
"Lam ... Sebelumnya maaf, kalau aku tutupi ini dari kamu. Aku nggak bermaksud lancang. Hanya saja aku dan mas Bas ingin memastikan kebenarannya terlebih dahulu sebelum kasi tau kamu." Wajah serius Amanda membuat Nilam merasa berdebar.
Ia takut menduga-duga.
"Ada apa sih Nda? Jangan bikin aku takut deh ...."
"Kamuuu nggak ada buka chat dari orang yang kemarin kirim foto itu?"
Nilam menggeleng.
"Aku nggak siap Nda. Cukup sekali tubuhku dibuat gemetar oleh gambar-gambar itu. Aku nggak sanggup, membayangkan mas Pandu melakukan hal itu dengan wanita yang belum sah jadi istrinya. Semua itu membuat marah, kecewa, dan sedihku bercampur menjadi satu. Tapi aku selalu mencoba meyakinkan diriku, kalau semua hanya rekayasa wanita itu saja."
Amanda menarik nafas, berat untuknya mengatakan kebenarannya.
"Nda ... Semua itu benar. Laki-laki yang kamu cintai itu, tidak lebih dari seorang baj ingan! Kamu buka ponsel kamu, cari chat yang kemarin. Nomor itu mengirimkan keadaan cewek selingkuhan dia saat ini. Dia lagi di rumah sakit Lam ...!"
Amanda tidak lagi bisa menahan emosinya. Ia bahkan lepas kendali, meninggikan suara di hadapan Nilam.
Luruh kembali pertahanan Nilam. Bersyukur saat ini Amanda sudah mengantarnya ke kostan. Sehingga ia puas menangis di dalam kamarnya, tanpa khawatir akan rasa malu.
Dengan tangan gemetar ia memberanikan diri membuka kembali pesan yang Amanda maksud.
Benar saja, beberapa foto yang baru ia lihat serta foto USG dan pesan menyakitkan ia terima dari nomor yang sama.
"Apa ini Nda ...?"
Tangis pilu Nilam begitu menyayat hati.
"Salah aku apa Nda ...? Kenapa dia Setega ini sama aku? Apa maksud perhatian dan kasih sayangnya selama ini?"
Nilam meremas pinggiran seprei yang dapat ia gapai. Menyalurkan kesakitan nya pada benda mati itu.
Amanda menarik nafas. Mendekati Nilam yang tengah menikmati kehancuran hatinya.
"Sabaar Lam ... Bukankah aku sudah bilang, Tuhan sang pemilik skenario kehidupan ini. Pasti ada cerita bahagia yang akan Dia hadirkan untuk kamu nantinya." Ucap Amanda lembut.
"Kemarin, mas Bas sudah ke rumah sakit itu untuk mencari tahu. Dia marah banget, pas tau kamu diperlakukan kayak gini. Syukur dia nggak ketemu Pandu di sana. Kalau nggak, bisa habis laki-laki brengs ek itu di tangan mas Bas."
Nilam tidak menanggapi ucapan Amanda.
Ia masih terus menangis menghadap kasur. Menyandarkan kepalanya di sana, membiarkan air mata membasahi permukaan sprei.
Lama Nilam meratapi nasibnya dengan posisi seperti itu.
Amanda membiarkan saja apa yang membuat Amanda merasa lebih baik. Dia hanya menemani sang sahabat sembari tak henti membelai rambut Nilam.
"Nda ... Mau nggak anter aku ke tempat itu?" Tanya Nilam tiba-tiba.
"Maksud kamu ke kota B?"
"Hhmm ... Aku ingin semua cepat selesai. Aku ingin ada kepastian. Mas Pandu nggak bisa aku hubungi dari kemarin, kalau terus seperti ini, aku bisa stress Nda ...."
__ADS_1
"Tapi kamu nggak apa-apa nanti? Yakin bisa tenang di sana?"
"Aku nggak mau mikir yang belum terjadi. Yang pasti aku ingin menyelesaikan masalah ini."
"Baiklah ... Kalau itu mau kamu. Kapan kita berangkat?"
"Apa kamu bisa antar aku hari ini? Tapi kalau nggak bisa besok-besok juga nggak apa."
"Aku kabari ibu dulu ya ...." Ucapnya setelah beberapa saat terdiam.
Gadis itu bergegas mengambil ponselnya lalu keluar kamar kostan Nilam.
Tidak berapa lama, ia datang kembali menampilkan senyum manis ke hadapan sahabatnya.
"Jam berapa kita berangkat?" Tanyanya, saat melihat Nilam masih betah diposisi yang sama.
"Ibu nggak apapa kamu tinggal?"
