CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 93


__ADS_3

"Mas, tadi katanya mau cerita. Cerita apa?" Tanya Nilam mengawali obrolan seriusnya, setelah suasana di sekitarnya sepi.


Hanya deburan ombak dan temaram cahaya bulan sabit yang menemani keduanya di tempat itu.


"Nggak ada. Nggak ada yang menarik dalam hidup mas, yang perlu diceritakan, Lam."


"Jadi mas nggak mau cerita? Terus tadi pas di kost, apa?" Nilam merasa sedikit kecewa dengan sikap Bas yang seolah menyembunyikan sesuatu darinya.


Baskara tersenyum. Mengusap lembut rambut sebahu yang hanya terikat jedai kecil. Bahkan banyak anak rambutnya, meriap menutupi telinga gadis itu.


Baskara merapikannya. Menyatukan dan menata kembali mahkota berwarna hitam legam milik Nilam.


Gadis itu diam dan tidak menolak, membiarkan Baskara melakukan apa yang ingin dilakukannya. Hati Nilam berdebar lebih cepat, namun di sisi lain ada ganjalan yang membuat pikirannya bercabang.


Bas menarik dagu Nilam, agar tatapan mereka bertemu.


Laki-laki itu menatap intens wajah gadis yang dicintainya.


"Kamu tahu, Lam? Di dunia ini, seseorang yang ingin mas lihat senyumnya setiap saat adalah kamu. Bisa menjadi salah satu orang yang berarti dalam hidup kamu, adalah anugrah terindah untuk mas. Rasanya, apapun masalah yang mas hadapi tidak berarti apa-apa asal kamu tetap menemani langkah mas."


"Ck, gombal." Nilam menepis tangan yang menahan dagunya.


"Bukan gombal, tapi itu fakta." Tegas Baskara, meyakinkan.


Nilam tidak lagi menanggapi ucapan laki-laki di sampingnya itu. Meski meras kecewa, namun ia mencoba mengerti, pasti laki-laki itu memiliki alasan sendiri kenapa tidak berbagi cerita dengan dirinya.

__ADS_1


Malam semkin larut, angin yang berhembus membawa udara dingin, yang perlahan menusuk kulit. Di ujung langit, tampak kilatan cahaya berkedip menandakan cuaca akan segera berubah.


"Kayanya sebentar lagi hujan." Gumam Baskara.


"Kita balik aja, mas." Sahut Nilam menanggapi gumaman Bas.


Gadis itu sudah bangkit. Entah kenapa, suasana hatinya mendadak ikut berubah.


Ada rasa yang tidak bisa ia jabarkan. Merasa tidak dipercaya dan tidak dianggap oleh Baskara. Padahal akal sehatnya sudah mengingatkan, jika hal itu wajar. Mencoba memberi pengertian pada egonya, namun prasangka buruk, tetap saja menghinggapi hatinya.


"Kita cari makan dulu ya," ajak Baskara ikut bangkit dan menyusul Nilam yang sudah melangkah lebih dulu.


"Aku belum lapar, mas. Kalau mas mau cari makan, aku temenin aja ya." Sahut nilam.


Bas menarik tangan gadis itu. Tatapan tajamnya seakan menembus jantung Nilam, hingga debarannya dapat gadis itu rasakan.


Sangat berbanding terbalik dengan tatapannya yang tajam, suara laki-laki itu sarat luka dan kesedihan.


Nilam dapat merasakan kesedihan itu. Gadis yang memang memiliki hati yang sensitif itu, tanpa terasa meneteskan air mata melihat kerapuhan laki-laki di depannya.


"Maaf mas, aku nggak bermaksud bikin mas Bas jadi sedih. Aku hanya berharap mas bisa membagi bukan hanya kebahagiaan, tapi juga kesedihan sama aku. Aku hanya berharap bisa menjadi teman yang akan mas cari, bukan hanya disaat mas tertawa tapi juga saat mas butuh sandaran."


"Mas bahkan ingin menjadikan kamu teman hidup mas, Nilam. Bukan seseorang yang harus mas cari saat semua rasa itu datang menghampiri. Tapi seseorang yang memang menjadi saksi semua proses perjalanan hidup yang mas lewati. Hanya saja saat ini, mas harus memantaskan diri, agar layak menjadi pendamping dan penjaga untuk kamu."


"Mas layak, sangat layak dengan segala kurang dan lebih yang mas miliki saat ini. Jangan menjadi begitu sempurna, sebab aku juga banyak cacat dan cela, mas. Cukup lengkapi segala kurangku, dan aku akan menutupi segala kurangmu, mas" Sahut Nilam cepat.

__ADS_1


Senyum terukir di bibir Baskara. Jawaban Nilam barusan, adalah tanda jika gadis itu sudah bisa menerima dia, sebagai sosok yang dipilihkan orang tuanya untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.


Bas mengusap wajah Nilam dengan lembut. Gadis itu tidak menolak sentuhan tangannya. Justru mata Nilam terpejam, menikmati sapuan tangan yang mengusap lembut pipi putihnya.


"Terimakasih. Terimakasih sudah mau menerima mas dengan segala kekurangan mas."


"Selama itu bukan sebuah pengkhianatan, mari kita sama-sama belajar mengerti satu sama lain mas." ucap Nilam sembari membuka mata.


Gadis itu harus mendongak, agar bisa melihat mata kelam yang selalu menatap lembut ke arahnya itu.


Baskara mengangguk, setuju dengan apa yang gadis itu ucapkan.


Gerimis perlahan turun, seakan menjadi saksi ungkapan hati dua insan yang tengah mengikat janji.


Entah siapa yang memulai, dua benda kenyal saling bertaut bertukar saliva. Keduanya begitu menikmati penyatuan cinta yang mereka jalani. Ciummann yang bukan beralaskan nafsu, melainkan bentuk ungkapan rasa sayang dan buncahan perasaan yang selama ini mereka pendam.


Jemari mungil Nilam, meremat pinggang Baskara, saat dirinya hampir kehabisan nafas. Baskara mengusap sisa Saliva miliknya, yang membekas di sekitar bibir Nilam.


Saat tautan itu terlepas, Nilam menjadi salah tingkah. Ia bahkan tidak sanggup mengangkat kepalanya, sebab merasa malu. Menyadari hal itu,


Baskara meraih tubuh kekasihnya dan membawanya ke dalam pelukan.


"Mulai hari ini dan selamanya, Nilam Meira adalah milik Baskara. Begitu juga sebaliknya, mas adalah milik kamu seutuhnya." Ucap Baskara memeluk erat gadisnya.


Nilam tidak mengajukan protes atas ucapan Baskara. Dia hanya memberi reaksi dengan mengeratkan belitan tangannya di pinggang sang kekasih.

__ADS_1


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^



__ADS_2