahut Bas.
"Subuh donk sampainya?" komentar Gilang.
"Iya nggak pa-pa, biar pagi-pagi aku udah ada di depan kostnya. Kamu gimana? Mau ikut apa nggak?"
"Aku di sini dulu deh. Kumpulin bekal, mau hari raya." sahut Gilang.
__ADS_1
"Hmmm, baiklah. Aku pulang sendiri aja kalau gitu," ucap Bas.
Setelahnya mereka bersiap untuk menikmati makanan yang Gilang beli. Gilang seperti biasa mengambil dua piring plastik, sebagai alas makan, sedangkan Bas menyiapkan tikar kecil untuk alas mereka duduk.
🌟🌟🌟
Sementara itu di kostan, Nilam memeluk lututnya dengan tatapan menerawang. Jelas sekali nampak wajah frustasi gadis itu, yang dapat Amanda baca.
"Sabaaar. Jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja, Lam. Mungkin ini memang ketentuan dari yang di atas," ucapnya menasihati Nilam.
"Masalahnya, bukan aku ikhlas atau nggak menjalaninya, Nda. Tapi ini soal cara dia mengambil keputusan. Aku nggak suka."
"Nanti kan bisa diomongin baik-baik, katakan kalau kamu nggak suka cara dia yang seperti ini. Segala sesuatu itu harus dikomunikasikan, Lam. Jangan apa-apa diselesaikan dengan merajuk. Lagian kamu harusnya bersyukur, ada laki-laki yang begitu mencintai kamu, yang sangat takut kehilangan kamu, hingga melakukan semua ini. Di luar sana, mungkin banyak yang mengharap mendapat sosok laki-laki seperti Baskara. Pekerja keras, bertanggung jawab, bahkan sangat dekat dengan keluarga kamu, yang artinya dia bukan hanya mencintai dirimu saja, tapi juga menyayangi keluargamu," ucap Amanda.
Nilam tidak menjawab. Ia mencerna dalam diam ucapan sahabatnya itu.
Benar memang, tidak ada manusia yang sempurna. Salah dan khilaf adalah satu kepastian yang akan dilakukan dalam hidup.
Yang membedakan adalah, bagaimana seseorang memperbaiki diri, berusaha tidak melakukan kesalahan yang sama berulang kali.
'semoga saja mas Bas tau kalau apa yang dia lakukan saat ini adalah salah. Dan nggak akan mengulang lagi suatu saat nanti,' batin Nilam.
"Jangan jadikan beban pikiran, Lam ... Kita keluar yuk, biar kamu nggak suntuk. Udah nggak pusing lagi, kan?" bujuk Amanda.
Nilam mengangguk.
"Kita mau kemana?" tanya gadis itu.
"Cari angin ajaaa. Kelapangan boleh, kita beli jagung bakar di sana. Atau kita kulineran ke pasar malam xx? Biar bisa pilih banyak menu makanan. Asal jangan aja ke pantai, bosen!" ucap Amanda.
__ADS_1
Setelah berpikir beberapa menit, Nilam akhirnya mengiyakan ajakan Amanda.
"Boleh deh, kita ke pasar malam aja ya ... Mau puasin makan yang enak-enak," ucap Nilam seraya bangkit dari tempat tidurnya, untuk bersiap.