
Zenya terhenyak kala ia melihat sebuah mobil mewah terparkir tak jauh dari tempat nya berdiri.
"Itu mobil Cristhopan.." Zenya memejamkan matanya perlahan.
"Kenapa?" Velia mengedarkan pandangan ke sekitar mencari apa yang membuat Zenya bertingkah seperti itu.
"Ze, Kenapa sih?" Zenya gelagapan ia segera menarik lengan Velia agar berjalan lebih cepat.
"Ck, Lihat gadis itu, Apa yang sedang ia pikirkan" Cristhopan berdecak karena melihat tingkah laku Zenya.
"Aduh! Jangan sampai tuan muda marah karena tersinggung. Ia sudah berbaik hati untuk menahan diri agar tidak membuat Nona Zenya kesulitan. Tapi, Nona Zenya pasti antisipasi, mengingat ia tidak pernah tahu bahwa selama ini tuan telah berbelas kasihan padanya. Jika ia mengetahui semua sifat dan sikap tuan, Ia pasti akan bersujud berterima kasih dengan perlakuan tuan padanya selama ini" Billy merasa khawatir sekaligus cemas, pasalnya Tuannya dan juga Zenya selalu berselisih paham dan tak mau terbuka satu sama lain. Billy sudah mengetahui bahwa Cristhopan memiliki perasaan yang lebih pada Zenya, Tapi ia gengsi dan tak mau mengakui. Sedangkan Zenya selalu menganggap bahwa Cristhopan adalah seorang monster yang telah merenggut hidup nya. Tanpa ia sadari sebenarnya selama ini Cristhopan sudah sangat berbaik hati padanya, Mengingat bagaimana sifat dan temperamen Cristhopan, Berprilaku seperti itu kepada Zenya, sudah tergolong sangat baik dan perduli.
Zenya terus menarik lengan Velia tanpa mendengar pertanyaan yang terus di lontarkan oleh Velia.
Ia sudah melawati tempat dimana Cristhopan memarkirkan mobilnya. Sesekali ia melirik ke belakang untuk memastikan bahwa Cristhopan tak mengejar untuk membuat masalah dengannya.
"Seharusnya ia sudah mengerti dan tak membuat gaduh di depan Velia, 'kan?" Batin Zenya bertanya-tanya.
Didalam mobil, Cristhopan sudah sangat kepanasan, Bisa dibilang ia merasa sedang kebakaran jenggot.
"Cih, Dia selalu seperti ini. Tak pernah melihat kebaikanku! Apa aku permainkan saja ia sekalian?" Cristhopan memain-mainkan rokok yang terselip diantara jari nya.
"Billy, Ikuti dari jauh, Kalau dia berhenti kita turun" Billy pun mengangguk, Ia segera melaksanakan perintah sang bos.
"Sudah mulai" Batin Billy sambil menyetir dengan perlahan.
"Zenya! Ada apa sih? Kamu lihat hantu?" Velia mendelik.
"Udah jangan banyak tanya!" Zenya masih mencengkeram pergelangan tangan Velia.
"Stop dulu!" Velia mengangkat lengan yang satu
"Ada apalagi?" Zenya geram
"Katanya mau beli ice cream sundae" Velia mengerek
"Ya ampun, Lain kali aja kita beli nya" Zenya tak kalah merungut.
" 'Gak bisa Zenya, tadi kan kamu udah janji" Velia semakin merengek.
"Ayo dong! Kita kan bakal lama 'gak ketemu, Masa beli Ice cream sundae aja kamu 'gak mau" Velia sudah meruncingkan ujung bibirnya.
"Haaiisshh!!" Zenya mendengus kesal.
"Yaudah kalo Zenya 'gak mau aku pergi sendiri aja!" Velia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Zenya.
"Iya, Iya, Ayo!" Dengan perasaan dongkol Zenya mengabulkan rengekan Velia, Ia mengerlingkan matanya kala melihat perubahan yang cepat pada ekspresi wajah sahabatnya itu.
"Nah, gitu dong! Dari tadi kek! susah banget!" Sungut Velia.
"Cih" Zenya hanya mendengus kesal tanpa menimpali, Velia tersenyum dengan raut wajah yang merasa penuh kemenangan.
Cristhopan yang melihat hal itu di buat tersenyum sinis
"Cih, Gadis itu bisa mengabulkan keinginan orang lain seperti itu?!" Ia merasa kesal sendiri.
__ADS_1
Zenya dan Velia berbelok ke sebuah bangunan dimana Ice cream sundae di jual, Velia kegirangan, ia berjingkrak-jingkrak kala mereka sudah berada di barisan antrean.
"Yeayy, Untuk menunggu kepergian Zenya yang lama" Sorak nya.
Di trotoar jalan, Seorang pria yang menjadi pusat perhatian baru saja keluar dari mobil mewahnya. Ia membenarkan posisi kacamata hitamnya yang selalu melekat saat ia berada di luar ruangan. Beberapa orang yang menyadari siapa jati diri dari orang tersebut mulai saling membisik.
"Apa ini nyata? Aku bertemu seorang presdir kaya yang tampan" Ujar para siswi, wajah mereka sudah memerah.
"Kyaaaaa!! Tuan Cristhopan memang yang terbaik! Lihat di ponsel atau tv sudah sangat tampan, Tak disangka saat di lihat langsung seribu persen jauh lebih tampan!" Seru yang lain.
Cristhopan hanya tersenyum tipis kala mendengar pujian yang bertebaran di sepanjang jalan yang ia lewati.
Zenya dan Velia melirik ke arah kerumunan.
