CINTA KEDUA

CINTA KEDUA
BAB 58


__ADS_3

"Bagaimana kabar kamu nak? Gimana perkembangan hubungan kalian?" Pak Indra menatap laki-laki muda yang saat ini duduk di hadapannya.


Baskara tersenyum kecut. Ia tidak tahu harus berkata apa pada pria paruh baya itu.


Dari awal ia memang ragu untuk mendekati Nilam, meski sejak dulu ia menaruh hati pada gadis itu. Terlebih saat ini, ia jelas tahu ada laki-laki lain di hati Nilam.


"Ada apa?" Tanya pak Indra.


Baskara menggeleng, lalu ia menatap paman jauhnya itu sekilas sebelum akhirnya kembali melihat ikan koi yang saling berkejaran.


"Kami masih sama-sama muda paman, masih banyak hal yang harus diraih. Biarkan Nilam menikmati masa mudanya. Aku pun sama, ingin menikmati masa mudaku. Tapi paman jangan khawatir, aku akan selalu menjaga dia, meski dari jauh."


Pak Indra menatap baskara dengan mata menyipit.


"Kamu menemukan sosok lain yang membuat mu jatuh cinta? Tidak ingin menjadikan anak paman sebagai pendampingmu?" Tanya pria itu dengan raut kecewa.


"Jangan salah sangka paman, nggak ada wanita lain yang aku suka. Hanya saja, aku tidak ingin Nilam tertekan bila harus menjalani hubungan dengan terpaksa. Biarkan waktu yang mendekatkan kami."


"Kamu yakin?"


Baskara menjawab pertanyaan sang paman dengan anggukan.


Ia, dirinya yakin bila takdir memang menggariskan dia dengan Nilam berpasangan, akan ada jalan yang membuat ikatan itu terjadi. Namun bila tidak, ia pun tidak akan melawan kehendak sang pemberi nafas.

__ADS_1


Manusia bisa merencanakan apapun, tapi sekali lagi rencana itu berhasil atau tidak, kita hanya bisa memasrahkan pada pemilik skenario kehidupan.


"Paman sangat berharap kamu tidak mengecewakan laki-laki tua ini. Ingat, pembicaraan ini bukan baru kita bahas, tapi sejak dulu sudah paman sampaikan, paman tidak ingin Nilam bersanding dengan laki-laki yang tidak paman ketahui seluk beluknya." Pria itu menepuk bahu Bas beberapa kali.


"Iya paman, semoga kami memang berjodoh." Sahut Baskara.


Mereka menikmati kopi hitam yang di sajikan oleh Bu Sukma, lengkap dengan camilannya.


"Ngomong-ngomong, kapan kamu balik ke kota N?" Tanya pak Indra, memecah kesunyian.


"Aku nggak ke sana paman, mungkin akhir bulan baru bisa aku main ke tempat Nilam. Besok aku berangkat ke kota B, ada proyek baru juga di sana."


"Waaah semakin banyak ya proyek yang kamu dapat," ucap pak Indra dengan senyum sumringah.


Baskara tersenyum menanggapi.


"Pasti, paman selalu mendoakan kamu ... Dari dulu paman sudah yakin, kamu pasti akan menemukan jalan rejeki mu. Ingat selalu beryadnya (sedekah), jangan sombong, jangan takabur dengan apa yang kamu capai." Nasihat pak Indra.


Baskara sangat bersyukur, disaat kedua orang tuanya tidak terlalu perduli dengan keadaannya, masih ada sang paman yang selalu menuntun dan menjadi sandarannya.


Pria itu, yang mempercayakan anaknya untuk dia jaga, dengan tulus mendoakan keberhasilan dirinya.


'Aku janji paman, meski nnti Nilam bukan jodohku, aku akan tetap menjaganya seumur hidupku.' ucapnya dalam hati.

__ADS_1


***


Kehidupan terus berjalan, waktu terus berlalu, seiring siang berganti malam.


Pandu sebisa mungkin memberi yang terbaik untuk Nilam. Berharap, Tuhan mau menutup cela yang pernah ia lakukan, memberi sekali lagi kesempatan untuk memperbaiki diri.


Namun apa yang sudah tercatat dalam lembar kehidupan tak mudah terhapuskan. Jejak yang tertuang tetap akan meninggalkan bekas, sehebat apapun kamu coba membersihkannya.


Apa yang pernah tersentuh, tak lagi bisa menjadi murni.


Yang bisa dilakukan adalah jujur mengakui, dan menerima semua sebagai proses pendewasaan diri.


Namun Pandu tidak menyadari itu. Ia mengira, Nilam tidak akan pernah tau kecurangan apa yang ia buat di belakang gadis itu.


Buka perkara mudah bila sampai gadis itu tahu, sebab sejak awal ia mendekati Nilam, hal paling utama yang gadis itu inginkan darinya adalah kesetiaan.


"Pandu," sapa Delvia ketika ia melihat pria itu masuk ke dalam kafe.


Wajah Pandu berubah seketika. Senyum ramah yang semula ia perlihatkan pada pengunjung, menjadi begitu dingin ketika ia menatap sang sahabat, lebih tepatnya mantan sahabat.


"Untuk apa lagi kamu kemari?" Tanyanya, tanpa melihat ke arah lawan bicara.


"Kamu kenapa Pan, apa salah aku hingga kmu mengacuhkan aku selama ini? Bahkan kamu tega nge blok nomor aku ...."

__ADS_1


"Kamu nanya, apa salah kamu? Kmu masih punya otak untuk berpikir bukan, tanya diri kmu sendiri sebanyak apa kesalahan yang sudah kmu lakukan di hidupku?" Ketus Pandu, kemudian meninggalkan Delvia, yang masih terdiam di tempat semula.



__ADS_2