
"Laksmi, mau kemana adikmu itu?" Nyonya Wijaya yang merasa curiga dengan sikap Pandu, mengikuti sang putra keluar ruang rawat Delvia.
"Entah lah ma, ngejar cewek kampung itu kali." Laksmi yang masih kesal, menjawab sekenanya.
"Maksud kamu Nilam? Gadis itu datang kemari? Kok bisa?"
Ucapan anaknya tentu membuat nyonya Wijaya terkejut. Dari mana karyawannya itu tahu apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai di tempat ini?
"Mi, kamu kasih tahu Nilam soal keberadaan kita di sini?" Tanya wanita paruh baya itu pada sang putri, dengan tatapan penuh curiga.
"Ng nggak lah ma ... Ngapain aku kasih tahu dia? Udah ah, aku lagi kesel. Gegara cewek kampung yang sok lugu itu, aku jadi berantem sama mas Dio." Tuturnya lalu meninggalkan sang mama.
Nyonya Wijaya merasa khawatir, Pandu akan melakukan hal nekat. Sudah cukup ia dibuat jantungan ketika anak laki-lakinya itu berniat menolak pernikahannya dengan Delvia. Bahkan ia dan sang suami, tuan Wijaya harus mengancam Pandu, agar mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Segera ia bergegas kembali ke ruangan calon menantunya.
"Pa, mama lapar. Temani cari makan yuk ...." Pintanya ketika ia sudah berdiri di dekat sang suami.
"Lapar? Bukannya baru beberapa dua jam yang lalu kita makan?"
"Heeee i iiya sih paah, tapi mama laper lagi gimana donk?"
Nyonya Wijaya memberi kode pada sang suami, agar mau mengikutinya keluar. Mengerti akan hal itu, tuan Wijaya pun berpamitan pada calon besannya.
__ADS_1
"Mau ngobrolin apa sih mah?"
Tanya pria paruh baya itu, setelah mereka duduk di salah satu coffee shop, di dekat rumah sakit.
"Paah, Pandu pergi lagi. Anak itu pergi mengejar Nilam." Ucap nyonya Wijaya resah. Ia juga sedikit takut, mengingat sang suami yang memilik riwayat sakit jantung.
Tuan Wijaya menarik nafas. Ia tidak terkejut lagi akan berita itu. Sebab sebelumnya ia sempat melihat karyawannya itu, berdiri di depan jendela kaca dan menatap ke arah mereka.
Dan saat melihat Pandu yang masuk ke dalam ruangan dengan terburu hanya untuk mengambil kunci mobil dan barang penting lainnya, ayah dua anak itu tahu kalau Pandu pasti akan mengejar Nilam.
"Paah ... Mama lagi ngomong, papa dengar nggak sih?" Nyonya Wijaya yang gusar akan keberadaan anaknya saat ini, merasa kesal saat sang suami menanggapi berita yang dia sampaikan dengan santai.
"Iya mah, papa dengar. Papa juga tahu kalau Pandu pergi mengejar Nilam."
"Justru karena dia udah mau nikah sama Via maah, dia harus bereskan masalahnya dulu. Jangan sampai kedepan ada hal-hal yang nggak diinginkan terjadi dalam rumah tangga mereka."
"Tapi kalau dia berubah pikiran, nggak mau melanjutkan pernikahan ini dan memilih Nilam gimana? Mama nggak mau ya, pernikahan ini gagal. Terlebih, ada calon cucu mama dalam kandungan Via."
"Nggak mungkin lah ma ... Nilam nggak akan mau sama Pandu, setelah dia liat semua ini." Bantah Tuan Wijaya.
Ia menarik nafas berat. Ada penyesalan yang perlahan meraba hatinya.
" Setelah semua ini terjadi, papa merasa menyesal mah, selama ini kita sudah mempermainkan perasaan anak orang. Dengan kita berpura-pura menyetujui hubungan mereka, tapi membiarkan Pandu menjalin hubungan lain di belakang gadis itu, secara tidak langsung kita sudah mengajarkan anak kita untuk tidak setia."
__ADS_1
Sesal tuan Wijaya, membuat sang istri terkejut.
"Jadi papa juga berubah pikiran begitu?" Tanya nyonya Wijaya, tidak terima.
"Nggak, ma ... Papa hanya menyesal, kenapa nggak dari dulu kita putuskan untuk tidak merestui Nilam, dan meminta gadis itu menjauhi Pandu secara baik-baik? Kenapa kita harus mempertontonkan keburukan di depan matanya seperti saat ini?"
Nyonya Wijaya tidak menanggapi apa yang suaminya ungkapkan. Dia tidak mengerti jalan pikiran laki-laki, yang sudah menemaninya lebih dari tiga puluh tahun itu.
"Mama nggak ngerti jalan pikiran dan isi kepala papa. Tapi yang pasti, papa harus hubungi anak itu dan katakan kalau dia sudah tidak bisa main-main lagi saat ini. Mama nggak mau keluarga kita malu, hanya gara-gara masalah ini. Dia sudah melakukan kesalahan, jadi dia harus mempertanggungjawabkannya." Tegasnya dengan wajah marah yang jelas terlihat.
Melihat sang istri yang begitu berapi, membuat tuan Wijaya menghela nafas berat. Inginnya, membiarkan Pandu membereskan semua masalah yang dibuatnya satu persatu. Namun desakan sang istri membuat ia terpaksa menghubungi sang anak yang saat ini entah sudah ada di mana.
Setelah selesai dengan sambungan teleponnya, laki-laki paruh baya itu menghentakkan tubuhnya di sandaran kursi. Merasa lelah dengan semua yang tiba-tiba terjadi.
Tanpa ia tahu, semua ini dikarenakan sang putri yang bekerja sama dengan Delvia untuk menghancurkan hati Nilam.
Kekacauan ini adalah hasil karya anaknya sendiri, dan dia harus merasakan kepalanya berdenyut demi menyelesaikannya.
^_________^^_________^^_________^
haiii kesayangan semua ... maafkan ya telat update hari ini.
jangan lupa dukungannya untuk Nilam yang lagi patah hati.
__ADS_1
mawar merah, secangkir kopi, pisau, kursi pijat, dan yang lainnya.