"Enggak ... Udaah kamu tenang aja."
"Kalau gitu aku siap-siap dulu ya ...."
"Ok
Aku juga balik dulu, mau ganti baju."
***
"Nanti aja lah, kamu udah lapar?"
"Bareng aja sama kamu nanti."
"Kalau kamu lapar, istirahat dulu aja, cari tempat makan."
"Males aku makan sendiri."
"Aku temenin ...."
"Beneran ya? Kalo gitu kita cari warung makan sekarang."
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Mereka sudah hampir tiba di tempat tujuan.
Amanda mengajak Nilam untuk mengisi perut terlebih dahulu, sebab ia sangat yakin setelah ini, gadis itu tidak akan lagi ingat untuk makan bahkan minum sekali pun.
Ia mengenal Nilam cukup baik. Jangankan masalah serumit ini, dan menyangkut hati. Masalah pekerjaan yang tidak terlalu berat pun bisa membuat Nilam kehilangan selera makan.
Mereka memilih warung lalapan, di dekat sebuah pasar tradisional. Nilam yang tidak terlalu sering datang ke kota itu hanya menurut kemana Amanda menarik tangannya.
"Rame ya Nda, di sini." Bisik Nilam sembari menikmati ayam bakar yang di sajikan di atas piring plastik berwarna merah.
Sedari tadi matanya liar melirik kiri dan kanan, memerhatikan lalu lalang orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Hhmmm, kota ini kan nggak pernah tidur, Lam."
"Iya juga sih, di kota N aja yang jumlah penduduknya paling sedikit, jam segini masih rame orang ya, apalagi di sini."
"Naaah itu dia, belum lagi rumah sakit terbesar provinsi ada di dekat sini. Peluang bisnis banget kan ... Secara yang datang berobat kemari bukan warga sekitar sini aja, tapi seluruh wilayah kabupaten di pulau ini, jika pasien sudah tidak bisa ditangani di daerah mereka, pasti akan dibawa ke sini juga."
Sahut Amanda, sambil asyik mencocol terong goreng ke atas sambal ulek berwarna merah terang.
Mendengar kata rumah sakit, seketika Nilam menghentikan makannya. Wajah yang semula sudah berbinar, kini kembali bergelayut mendung.
Amanda yang menyadari itu pun, ikut menjeda kenikmatan yang baru beberapa suap masuk ke pencernaannya.
"Lam ...."
"Nda ...."
Mereka kompak menyebut nama satu dengan yang lain. Namun suasana hati yang sedang tidak baik, tidak membuat itu terlihat lucu.
"Aku sanggup nggak ya ngadepin mereka nanti?" Nilam melanjutkan ucapannya.
"Kamu sanggup Lam ... Ada aku dan Baskara yang akan selalu dampingi kamu."
Kini giliran Amanda yang meyakinkan Nilam. Mereka sudah berjalan sejauh ini, tidak ada lagi alasan untuk Nilam menunda menyelesaikan masalah.
"Mas Bas ada di sini?"
Amanda mengangguk.
"Kan aku udah bilang, dia yang kemarin kroscek ke rumah sakit, memastikan kebenaran berita yang kita terima."
Mendengar itu semakin membuat Nilam dilanda gelisah.
Bila Baskara tahu, bukan tidak mungkin keluarganya pun tahu masalah yang ia hadapi saat ini.
"Kenapa Lam? Bukannya bagus kalau dia tahu?"
"Aku khawatir dia cerita ke orang tua aku Nda ... Aku nggak mau mereka kepikiran nanti."
"Ooo ... Kalau itu sih gampang, nanti minta aja dia jaga rahasia ini dari keluarga kamu. Lagian untuk apa ditutupi sih Lam?" Tanya Amanda penasaran.
"Aku belum siap aja Nda ... Gimana perasaan mereka nanti? Baru kemarin lusa aku ajak mas Pandu pulang untuk berkenalan dengan mereka, masa sekarang dengar kabar yang memalukan begini? Bisa dibully aku sama Damar dan yang lain."
"Sabar Lam ...."
Amanda mengusap punggung Nilam dengan tangan kirinya. Sementara tangan satunya masih penuh dengan sambal yang masih menempel.
"Lanjutin makannya Nda ... Kasihan masih banyak itu ..."
"Kamu juga donk ... Di sini yang butuh tenaga banyak itu kamu." Amanda menggoda Nilam, berharap gadis itu tidak terus terpuruk oleh keadaan.
Meski sudah tidak senikmat sebelumnya, namun mereka berdua menghabiskan makanan di hadapan mereka masing-masing tanpa ada obrolan apapun lagi.
__ADS_1