
"Ada kejadian apa?" Cristhopan melonggarkan dasinya, Rahangnya sudah mengetat, Ia melihat tajam ke arah Billy yang sudah sangat menciut.
"Tadi, Aku dan Velia berbelanja kebutuhan di asrama" Zenya merasa tak enak untuk bercerita
"Lalu?" Cristhopan menunggu, Tangannya meraih sebatang rokok, Ia menyalakan rokok tersebut lalu menyesap nya perlahan.
"Sekalian belanja, akupun berbelanja untuk kebutuhan ku selama di Kota B. Awalnya baik-baik saja, Sampai akhirnya.." Zenya ragu untuk melanjutkan cerita nya
"Akhirnya kenapa?.."
"kita selesai berbelanja dan bergegas pulang, Ada seorang pria mengikuti kami dan- Dan ia di tikam dari belakang oleh orang lain" Cristhopan mengetatkan rahangnya, Matanya memerah, Ia memejamkan mata,
"Kenapa bisa sampai ada kejadian seperti itu?" Tanyanya dengan suara yang tenang, Namun ia terus melonggarkan dasinya, Bahkan membuka satu kancing kerah baju nya.
"Aku tidak tahu, Tapi ada seorang saksi yang melihat, Ia melihat Pria itu membuntuti kami saat kami baru saja melewati koridor, Ia semakin mendekat saat kami hendak berbelok, Saksi mata itu merasa ada yang ganjil, Akhirnya ia memutuskan untuk mengekor karna takut Pria itu berniat jahat, Tapi saat ia berbelok ia malah di kejutkan dengan sesosok pria lain yang menikam pria itu, Saksi mata itu berteriak sontak membuat Aku dan Velia terkejut. Aku dan Velia sangat terguncang, Pasalnya kita sama sekali tidak merasa di ikuti oleh kedua orang itu" Zenya menjelaskan secara detail mengenai masalah tadi, Ia ingin mengkonfirmasi bahwa kejadian tersebut memang hanya sebuah kebetulan dan sama sekali tidak ada sangkut paut dengan dirinya ataupun dengan Cristhopan.
Cristhopan belum bergeming, Ia mengepal erat telapak tangannya
"Kau sama sekali tidak merasa bahwa dirimu sedang di ikuti?" Cristhopan menyakinkan
"Iya, Aku dan Velia sama sekali tidak merasa di ikuti, Kita hanya berpikir kalau mungkin pria itu hanya kebetulan satu arah" Terdengar nada suara Zenya yang ketakutan, Hal itu membuat Cristhopan semakin kesal.
"Apa kau mempunyai masalah dengan orang lain?" Cristhopan mulai menginterogasi.
"Tidak, Aku rasa aku tidak pernah bermasalah dengan siapapun, Terkecuali dengan mu" Zenya terus terang
__ADS_1
"Ck, Kau memang gadis yang selalu jujur" Tungkas Cristhopan menyindir
"Aku bertanya soal Angeline karena aku merasa mungkin hal ini ada hubungannya juga dengan dia"
"Apa kau yakin Angeline gadis bodohh itu bisa mendapatkan orang yang profesional seperti ini?"
"Emh, Maksud mu?"
"Coba kau pikir, Orang itu bisa bergerak tanpa disadari oleh dirimu ataupun oleh temanmu, Apa kau pikir orang seperti itu bisa dianggap sederhana, Dan apakah kau pikir orang seperti itu bisa di beli dengan uang?" Zenya malah di buat bingung dengan ucapan Cristhopan.
"Hhhh, Sudahlah. Kau pasti tidak akan mengerti, Nanti perlahan akan ku ajari ilmu beladiri, Kedepannya kau harus punya rasa yang kuat. Menjadi seorang wanita yang berdiri di samping seorang Cristhopan Alexander tidak bisa dianggap remeh. Kau harus punya basic beladiri dan jangan pernah mempunyai rasa prihatin kepada orang lain" Zenya menghela nafas, Sekarang ia sudah yakin bahwa masalah ini tidak mudah.
"Baiklah Tuan, Kalau begitu kita bisa berbicara lagi nanti, Sekarang aku harus segera bersiap. Nanti aku akan mengabari jika akan berangkat"
"Baiklah, Jaga dirimu, Jangan sampai kau terluka. Jika sampai terluka kau harus mengganti denda yang tertulis di kontrak" Cristhopan menyeringai
"Kenapa? Kau berdecak padaku?"
"Ti-Tidak tuan, Sampai nanti. Aku mencintaimu- Tut"
Cristhopan terbelalak, Matanya membulat, Ia tak menyangka bahwa di akhir kata Zenya akan berbicara hal semanis itu.