"Ada apa?" Velia memiringkan kepalanya.
"Entah, Apa ada selebriti?" Tebak Zenya, Ia berbalik dan tak menghiraukannya lagi.
"Hmmm, itu kan!" Velia membelalakkan matanya.
"Zenya, Itu.. Itu.. Itu adalah, itu adalah Tu-Tuan muda C.L.A management! Tuan muda Cristhopan Alexander!!" Zenya membulatkan matanya saat Velia menunjuk kearah belakang tubuhnya.
"Kau yakin itu dia?!" Zenya tak kalah terkejut.
"Iya sudah pasti itu dia! Mana ada orang yang bisa semirip ini. Ketampanan, kegagahan, dan kemaskulinan ini hanya dimiliki oleh dia seorang" Velia masih membulatkan matanya, Ia berbicara dengan sangat antusias, di barengi gerakan badan yang histeris, sangat memuja seorang Cristhopan.
"Velia, Kau jangan bercanda!" Zenya kesal dibuatnya.
"Zenya, berbaliklah! Atau kau akan menyesal seumur hidup karena tidak bisa melihat kegagahannya hari ini. Aku tahu kau sudah beberapa kali bertemu dengannya. Tapi jika melihat kegagahannya hari ini, kau akan menyesal. Aura nya mengharuskan agar ia di puja" Velia semakin di buat lebay.
"Zenya! Dia berjalan ke arah kita. Apa yang menjadi tujuannya!" Suara velia melirih tapi antusiasme nya tak berkurang.
" Sial! Untuk apa ia kemari!" Zenya semakin cemas, Tanpa mendengarkan ocehan Velia yang semakin menggiila, Ia segera menyerobot antrean yang mengosong akibat kedatangan Cristhopan.
Kini ia sudah siap untuk memesan.
Tuk tuk tuk..
Ia mengetuk kaca pembatas untuk menyadarkan pelayan dari kehisterisanya.
"Mbak, tolong aku ingin memesan!" Zenya mengencangkan sedikit volume suaranya.
Pelayan itu masih belum sadar, Ia malah terbawa arus antusiasme karena kedatangan Cristhopan.
"Mbak! Mbak!!" Zenya berteriak, Pelayan itu pun terkejut
"Mohon maaf mbak, Ada yang bisa saya bantu" Pelayan itu meminta maaf, Ia melayani Zenya dengan bola mata yang terus menatap lurus ke arah Cristhopan.
"Mbak, Saya pesan Ice Cream sundae dengan topping stroberry Dua. Segera dibuat, Saya sedang banyak urusan!" Zenya sedikit memaksa.
"Baik Mbak, Akan segera kami siapkan" Ucap pelayan tersebut dengan bola mata yang masih belum berpaling.
"Ck, demam Cristhopan?! Aku malah ingin ia meleleh sekarang juga seperti Ice cream yang di abaikan, Cih!" Zenya mengumpat di dalam hatinya.
Pelayan tadi masih membatu dan belum bergerak untuk membuatkan pesanan Zenya,
__ADS_1
"Mbak! Mbak!! Ice cream saya mana?!" Zenya berteriak, tapi suara nya tak cukup keras di tengah riuh pikuk kegaduhan di tempat itu.
Zenya terus memanggil sang pelayan, hingga tak sadar Seorang Cristhopan sudah berdiri di sampingnya. Zenya merasa hawa dingin di bulu kuduknya, ia bergidik, Kala ia menoleh, Ia di kejutkan dengan wajah Cristhopan yang sudah menyeringai.
"Cih!" Decak Cristhopan santai.
Zenya membelalakkan matanya.
Cristhopan hanya tersenyum tipis.
"Tolong buatkan Ice cream sundae dengan topping stroberry" Cristhopan memesan, tak lupa dengan nada bicaranya yang angkuh.
Zenya menautkan kedua alisnya.
"Mbak! Punyaku lebih dulu memesan!" Zenya merungut, Semua orang yang berada disana terkejut, termasuk Velia.
"Dua Ice cream sundae dengan topping COKLAT!" Ucap Zenya dengan penuh penekanan, Tangannya ia angkat dengan dua jari yang sudah terangkat.
"Cih, Satu Ice cream sundae topping coklat" Cristhopan mencoba mempermainkan nya
"Saya dengan topping greentea!" Zenya tak mau kalah
"Saya juga sama" Cristhopan meledek
"Saya taro!" Zenya masih tak mau mengalah
"Saya pun taro"
"Saya brown sugar!"
"Brown sugar harus menjadi milik saya" Cristhopan tersenyum licik sambil menatap kedua bola mata Zenya yang sudah memancarkan laser ke arah Cristhopan
"SAYA MEMESAN APA YANG TIDAK DI PESAN OLEH TUAN INI!" Semua orang terkejut, tak terkecuali Velia, Ia menutup mulut dengan kedua tangannya, ia mendekat, ia menarik lengan Zenya.
"Zenya! Kau cari mati?!" Velia memekik
"Kenapa?" Zenya sudah tersulut emosi
"Kau pikir Tuan Cristhopan adalah orang yang bisa di singgung seperti itu?!" Velia melirik ke arah Crisrthopan, Cristhopan hanya tersenyum sinis.
"Huh!" Zenya membuang nafasnya kasar.
Ia mendengus sambil menatap tajam ke arah Cristhopan.
"Berikan pesanan Nona ini dengan segera"
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang selalu setia membaca Cinta Kedua ~
Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote.
Tambahkan juga sebagai Favorit, agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~
Terimakasih~
__ADS_1