"Dasar wanita licik, Dia sedang mengambil simpati ku?" Cristhopan menutup mulut menggunakan tangannya, Wajahnya memerah. Ia terlihat tersenyum-senyum sendiri, Melihat hal itu Billy menghela nafas
"Hhhh" Hembusan nafas Billy terdengar sangat jelas di telinga Cristhopan, Ia segera melirik tajam ke arah Billy
__ADS_1
"Kau harus bisa menjelaskan masalah ini dengan benar, Jangan sampai aku mengirimmu ke afrika" Billy mematung, dengan sangat terburu-buru ia segera mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam saku jas.
"Tuan, Ada seseorang yang sepertinya bergerak di dekat kita, Saya rasa mereka sudah mengamati kita cukup lama. Ini bukan suruhan dari Tuan Besar, Bukan juga suruhan dari orang luar. Saya dan tim belum bisa mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Dan saya sudah mengkonfirmasi, Nona Angeline memang mengalami luka sayatann di wajah, Lukanya cukup dalam dan pasti akan berbekas, Bukan pihak kita yang melakukannya, Saya rasa mungkin ada seseorang yang sengaja membuat drama seperti ini, Angeline dia gadis yang sangat ambisius, Dia juga pendendam, Jika orang yang melakukannya berbicara kalau ini semua adalah perintah dari Tuan, Sudah di pastikan bahwa Angeline akan dendam pada seseorang. Dan hal yang paling saya takutkan adalah, target orang itu bukan kita, Melainkan Nona Zenya." Cristhopan memejamkan matanya.
"Jadi, Memang tadi keparatt itu mencoba melukai Zenya?"
"Ya tuan, Ia membawa sebuah pisauu belatii. Orang-orang kami tidak bisa terlalu mendekat, Sebenarnya tadi bisa saja tidak membuat kegaduhan, Tapi seseorang datang memergoki, Akan semakin bahaya jika orang itu dilepaskan. Jadi, Orang kita menghadangnya langsung di tempat, Ia berkata jika orang itu mempunyai fisik yang sangat kuat, Luka seperti itu pasti tidak akan membunuhnyaa"
Cristhopan memijat pangkal hidungnya, Ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Orang itu mencoba menargetkan Zenya, Mereka tahu tentang kedekatanku dengan Zenya, Mungkin mereka menempatkan mata-mata di sampingku, Tapi siapa?" Cristhopan berpikir cukup keras. Ia masih merasa jika hal ini sangat ganjil.
"Billy, Aku rasa ini bukan sesuatu yang mudah. Orang ini mencoba mengontrolku dengan kelemahanku, Apa aku terlihat seperti sangat menjaga Zenya?" Billy terhenyak kala mendengar pertanyaan itu, Ia merasa canggung untuk berterus terang.
"Tuan, Saya tidak bisa banyak berkomentar, Saya rasa memang tuan sedikit memperlakukan Nona Zenya dengan istimewa. Tapi, Tidak banyak yang mengetahui hal tersebut. Dan lagi, Nona Zenya tidak seperti gadis yang lain, Ia sangat menyembunyikan hubungannya dengan Anda. Jadi tidak mungkin jika mata-mata itu mengetahui dari mulut Nona Zenya sendiri. Sahabatnya sendiri tidak ia beri tahu, Lain hal nya jika yang membocorkan hal ini adalah, Nona Angeline"
Cristhopan menghentikan aktifitasnya, Ia berpikir sejenak.
"Apa mungkin mereka sudah salah mengira?" Cristhopan menatap lurus ke arah Billy.
"Ya, Saya mengira mungkin kejadiannya seperti itu. Mereka menangkap Nona Angeline, Lalu melakukan hal kejam kepadanya, Nona Angeline pasti merasa bingung, Dan setelah mengetahui bahwa Nona Angeline bukanlah orang yang mereka cari, Mereka menghasut Nona Angeline agar memberikan mereka informasi dan menaruh kebencian pada hati Nona Angeline. Dilihat dari sifat dan temperamennya sudah pasti Nona Angeline akan termakan omongan mereka. Sekarang target sudah jelas" Billy mengutarakan pendapatnya dengan sangat lugas. Cristhopan memijat pangkal hidungnya, Ia sudah cukup marah dan khawatir mendengar cerita Zenya, Di tambah spekulasi yang dibicarakan oleh Billy sangat masuk akal.
"Sekarang jangan alihkan pandanganmu dari Zenya, Aku akan menyuruh seseorang untuk menangani masalahku"
"Baik Tuan"
__ADS_1
••••••••••••••••••••••••••••
Hy sahabat online~ Terimakasih kepada kalian yang setia membaca Cinta Kedua ~ Terus beri dukungan kepada Author ya, Dengan cara Like, koment, dan Vote. Tambahkan sebagai Favorit juga agar kalian tak ketinggalan Update dari Cinta Kedua~ Terimakasih~